Arab Saudi Tak Lagi Pekerjakan PRT dari Indonesia

Unjuk rasa Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI) didepan Kedutaan Besar Saudi Arabia, Jakarta (19/11). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO Interaktif, Jakarta – Kerajaan Arab Saudi memutuskan tak mempekerjakan lagi buruh migran asal Indonesia dan Filipina karena pemerintah kedua negara memberlakukan persyaratan yang ketat dan tidak adil. “Kementerian Tenaga Kerja Arab Saudi berhenti mengeluarkan visa kerja bagi pekerja rumah tangga untuk Indonesia dan Filipina sejak Sabtu, 2 Juli 2011,” kata juru bicara Departemen Tenaga Kerja Arab Saudi, Hattab Bin Saleh Al-Anzi, kepada media setempat, Rabu 29 Juni 2011.

Al-Anzi mengatakan agen perekrut tenaga kerja Saudi akan merekrut pekerja domestik, termasuk pembantu rumah tangga, dari negara lain selain Indonesia dan Filipina. Menurut laporan yang diterima Arab Saudi, Pemerintah Indonesia melarang warganya menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi usai eksekusi mati tenaga kerja wanita Indonesia, Ruyati binti Sapubi.

Larangan ini akan diberlakukan pemerintah pada 1 Agustus 2011 sampai Pemerintah Arab Saudi setuju menandatangani nota kesepahaman itu demi melindungi hak-hak buruh migran Indonesia di sana.

Hattab Bin Saleh Al-Anzi mengatakan saat ini Arab Saudi telah menjalin kerja-sama dengan negara lain untuk memenuhi kekurangan pembantu rumah tangga setelah penghentian perekrutan buruh migran dari Indonesia maupun Filipina. Di antaranya, dari Bangladesh, Ethiopia, India, Nepal, Eritrea, Sri Lanka, Mali, dan Kenya.

Arif Jamal, agen perekrutan tenaga kerja asal Indonesia untuk Saudi, Ahad, mengatakan keputusan Arab Saudi menghentikan pemberian visa bagi pekerja migran perempuan Indonesia akhirnya akan menutup semua pintu perundingan. Keputusan Arab Saudi ini berlaku untuk menunda perekrutan pekerja migran perempuan dari Filipina setelah negara itu juga mengajukan beberapa persyaratan yang ketat pada perekrutan pembantu rumah tangga.

Baca Juga :  Korea Memanas - Jepang Desak China 'Bungkam' Korut

Atase tenaga kerja Kedutaan Filipina di Riyadh, Albert T. Valenciano, menyatakan kesedihannya dan tidak percaya atas keputusan Kerajaan Arab Saudi tersebut. Valenciano mengatakan Kedutaan Filipina telah mengirim draft catatan untuk Kementerian Luar Negeri Saudi pada 19 Juni yang meminta agar digelar pertemuan tindak lanjut bersama, tapi belum ditanggapi Pemerintah Saudi.

Data Pemerintah Filipina, sebanyak 1,2 juta warganya bekerja di Arab Saudi dan sekitar 15 persen atau 180.000 di antaranya adalah pekerja domestik seperti pembantu dan sopir. Adapun tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi lebih dari satu juta jiwa, sebagian besar sebagai pembantu rumah tangga.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*