Bahasyim Dituntut 15 Tahun Penjara

Bahasyim Assifie, eks PNS Direktorat Jenderal Pajak, dituntut 15 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Fachrizal di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (17/1). Terdakwa kasus pencucian uang dan korupsi senilai Rp 64 miliar, dan pemerasan Rp 1 miliar ke salah seorang wajib pajak itu dinyatakan jaksa terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang.
“Menghukum terdakwa Bahasyim Assifie dengan pidana penjara lima belas tahun dikurangi masa tahanan. Dan menghukum terdakwa dengan pidana denda Rp 500 juta,” ujar Jaksa Penuntut Umum Fachrizal. Sidang  diketuai Ketua Majelis Hakim  Didik Setio Handono dengan Jaksa  penuntut  Fachrizal, Feri Mupahir dan Sutikno.

Dalam tuntutannya, Jaksa menilai terdakwa terbukti menerima hadiah dan janji yang berhubungan dengan jabatannya dan tindak pencucian uang.   Selain juga dia dinilai tak mampu menjelaskan asal usul  uang yang dimilikinya karena memanfaatkan kedudukan dan jabatan struktural di Ditjen Pajak.” Termasuk uang Rp 60 miliar dan USD 681.147,37 serta tanah di daerah Cicurug, Menteng, Jakarta Pusat senilai Rp8,37 miliar,” kata Jaksa.

Jaksa juga menilai adanya tindak pidana korupsi senilai Rp 1 miliar yang diapat dari saksi Kartini Mulyadi. Pada tanggal 3 Februari 2005, terdakwa menemui Kartini di kantornya lantai lima gedung Bina Mulia Kuningan. Terdakwa terbukti meminta uang Rp 1 miliar yang diserahkan oleh bawahan Kartini, Cendani Kusuma Phoe. Saat itu Bahasyim menjabat sebagai Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Jakarta Tujuh. Bahasyim lalu mentransfer uang tersebut kepada rekening istrinya Sri Purwanti.

Baca Juga :  Sri Sultan: Lereng Merapi Kusam, Seperti Tak Ada Kehidupan

Hal yang memberatkan tuntutan adalah perbuatan terdakwa menghambat rencana pemerintah memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme, terdakwa tidak ada penyesalan, memberi keterangan berbelit-belit di muka persidangan, dan telah menikmati hasil perbuatan. Adapun hal yang meringankan, Bahasyim sopan selama di persidangan, belum pernah dihukum sebelumnya, dan telah mengalami operasi transplantasi ginjal.

Bahasyim melanggar Pasal 3 ayat 1 Huruf a UU No 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Bahasyim dijerat dengan pasal pencucian uang terkait dugaan bahwa dengan sengaja menyimpan harta yang diduga hasil pidana ke bank, baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain dengan tujuan menyembunyikan asal-usul kekayaannya.

Bahasyim juga terbukti telah melanggar pasal 11 undang-undang nomer 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi, dengan menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya atau janji tersebut ada hubungannya dengan perbuatannya.
Namun dalam berbagai persidangan, Bahasyim mengelak berharta sedemikian besar. Ia berdalih, duit itu dikumpulkannya sejak 1972 dari berbagai bisnis. Bahasyim sempat bekerja di Dirjen Pajak selama tiga puluh tahun, sebelum akhirnya dipindahtugaskan ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Ia terseret ke meja hijau setelah Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menemukan keluarganya berduit ratusan miliar. (tempinteraktif.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Tsunami Terjadi di Pulau Pagai, Warga Masih Mengungsi di Bukit

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*