Awas Terjebak di Batu Jomba, Desa Bulu Payung, Kec. Sipirok, Tapsel

Kamis, 15 Oktober 2009 (www.metrosiantar.com)

MACET 10 JAM- Akibat hujan deras sejak Selasa (13/10) Jalinsum Batu Jomba berlumpur sehingga sulit dilintasi kendaraan. Seperti pada poto, satu unit truk terperosok di badan jalan yang berlumpur sehingga menyebabkan kemacetan selama 10 jam.

Macet 10 Jam Akibat Jalan Berlumpur
SIPIROK-METRO; Untuk pertama kali pascalebaran, Jalan Lintas Sumatera di titik Batu Jomba, Desa Bulu Payung, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan kembali mengalami kemacetan sekitar 10 jam, Selasa (13/10) mulai pukul 23.00 WIB hingga Rabu (14/10) pukul 09.00 WIB. Kemacetan ini terjadi akibat hujan deras mengguyur sehingga jalan berlumpur dan lembek.

“Sejak malam sekitar pukul 23.00 WIB sudah terjadi kemacetan. Ini terjadi setelah satu unit truk terpuruk di lumpur yang ada di tengah jalan,” ungkap sejumlah warga di lokasi macet.

Pantauan METRO, Rabu (14/10) sekitar pukul 07.00 WIB, kendaraan belum bisa keluar dari kemacetan kendati jalur jalan sempat dialihkan warga ke sisi kiri tebing dari arah Tarutung menuju Sipirok. Kemacetan ini tidak bisa dipecahkan akibat para pengendara kurang bersabar dan selalu saling serobot agar kendaraannya bisa melintas. Sementara aparat kepolisian tampak belum berada di lokasi kemacetan.

Namun setelah personil kepolisian tiba di lokasi sekira pukul 10.00 WIB, akhirnya truk yang terpuruk dapat dikeluarkan dan arus lalu-lintas kembali normal.

Kepala Desa Bulu Payung, Ranto E Simanjuntak pada METRO mengatakan, kemacetan dipicu hujan yang turun sejak Selasa (13/10) sore hingga malam hari yang mengakibatkan truk terpuruk di timbunan tanah bekas drainase yang sudah berlumpur.

“Memang awalnya kemacetan terjadi akibat badan jalan mulai menyempit akibat lembeknya jalan. Nah setelah itu truk dari arah Tarutung menuju arah Sipirok terpuruk dan menghalangi hampir seluruh badan jalan. Untuk mengantisipasi kemacetan warga sempat mengalihkan jalur ke sisi kiri dan kendaraan kecil bisa melewatinya, namun lama-kelamaan pengendara saling serobot dan kemacetan tak terhindar,” ujarnya.

Baca Juga :  DPRD Sumut Sepakat Lakukan Pemekaran Mandailing Natal

Salahseorang sopir taksi, Pandy (32) mengaku sudah tiba di jalur macet Rabu (14/10) subuh sekitar pukul 05.00 dan baru bisa lewat sekitar pukul 09.00 WIB. “Memang Batu Jomba semakin parah bahkan lebih rawan macet dari pada Aek Latong, apalagi di musim hujan,” katanya.

Kakak-beradik Jalan Kaki

Akibat kemacetan itu kerugian waktu dialami para penumpang. Seperti Nia (28) dan Ira (25). Kakak-beradik yang berdomisili di Batam ini berangkat dari Medan hari Selasa (13/10) malam sekitar pukul 20.00 WIB. Namun taksi yang mereka tumpangi terjebak kemacetan di Batu Jomba dan jauh di belakang mobil yang mengantri.

Karena kakak-beradik ini hendak cepat sampai di kampungnya di Muara Tais, Kecamatan Angkola Selatan, melayat abangnya yang meninggal dunia, keduanya pun mencoba berjalan kaki agar sempat melihat persemayaman abangnya.

“Mobil kami jauh di belakang, padahal kami tiba di sini sejak Rabu pukul 05.00 WIB. Kami khawatir tidak bisa melihat almarhum abang kami sebelum dikebumikan,” kata keduanya lirih yang berencana berjalan kaki menuju Sipirok.

“Padahal kalau ditempuh dengan jalan kaki, jarak dari Batu Jomba menuju Sipirok sekitar 11 km. Kami sudah berjalan sekitar 2 km. Barang-barang sudah kami titip di dalam taksi,” sambung keduanya lagi.

Kedua kakak-beradik ini kemudian diantar wartawan koran ini hingga ke persimpangan menuju desanya. Dan saat itu pula taksi yang sebelumnya mereka tumnpangi sudah bebas dari kemacetan. Akhirnya keduanya diantar sampai tujuan.

Baca Juga :  Daftar Pencetak Gol Terbanyak Piala Dunia Sepanjang Sejarah

Amatan METRO di lokasi kemacetan tampak sekitar 100 meter mobil mengantri. Sementara beberapa warga, penumpang, dan pengendara meminta agar dinas terkait segera menangani penyebab kemacetan agar arus lalu-lintas kembali normal. (ran)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*