Bagi Pesepak Bola Afrika, Indonesia adalah “Surga”

Dok. Liga Indonesia Striker Persipura Jayapura asal Liberia, Eddie Foday Boakay.

JAKARTA, Meski karut marut masih mewarnai persepakbolaan Indonesia, ternyata bagi sebagian pesepak bola Afrika, Indonesia masih dianggap sebagai tempat yang menarik bahkan “surga” bagi mereka yang mau mencoba peruntungannya.

Salah satunya Jules Ako, mantan pesepak bola asal Kamerun. Ako pernah membela Kamerun di Piala Dunia 1990, pernah bermain untuk beberapa klub sepak bola di Indonesia.

Setelah pensiun dari lapangan hijau, Ako kemudian mendapatkan lisensi FIFA sebagai agen pemain. Sejak berstatus agen, Ako banyak berurusan dengan pesepak bola Afrika yang ingin memperpanjang karier mereka di Indonesia ketimbang pensiun dini.

Ako menjelaskan, usia ideal untuk bermain di Indonesia adalah antara usia 27 hingga 32 tahun, yang sudah “hampir habis” dan bisa membawa pengalaman mereka untuk membantu pemain sepak bola Indonesia.

Dengan jujur, Ako mengakui bahwa sebagian besar pesepak bola Afrika masih menganggap Eropa sebagai “tanah suci” sepak bola yang bisa menawarkan uang dan ketenaran. “Namun bagi para pesepak bola Afrika di Indonesia, Eropa sudah masa lalu,” ujar Ako.

Pemain Afrika lain yang merumput di Indonesia adalah Perfect Ebang asal Gabon. Dia datang ke Indonesia pada 1997 dan awalnya Ebang berniat menjadikan Indonesia sebagai batu loncatan karier sepak bolanya.

“Lalu saya mendapatkan gaji lumayan dan saya kemudian memutuskan untuk melanjutkan karier di sini (Indonesia),” kata Ebang.

Baca Juga :  IKMMT (IKatan Mahasiswa Muslim Tapanuli) Universitas Bengkulu, Menggalang Dana Untuk Korban Banjir Madina

Ebang mengatakan, dia sudah lelah menantikan terwujudnya janji para agen soal bermain di klub-klub profesional Eropa.

Main di Indonesia, buka usaha di Afrika

Ternyata bermain sepak bola di Indonesia cukup menguntungkan. Perfect Ebang mengatakan, gaji yang diperolehnya dari membela beberapa klub Indonesia cukup untuk membuka usaha di Afrika.

“Di Afrika kami tak dapat apa-apa. Lima tahun main di Indonesia, saya memiliki cukup uang untuk memulai usaha di kampung halaman,” ujar Ebang.

Di Eropa, lanjut dia, pesepak bola jika sudah memasuki usia 30 tahun maka nilainya akan jauh menurun. Jadi akan lebih baik jika melanjutkan karier sepak bola lima sampai enam tahun lagi di Indonesia.

Namun, para pesepak bola Afrika itu sepakat bahwa sepak bola Indonesia tak baik untuk pemain muda. “Sepak bolanya keras, strukturnya kacau, sehingga tak baik bagi pemain muda untuk berada di Indonesia,” kata Ako Jules yang pernah bermain di Indonesia dan Malaysia.

Akan tetapi, sekali lagi, gaji dari bermain sepak bola di Indonesia —meski jauh di bawah standar Eropa— masih sangat memadai.

“Saya pernah mengatakan gaji pemain sepak bola di Indonesia kepada kawan yang sekarang masih bermain di Eropa. Dan dia terkejut dengan jumlah gaji yang sangat lumayan itu,” kata Jules.

Dan yang jelas para pesepak bola Afrika ini sangat kagum dengan atmosfer sepak bola Indonesia.
“Mereka (pesepak bola di Eropa) harus melihat stadion di Indonesia. Gila!” ujar Perfect Ebang./KOMPAS.com —

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  IDI Tapsel Bagi-bagi Mawar dan Brosur Bahaya HIV AIDS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*