Arist Merdeka Sirait: Tambahkan Hukuman ‘Kebiri’ bagi Pelaku Kejahatan Seksual

Jakarta, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengusulkan tambahan hukuman untuk pelaku kejahatan seksual yaitu kebiri dan suntik kimia. Baginya, kejahatan seksual telah menjadi masalah darurat di Indonesia.

Apalagi, belakangan ini, kasus kejahatan seksual kerap kali terjadi di sekolah dan korbannya merupakan anak. Hal tersebut disampaikannya di Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA), Jakarta Timur, pada Jumat (6/6).

Selain usulan pemberatan hukuman, Arist juga menganggap perlunya dibentuk Kementerian Khusus Perlindungan Anak. Lebih lanjut, terang Arist, ada dua hal yang harus direvisi yaitu Kitab UU Pidana Pasal 290 dan 292 yang menyebutkan kata pencabulan. “Itu kita mau ganti menjadi kejahatan seksual dan hukuman maksimal seumur hidup dan minimal 20 tahun. Demikian juga terhadap amandemen UU Perlindungan Anak pasal 82 itu. Supaya sinkron, 15 tahun diganti jadi seumur hidup. Tiga tahun diganti jadi 20 tahun,” terang Arist.

“Bila dilakukan oleh orang terdekat, maka perlu suntik kimia atau kebiri. Saya kira itu salah satu untuk mencegah kejahatan seksual lama hukuman pun harus ditambah,” ujar Arist.

Arist mengeluhkan belum adanya terobosan-terobosan yang dilakukan hakim. “Misalnya, dalam kasus kemarin, JIS posisinya menang. Memecat dirjen lalu mendeportasi guru dan mengalihkan isu seolah-olah itu bukan kejahatan seksual tetapi justru izin tinggal dan mengajar,” keluh Arist. (dtc) / (Analisa).

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  PASADA Sebar 134 Spanduk Tolak Politik Uang di Kabupaten Samosir

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*