Balita Tewas Hanyut di Bondar Batunadua

“Oih Reihan, Reihan, Oih Ompung” teriak histeris keluarga sahut-bersahutan dari dalam rumah kontrakan di Lingkungan II, Kelurahan Batunadua Jae, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, Sabtu (20/6) siang kemarin.

Reihan, anak bawah lima tahun (Balita) pasangan Anwar Lubis (27) dengan Riski Ramadhani ini tewas setelah hanyut sejauh lebih dari 100 meter di bondar (parit besar saluran irigasi-red) yang memiliki lebar 2,5 meter dan dalam kurang dari 30 centimeter dari Lingkungan I hingga ke Lingkungan II di Batunadua Jae itu, Sabtu siang sekira pukul 12.30 Wib.

Informasi dihimpun awak media, peristiwa yang menelan jiwa anak pertama dan tunggal itu berawal ketika kedua orangtua dan korban bertamu di rumah kerabat mereka di Lingkungan I, Batunadua Jae tersebut. Tersentak, mereka menyadari anaknya tidak lagi bersama mereka di rumah yang berjarak sekira 15 meter dari saluran air yang berhilir dari Sungai Batang Ayumi itu.

“Kami mencari selama setengah jam, di bondar itu pun tidak ada. Padahal di bondar itu ramai orang yang mencuci, kok bisa tidak ada yang melihat,” ungkap salah seorang anggota keluarga sembari menyebut mereka juga sempat memeriksa dari bawah titian berjumlah 3 di atas irigasi itu.

Begitupun saat awak media menelusuri warga di sepanjang irigasi itu, tidak ada yang melihat balita yang berusia 1,5 tahun itu terhanyut. “Dari warga tidak ada yang melihat jatuh, hanyutnya,” ungkap Kepling I, Saroha Harahap (40).

Baca Juga :  Kualitas Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Masih Dianggap Kelas Dua

Sementara salah seorang saksi mata yang melihat ketika anak itu ditemukan, Masni Br Dalimunthe mengatakan, anak itu diketahui hanyut dari Lingkungan I dan ditemukan dipercabangan irigasi, tepat di bawah lokasi pengolahan kerupuk milik warga di Lingkungan II itu. Ayah korban yang langsung turun mengangkat tubuh balita malang itu.

“Pembuat kerupuk itu yang menemukannya. Ayahnya langsung yang mengangkatnya. Saat waktu melihat anaknya ternyata disitu, dia langsung melompat hingga kaki terkena pecahan kaca di bondar itu. Saat balita ditemukan, nafasnya masih ada, tapi sudah mengeluarkan buih,” ungkapnya

Kemudian pengolah kerupuk, Jandri (27) didampingi Kepling II, Firman menceritakan, awalnya ia hanya ingin membuang tepung adonan ke aliran irigasi itu. Pada saat itu, ia hanya melihat ayah korban mencari sesuatu.

“Saya lihat si Bombom (panggilan ayah korban,red) mencari entah apa. Aku waktu itu membuang tepung adonan ke irigasi ini. Kulihat semacam boneka, masih bagus kupukir, karena ada sepatunya, kalungnya juga ada. Kutunjukkanlah sama si Bombom entah boneka yang dicarinya. Rupanya itu anaknya. Dia langsung lompat kesini,” ungkapanya menunjukkan lokasi penemuan balita itu.

Kemudian pengolah kerupuk itu juga menerangkan posisi balita itu saat ditemukan sedang menghadap ke dasar irigasi dengan tubuh seakan berenang dan tersangkut ditumpukan sampah.

Keluarga juga masih sempat melarikan balita itu ke Rumah Sakit Umum Daerah Kota Psp. Namun malang, balita itu sudah lebih dahulu menghembuskan nafas terakhir.

Baca Juga :  Massa AMPUN UNRAS Minta - Mafia Raskin Ditangkap

Sementara itu Kapolsek Baunadua, AKP Abdi Abdillah membenarkan, tewasnya balita sebab orangtua tidak menyadari anak mereka keluar dari rumah di Lingkungan I, Batunadua Jae itu.

“Jadi orangtuanya ini bertamu di rumah adik mereka. Tidak tahu orangtuanya, anaknya itu pergi bermain keluar. Mereka kemudian mencari ke bondar yang jaraknya 15 meter dari rumah hingga ke jalan raya, tidak ditemukan juga, sampai warga banyak yang mencari. Kemudian diketahui dari jarak 200 m eter dari tempat semula, balita itu ditemukan hanyut,” ungkap Kapolsek.(mag-01)


POSPERA

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*