Bandara 1001 Masalah

Oleh: Sagita Purnomo *)

Kuala Namu Internasional Airpot (KNIA) sudah resmi dioperasikan pada 25 Juli lalu. Dengan begini maka secara resmi telah berakhir pula masa bakti bandara Polonia yang sudah mengabdikan diri selama puluhan tahun. Baru beberapa waktu KNIA beroperasi namun sudah memberikan sejumlah permasalahan bagi kota Medan umumnya. Pasalnya gara-gara bandara yang secara administratif terletak di Kuala Namu, Desa Beringin, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, sekarang ini Medan menjadi kota yang rawan akan kemacetan.

Arus lalulintas di beberapa ruas jalan kota Medan mengalami kemacetan yang cukup parah. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan ialah meningkatnya volume kendaraan baik roda dua dan empat yang tumpah kejalan berbondong-bondong. Selain itu jadwal keberangkatan kereta api dari Medan Kualanamu dan sebaliknya sangat padat yang mencapai 30 kali keberangkatan perharinya, semakin memperparah kemacetan di kota Metropolitan ini.

Kehadiran KNIA ternyata turut menghadirkan permasalahan baru, bukan hanya menyebabkan kemacetan bagi kota Medan, persoalan keamanan, sarana dan prasarana penghubung, kesiapan bandara, dan yang paling parah kentalnya unsur kapitalis yang diusung pengelola bandara (PT. Angkasa Pura II) juga memberikan dampak negatif bagi penduduk asli atau masyarakat yang tinggal di dekat KNIA.

Medan Tambah Macet

Pasca pengoperasian KNIA dampaknya masih terus terasa di inti kota Medan. Ironisnya kemacetan menjadi semakin parah. Ruas jalan di inti kota seperti di Jalan Balaikota, Jalan Raden Saleh, Kapten Maulana Lubis mengalami kemacetan yang tak kenal waktu. Sementara di Jalan Ahmad Yani, Pemuda, hingga Jalan Brigjen Katamso kemacetan terus terjadi bahkan semakin parah. Laju kendaraan berjalan lambat di Jalan Ahmad Yani hingga jalan Pemuda hingga jalan Brigjen Katamso.

“Kemarin jalan ini tidak macet. Tapi, sekarang semenjak bandara Kualanamu beroperasi dan arus lalulintas di Jalan Bukit Barisan ditutup jalan jadi macet,” ucap Armansyah warga Jalan Pusaka Dusun VII Tembung. Pemuda yang berprofesi sebagai pengemudi Betor ini mengaku bingung mengambil jalur alternatif karena hampir di sejumlah jalan di inti kota Medan macet.

Sementara itu Anggota Komisi I DPR RI Meutya Hafid, mengaku sering menerima keluhan dari masyarakat, baik melalui SMS maupun telepon seluler. Masyarakat mengeluhkan kemacetan yang amat mengganggu hingga banyak penumpang tertinggal pesawat. “Kebanyakan dari mereka mengeluhkan perjalanan dari Kota Medan menuju KNIA hingga 3 jam. Saya menyayangkan bandara tercantik dan terbesar di Indonesia dengan teknologi tercanggih tidak ditopang dengan infrastruktur yang memadai,” imbaunya (harian analisa)

Sebenarnya kemacetan bukanlah hal baru di Medan, hanya saja dengan adanya KNIA, tingkat kemacetan di kota ini semakin parah yang mengakibatkan para pengguna jalan menjadi galau lantaran sering terjebak macet. Masyarakat harus mempersiapkan diri dan mentalnya untuk menghadapi kemacetan.

Baca Juga :  Pilpres yang Belum Beres

Ongkosnya Mahal

Selain masalah kemacetan, persoalan tak kalah pelik karena KNIA adalah mahalnya tarif pada salah satu moda transportasi menuju bandara. Untuk sekarang ini ada tiga moda transportasi yang dapat digunakan, diantaranya dengan Bus, taksi, dan kereta api. Untuk tarif Damri dari Amplas ke Kualanamu sebesar Rp10.000/orang, dari Gatot Subroto Rp15.000. Tarif bus ini masih tergolong wajar dan sesuai dengan kocek masyarakat. Kemudian untuk Taksi, dengan jarak tempuh sekitar 40 Km dari Medan-Kualanamu dapat ditempuh dengan waktu sekitar 60-90 menit pada kondisi no macet. Tarif resmi rata-rata per sekali jalan berkisar Rp150.000. Harga ini masih wajar, mengingat taksi dapat menjamin kenyamanan penumpangnya dengan baik.

Ini dia yang paling menjadi persoalan, dan perbincangan hangat, serta yang paling  disayangkan adalah tarif kereta api yang dinilai banyak kalangan sudah kelewat batas. Pasalnya PT KAI mematok dan tidak akan menurunkan tarif sebesar Rp. 80.000/orang untuk sekali jalan ke KNIA. Hal ini sangat disayangkan, harusnya kereta api dapat menjadi moda transportasi yang paling bersahabat dengan penumpang, tapi entah apa yang dipikirkan oleh pengelola sehingga menetapkan harga yang begitu mahalnya.

Memang benar dibandingkan dengan menggunakan bus, dan taksi, naik kereta api memang memakan waktu perjalanan yang relatif singkat. Tapi justru karena adanya kereta api menuju KNIA, kota Medan menjadi macet gila-gilaan yang memperparah kondusifitas kota. Medan sudah rela berkorban untuk bermacet-macetan tapi mengapa harga tiket kereta sangat mahal? Bukan hanya itu warga yang lahannya telah dipakai untuk pembangunan rel, hingga sekarang  belum mendapatkan pembayaran atau ganti rugi atas lahan mereka. Ini membuat warga geram hingga mengekspresikan kekesalan mereka dengan cara melempari/menimpuk kereta api yang menuju bandara beberapa waktu lalu.

Wisata Bandara

Selain kemacetan, dan mahalnya biaya/ongkos, serta belum rampungnya ganti rugi sebagian lahan warga, persoalan lainnya yang timbul dari KNIA ialah alihfungsi bandara menjadi objek wisata incaran warga. Warga dari berbagai penjuru datang berduyun-duyun bersama kerabat dan keluarga dengan membawa bekal makanan dan minuman laksana berpiknik. Mereka berdiri dan menggelar lapak di sepanjang sisi kanan dan kiri bandara untuk melihat langsung bandara dan  pesawat.

Murni, seorang warga Kabupaten Sergai yang datang bersama keluarga dan tetangganya, menggelar tikar di depan pintu masuk kedatangan. “Kami sedang ada bandara ini. Kami mau lihat langsung pesawat terbang. Selama ini cuma di tv saja. Anak-anak juga senang. Kami rombongan naik sepeda motor, enggak apa-apalah panas-panas, yang penting puas,” katanya.

Mereka terlihat tak canggung melahap makanan di antara langkah-langkah kaki orang lalu lalang dan debu sisa-sisa pekerjaan yang belum sepenuhnya dibersihkan. “Masyarakat butuh tempat hiburan. Di sini sepertinya pas,” kata Murni lagi (kompas.com)

Baca Juga :  Koruptor Tetap Istimewa di Penjara

Untuk sementara ini, pihak pengelola bandara masih memaklumi prilaku masyarakat yang sedang dalam euvoria bandara baru. Namun, tidak lama lagi pengelola bandara akan menindak “wisatawan bandara” yang menggelar lapak karena dinilai mengganggu. Di mata masyarakat Sumut terutama golongan menengah kebawah KNIA bukan hanya sekedar bandara biasa, melainkan juga sebagai objek wisata yang dapat memberikan kesenangan tersendiri. Alangkah sangat disayangkan apabila masyarakat tidak diperbolehkan untuk berwisata ke KNIA, harusnya pengelola bandara menyediakan ruang khusus, dan memfasilitasinya bukan malah mengusirnya. Bagaimanapun juga KNIA adalah milik bersama.

Apapun persoalannya KNIA telah resmi beroperasi, mesti terkesan dipaksakan. Masih banyak terdapat kekurangan disana-sini. Keamanan bandara juga patut dipertanyakan, baru-baru ini sempat tersirat kabar bahwa telah terjadi kehilangan 10 unit sepeda motor di parkiran bandara, selain itu sistem komputer bandara juga sempat mengalami kerusakan, padahal bandara baru dibuka tapi udah banyak masalah. Terlepas dari persoalan itu semua, unsur kapitalis memang benar nyata diusung oleh Angkasa Pura dan pihak-pihak terkait. Semua yang berbau KNIA terkesan serba mahal. Mulai dari harga tiket, hingga harga stan kios selalu berpihak pada yang berkantung tebal.

Bahkan dalam sistem perekrutan karyawan bandara, masyarakat setempat juga tidak dapat berharap banyak. Karyawan dan pedagang yang sekarang berada di KNIA mayoritas adalah pindahan dari bandara Polonia, sangat jarang ada masyarakat asli Kualanamu yang bekerja di KNIA, warga asli hanya bisa gigit jari alias ngaplo. Mereka hanya kebagian bisingnya suara mesin pesawat serta merasakan stres karena kemacetan. Bukannya mau berprasangka buruk, penulis yakin seiring berjalannya waktu maka akan muncul pula persoalan-persoalan baru yang menyusahkan di KNIA. Inilah realita di bandara 1001 masalah.*** (sumber: analisadaily.com)

*) Penulis adalah mahasiswa fakultas Hukum UMSU

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*