Bambu Pethuk (Bambu Jumpa Buku): WARISAN BERUSIA 106 TAHUN

  • Suyoto (61), pemilik bambu pethuk langka berusia 105 tahun ini, yakin benda unik milikinya serba berhasiat, termasuk untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan politik
  • Djamin Sumitro (52), seorang paranormal, menganggap bambu pethuk juga dapat digunakan sebagai media untuk menuntun ke arah penemuan orang hilang, atau kasus misterius yang sukar dijejaki
  • Jika tak mau dilepas meski sudah pernah ditawar orang seharga Rp 200.000.000, tentulah karena pemaknaan terhadap benda itu amat spesifik.
  • Selain Bambu Pethuk, Suyoto asal Jawa Timur ini  juga memiliki sebutir kelapa tua berisi “batu” yang sudah berusia 51 tahunan.

SAYA minta bambu pethuk kelapa berbatu dan ranting bambu pethuk disusun menyerupai patung. Lalu saya potret dengan penuh keheranan atas apresiasi pemiliknya terhadap benda-benda yang bagi saya seorang awam cumalah benda-benda biasa. Saya timang sambil memeriksa secara teliti apakah ada tanda-tanda perlakuan khsusus untuk mematutinya sedemikian rupa seperti lem. Mata awam saya tidak menemukan itu sama sekali. Buku-buku yang tak beraturan itu, yang dianggap menjadi salah satu pertanda keistimewaan, saya raba perlahan. Tidak ada semacam rekayasa. Kembali saya timang, saya susun dengan berbagai kombinasi dan posisi. Kamera saya berulang-ulang mengeluarkan kilatan cahaya.

Pernahkah Anda membayangkan benda-benda tertentu yang kelihatannya biasa-biasa saja tetapi sesungguhnya dianggap memiliki sejarah dan kemanfaatan yang luar biasa bagi orang tertentu?

Untuk orang “awam” seperti saya memang bisa saja terkesan begitu sederhana dan tidak memiliki keistimewaan sama sekali. Namun justru sebaliknya, amat bernilai dan bahkan tak terhingga harganya, di tangan orang lain yang “mengerti”. Itu sangat tergantung kepada pemaknaan. Dalam  pemaknaan itu ada intervensi faktor “pengetahuan”, atau “faham” tertentu yang terkait dengan kepercayaan-kepercayaan supranatural. Alat ukur pemaknaan itu sendiri tidak akan pernah bertemu antara yang berbasis rasionalitas alam fikiran masyarakat akademis di satu pihak dan pemahaman yang berbasis keyakinan supranatural di pihak lain.

Bukan Benda Biasa.

Di kalangan suku-suku tertentu bahkan tidak saja di Indonesia hal seperti ini banyak ditemukan. Benda-benda yang dipandang magis yang penuh makna dan bernilai (material) tak terhingga itu sering menjadi objek perburuan komersial bagi orang-orang tertentu. Tidak ada ukuran standar apakah benda-benda itu merupakan sesuatu yang patut dilindungi dan diabadikan sesuai ketentuan pihak berwenang dalam bidang kepurbakalaan.

Perhatikanlah ketiga benda itu (lihat foto). Apa yang istimewa? Sepintas tampak biasa-biasa saja, kan?. Sepotong Bambu Pethuk (Bahasa Jawa) yang mungkin dapat diindonesiakan bambu bertemu buku dengan ruas yang pendek, atau sesungguhnya terdapat 2 buku (bisa lebih) yang saling berlawanan arah pada jarak (ruas) yang pendek. Di situlah letal keistimewaannya rupanya.  Benda warisan milik Suyoto (61 tahun) berukuran panjang 25 cm dengan diameter 12 cm.  Bagaimana dengan usianya? Benar, bahwa faktor usianya yang sudah 106 tahun itu tentu sebuah keistimewaan lain. Selain itu ada ranting kecil yang dianggap merupakan bagian tak terpisahkan dari bambu pethuk. Sedangkan benda ketiga, sebuah kelapa yang diklaim sudah berusia 50 tahunan dengan isi yang diperkirakan sejenis benda keras seukuran kurang dari bola kasti. Mungkin ada kristalisasi yang terjadi di dalam sejak lama, hingga terasa seperti ada batu di dalam kelapa itu. Bernarkah benda-benda ini jarang ditemukan atau bahkan cuma hal-hal biasa yang luput (saja) dari perhatian banyak orang?

Baca Juga :  Usai Ketemu Jokowi, Prabowo Tulis Pesan Panjang di Facebook

Khasiat.

“Bambu seperti ini di kalangan tertentu khususnya orang Jawa diyakini memiliki banyak hasiat. Katakanlah yang sederhana, yakni untuk memanggil (agar masuk) dan menjaga (agar betah) burung walet di penangkaran yang sudah semakin lazim di “hutan” gedung daerah perkotaan dewasa ini. Juga untuk para nelayan agar mendapat hasil tangkapan yang banyak ketika turun melaut. Demikian  penuturan pemiliknya, Suyoto, yang sehari-harinya adalah seorang petani biasa. Pria berkumis asal desa Kalisat, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini menjamin tidak ada resiko atau yang dalam peristilahan magis Jawa lazim disebut tumbal. “Benda-benda unik berusia tua ini tidak mengenal tumbal sama sekali dan orang yang tepat yang mengurusnya tidak memerlukan perlakuan khusus kecuali sekadar meletakkannya di tempat yang layak”, rinci Suyoto.

Bagi politisi pun bambu pethuk juga dapat menjadi semacam jembatan untuk meraih kekuasaan. Bagi yang sedang berkuasa, sang bambu pethuk justru dapat diposisikan untuk menjaga kelanggengan kekuasaan itu.

Menurut pria  yang sudah menetap di Sumatera selama beberapa dekade ini, dalam dunia bisnis lainnya pun bambu ini juga diyakini bisa membawa keberhasilan. Tak terkecuali pula untuk tolak bala dan praktik pengobatan bagi yang mengetahui.

Pendapat Paranormal.

Djamin Sumitro, seorang paranormal spesialis penemu orang hilang, menilai bambu pethuk bisa digunakan membantu penelusuran orang hilang atau orang misterius yang sukar ditemukan. “Saya merasa ada daya dalam bambu pethuk yang dapat diterjemahkan sebagai energi penuntun. Itu yang saya rasakan”, jelas Djamin Sumitro yang adalah Ketua Umum DPW Forum Komunikasi Warga Jawa (FKWJ) Sumatera Utara. Tetapi Suyoto tidak sepakat dengan itu. “Tidak begitu saya rasa. Atau lebih baik saya katakan bahwa soal itu saya tidak tahu. Mungkin saja Mbah (maksudnya Djamin Sumitro) merasakan sesuatu yang tidak saya kenali pada bambu pethuk”, ujar Suyoto.

Ketika ditanya mengapa dengan bambu pethuk Suyoto tidak menjadi kaya atau berkuasa? Dengan ringan ia menjawab “manusia ini ibarat lahan pertanian. Terkadang ada lahan subur tetapi tidak untuk semua jenis tanaman. Mengapa kita tidak bertanam kurma di Indonesia yang dikenal subur hingga diibaratkan bahkan tongkat dan batu diserakkan begitu saja juga bisa jadi tanaman? Jadi saya ditakdirkan oleh Gusti Alloh hanya sebagai pewaris, sedangkan yang bisa memanfaatkan dan mengambil keutungan dari bambu pethuk ini ada di tempat lain, entah di mana. Mungkin saja orangnya malah belum lahir atau malah sudah meninggal dan tak kesampaian bertemu dengan si bambu pethuk,” kata Suyoto dengan penuh keyakinan.

Warisan Orang Tua. Bambu Pethuk adalah warisan turun temurun dalam keluarga Suyoto sejak beberapa generasi. Dengan usianya yang sudah mencapai 106 tahun bambu pethuk termasuk awet. Tidak ada tanda-tanda dimakan rayap atau pengeroposan. Konon bambu itu ditemukan di antara rumpun bambu yang tumbuh di pekarangan rumah leluhurnya dan dipelihara sampai waktunya dipotong. Tidak banyak bambu serupa. Berburu bambu seperti ini bertahun-tahun belum tentu bisa berhasil. Sepanjang hidupnya, menurut pengakuan Suyoto, hanya bambu pethuk miliknya yang pernah dia lihat. “Kabarnya di lain-lain tempat pernah juga ditemukan dan dijual ke luar negeri. Tetapi saya tidak pernah lihat itu”, jelasnya.

Baca Juga :  Dapat Remisi Natal, 170 Napi Non-korupsi Bebas

Menurut berita yang pernah didengarnya, bambu pethuk diminati oleh kalangan yang amat terbatas di dunia ini. “Dia mesti orang terkenal karena kekuasaan atau kekayaannya. Orang biasa tak mungkin bisa memiliki, kecuali dengan cara mencurinya dari pemilik dan itu pun akan penuh resiko yang tak tertanggungkan”, jelas Suyoto.

Suyoto mengaku bukan kolektor benda-benda antik. Antara Bambu pethuk dengan buah kelapa berbatu tidak ada kaitan historis maupun fungsional. Kebetulan saja keduanya sama-sama inventaris yang berasal dari warisan leluhur, dan usianya pun berbeda. Suyoto sendiri enggan bercerita rinci tentang buah kelapa berbatu. Dia hanya mengatakan bahwa dalam suatu keluarga pasti ada periuk, dan ada pula kain sarung. Tak perlu dicari-cari hubungan periuk dengan kain sarung. Ada khasiatnya? Tentu, kata Suyoto.

Akan Dilepas.

Sejak ayah Suyoto meninggal tahun 2007, praktis hak pewarisan pusaka berusia seabad lebih itu jatuh kepadanya. Menurut pengakuannya, bambu pethuk warisan leluhurnya itu sudah pernah ditawar orang  senilai Rp 200.000.000,- suatu jumlah yang amat besar dari cara pandang tertentu. Tetapi bagi Suyoto itu bahkan harga yang tidak pantas sama sekali, terlalu rendah untuk kemanfaatan yang begitu besar, katanya. Tentu saja, tambah Suyoto, tawaran itu didasarkan pada semacam motif kegandrungan belaka yang lazim di kalangan kolektor benda-benda unik. Pemahaman dan kemampuan mengenali yang dimilikinya rendah hingga tak mampu merasakan sesuatu dari benda ini.

Bagaimana jika suatu saat bertemu orang yang bersedia memberi bayaran lebih tinggi? Suyoto yang tidak mempunyai anak dari kedua isterinya yang tinggal satu rumah selama 3o-an tahun itu mengaku akan ihlas melepasnya. (Shohibul Anshor Siregar-email)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Buat para kolektor bambu petuk/pring bs call 081804655556,,,,yg paham ama yg ngerti manfaat dr bambu petuk aj,,,

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*