Awas…, Discount Palsu

Medan. Meski Hari Raya Idul Fitri tahun ini masih dua minggu lagi, namun masyarakat sudah tampak berbondong-bondong menuju ke pusat perbelanjaaan, baik di pasar tradisional maupun di mal-mal.

Kepadatan kunjungan masyarakat terlihat di beberapa mal, seperti Medan Mall dan Medan Fair Plaza, mulai dari area parkir yang sudah tidak bisa menampung kendaraan roda dua lagi. Pasalnya, tidak hanya bazaar, namun hampir semua toko yang ada di mal-mal tersebut menawarkan harga diskon atau potongan harga kepada pengunjungnya. Diskon yang ditawarkan mulai dari 20 persen hingga 80 persen.

Direktur Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK), Farid Wajdi mengatakan, diskon merupakan satu cara menarik minat pembeli. Karena itu, pemerintah perlu menerapkan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen atas promosi diskon oleh setiap usaha pedagang atau ritel, agar diskon tidak menjadi alat menipu konsumen.

“Sebab secara psikologis konsumen tergiur dengan promosi diskon. Promosi diskon sangat sensitif terhadap harga. Biasanya, begitu ada diskon harga besar-besaran mudah lupa, misalnya lupa sikap teliti dan longgar kewaspadaan terhadap berang yang dibeli,” ujarnya Rabu (16/7).

Menurutnya, masyarakat harus berhati-hati terhadap tawaran diskon besar tetapi sesungguhnya palsu. Misalnya apakah benar ada diskon hingga 70 persen dari harga sesungguhnya. Sebab, menurutnya, sebenarnya keadaan itu sudah tidak rasional lagi. Hal itu, dikarena tidak mungkin harga barang hanya 30% dari harga jualnya, sebab jika itu yang sebenarnya maka pedagang atau penjual dipastikan merugi.

Baca Juga :  SBY: Saya Bertanggung Jawab atas Grasi Ola

“Diskon biasanya diberikan karena pedagang telah mencapai break even point atau posisi impas penjualan meski ada produk yang memang mengalami potongan harga. Namun, banyak juga produk yang didiskon setelah harga dinaikkan terlebih dahulu. Makanya perlu diwaspadai, dicermati dan diawasi pemerintah. Jadi, jika diskon besar-besaran yang diberikan pasti ada sesuatu,” pungkasnya.

Misalnya, lanjut Farid, produk itu mengandung cacat yang tersembunyi atau barang reject atau rusak. “Mungkin kualitasnya tidak sebanding dengan harganya, misalnya harga kaos Rp 300.000 tetapi bahannya tipis. Kaos itu didiskon besar-besaran hingga harganya cuma Rp 100.000, padahal harga aslinya jauh di bawah Rp100.000. Jadi, sebenarnya pembeli sama sekali tidak mendapat potongan harga,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini jelas merugikan pembeli. Selain tertipu, jika mereka tidak hati-hati bisa terjebak pada perilaku belanja berlebihan (konsumtif) hingga berujung pada pemborosan, dan dapat terjerat utang. Oleh karena itu, agar tidak mudah terjebak iming-iming diskon, hingga kadang membeli barang yang tak begitu dibutuhkan, lebih baik masyarakat menentukan proritas.”Selain itu, sebaiknya berbelanjalah dengan pikiran jernih agar tak timbul penyesalan setelah berbelanja,”imbuhnya.

Sementara Advertising dan Promotion Plaza Medan Fair, Tri Wahyudi membenarkan, memang menjelang Lebaran seperti ini, pengunjung meningkat. Mereka berama-ramai membeli kebutuhan Lebaran. Karena, momen menjelang Lebaran ini memang sejumlah tenant di Plaza Medan Fair menawarkan diskon hingga 80 persen. (prawira)/MedanBisnis –

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  ICW: Sudjiono Timan Dibebaskan, Musibah bagi Upaya Pemberantasan Korupsi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*