AWAS…..!! Flu Burung kembali Mewabah di Tapsel

Kamis, 29 Oktober 2009 – www.metrosiantar.com

FLU BURUNG- Akibat kematian mendadak 500 ekor ayam akibat virus flu burung, petugas medis dari Dinas Kesehatan Tapsel melaksanakan sosialisasi penyuluhan penanganan virus flu burung di Desa Sorik, Kecamatan Batang angkola, Rabu (28/10)

500 Ekor Mati Mendadak, Dinkes Waspada
TAPSEL-METRO; Sejak seminggu terakhir sedikitnya 500 ekor ayam mati mendadak di Desa Sorik Kecamatan Batang Angkola, Tapanuli Selatan. Ironisnya kematian ayam mendadak lebih dulu terjadi di Desa Pintu Padang lalu berpindah ke Desa Pasar Lama Sigalangan. Sementara Dinas Kesehatan sudah memastikan bahwa kematian ayam tersebut akibat virus flu burung.

Kadis Kesehatan Tapanuli Selatan yang dikonfirmasi melalui Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Masalah Penyakit (PMK), dr Ismail Fahmi Ritonga Mkes, Rabu (28/10) mengatakan, sesuai laporan yang diterima pihaknya dari dinas peternakan, ayam-ayam tersebut mati akibat virus flu burung. Namun, kata dr Ismail, belum diketahui pasti jenis virus flu burung apa yang menyebabkan kematian ayam-ayam tersebut.

“Sampelnya masih di kirim ke Medan untuk diuji di laboratorium agar diketahui pasti penyebab kematian ayam-ayam tersebut,” kata dr Ismail yang mengaku baru melakukan sosialisasi dan penyuluhan.

Dikatakan dr Ismail, pihaknya sudah memeriksa warga di Desa Sorik untuk mengetahui apakah ada yang suspect virus flu burung.

“Tapi sejauh ini belum ada warga yang suspect virus flu burung. Dan jika ada kita akan fokus untuk penanganan. Tapi sekali lagi belum ada masyarakat yang menderita gejala-gejala flu burung seperti demam tinggi mendadak dan lainnya,” katanya.

Lebih jauh diterangkan dr Ismail, jika nantinya ada warga yang menderita gejala-gejala demam tinggi, menggigil, atau gejala flu influenza, maka untuk memastikan apakah yang bersangkutan terjangkit flu burung, harus didata daftar riwayatnya, apakah yang bersangkutan pernah bersentuhan dengan ayam yang mati mendadak tersebut.

“Selai itu kita akan data, apakah rumah yang bersangkutan dekat dengan kandang ayam yang mati mendadak tersebut. Nah baru setelah itu kita bisa buat kesimpulan. Tapi jika demam tanpa ada riwayat pernah bersentuhan dengan ayam yang mati mendadak itu, maka hal tersebut kecil kemungkinannya terjangkiti,” ujarnya.

Masih menurut dr Ismail, sesuai laporan dari dinas peternakan, kematian ayam secara mendadak lebih dulu terjadi di Desa Pintu Padang kemudian pindah ke Desa Pasar Lama Sigalangan dan selanjutnya pindah lagi ke Desa Sorik. Ketiga desa itu sendiri masuk dalam wilayah Kecamatan Batang Angkola dan menyebabkan sekitar 500 ekor ayam mati mendadak.

Baca Juga :  Dana Pembangunan Jalan dan Jembatan Rp. 14 M

“Untuk menghindari penyebaran virus flu burung, kita sudah kubur ayam yang mati itu. Kita juga sudah kirimkan surat edaran kewaspadaan dini kepada 18 puskesmas se-Tapsel dan kecamatan-kecamatan untuk disosialisasikan kepada warga. Ini untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.

Sementara itu Sekretaris Dinas Peternakan, Ir Amir Salim melalui telepon selulernya membenarkan hal tersebut. Pihaknya, kata Ir Amir, sudah melakukan penyemprotan di Desa Sorik dan beberapa desa tetangganya untuk menghindari penyebaran virus. Begitupun, kata Ir Amir, pihaknya belum dapat memastikan jenis virus flu burung yang menyebabkan kematian ayam-ayam tersebut.

“Langkah yang pertama kali yang kita lakukan adalah melakukan penyemprotan untuk menghindari penyebaran makin meluas. Dan sejauh ini tidak ada kita temukan korban jiwa, yang pasti sudah kita tangani,” katanya. (phn)

TENTANG FLU BURUNG

Virus H5N1 merupakan jenis virus flu burung yang sangat ganas, yang menjadi penyebab utama penyakit pada unggas. Virus ini pernah ditemukan juga pada babi dan kucing, tetapi tidak menimbulkan gejala sakit pada hewan tersebut. Sampai dengan saat ini, belum ditemukan bukti ilmiah bahwa kedua jenis hewan tersebut bertindak sebagai sumber penularan virus H5N1.

GEJALA KLINIS – MANUSIA

Gejala-gejala awal flu burung seringkali sama dengan influenza musiman manusia (batuk, sakit tenggorokan, demam tinggi, sakit kepala, sakit otot, etc). Penyakit ini dapat berkembang menjadi pneumonia dimana mungkin akan terjadi, kekurangan angin, susah bernafas dan gagal pernafasan. Apabila anda merasa telah terpapar dengan flu burung dan anda mulai menunjukkan gejala-gejala menyerupai influenza, segeralah cari perhatian medis. Sumber: WHO

GEJALA KLINIS– BURUNG

Gejala klinis (Tanda-tanda kesehatan) penyakit ini sangat beragam dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat keganasan (virulensi) virus yang menginfeksi, spesies yang tertular, umur, jenis kelamin, penyakit lain yang menyertainya dan lingkungan.

Pada tipe (jenis ) AI yang virulen (sangat patogen) yang biasanya dikaitkan dengan “fowl plaque’ (sampar unggas), penyakitnya muncul secara tiba-tiba pada sekelompok unggas dan mengakibatkan banyak unggas mati baik tanpa disertai oleh adanya tanda-tanda awal atau hanya ditandai oleh gejala klinis yang minimal seperti depresi, kurang selera makan (hilangnya nafsu makan), bulu kusam dan berdiri serta demam.

Baca Juga :  Ratusan Pedagang Sayur Datangi Kantor Walikota Sidimpuan

Unggas lainnya terlihat lemas dan berjalan sempoyongan. Ayam betina mula-mula akan menghasilkan telur dengan cangkang (kulit telur) lunak, namun kemudian akan segera berhenti bertelur. Unggas yang sakit seringkali terlihat duduk atau berdiri dalam keadaan hampir tidak sadarkan diri dengan kepala menyentuh tanah. Jengger dan pialnya terlihat berwarna biru gelap (cyanotic) dan bengkak (oedematous) serta mungkin menunjukkan adanya bintik-bintik pendarahan di ujungnya. Diare cair yang parah seringkali terjadi dan unggas terlihat sangat haus. Pernapasan terlihat berat (sesak napas). Bintik-bintik perdarahan sering ditemukan pada kulit yang tidak ditumbuhi bulu. Tingkat kematiannya berkisar antara 50 sampai 100%.

Pada ayam potong, gejala penyakitnya seringkali tidak begitu jelas, yang mula-mula ditandai oleh depresi parah, berkurangnya nafsu makan, dan peningkatan jumlah kematian yang nyata. Kebengkakan (oedema) pada wajah dan leher serta berbagai gejala gangguan saraf seperti leher berputar (torticollis) dan gerakan yang tidak terkoordinasi (ataxia) juga mungkin terlihat. Gejala yang tampak pada kalkun mirip dengan gejala yang terlihat pada ayam petelur, namun penyakitnya berlangsung 2 atau 3 hari lebih lama dan kadang-kadang disertai oleh pembengkakan pada sinus hidung. Pada itik peliharaan dan angsa gejala depresi, kurang nafsu makan dan diarenya mirip dengan gejala pada ayam petelur meskipun seringkali disertai dengan pembengkakan pada sinus hidung. Unggas-unggas muda bisa menunjukkan gejala-gejala gangguan saraf.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*