Banjir Bandang Sayur Matinggi Akibat Hutan Rusak

www.waspada.co.id

banjir bandang yang menghantam tiga desa di kecamatan Sayurmatinggi, kabupaten Tapanuli Selatan, Sabtu (3/4) malam

MEDAN – Panglima Daerah Militer I Bukit Barisan, Mayjen TNI Muhammad Noer Muis, menduga banjir bandang yang menghantam tiga desa di kecamatan Sayurmatinggi, kabupaten Tapanuli Selatan, Sabtu (3/4) malam hingga menyebabkan tiga warga meninggal dunia, tidak terlepas dari akibat perusakan hutan. Karenanya, aparat terkait pengamanan hutan diminta untuk menindaklanjuti dugaan yang ada. Sebab, persoalan bencana seperti ini di bumi Tapsel sekitarnya sudah yang keempatkalinya terjadi dalam rentang waktu 10 bulan terakhir.

“Soal penyebab banjir bandang di Tapsel itu, saya kira sebenarnya yang harus terus disosialisasikan adalah bagaimana warga masyarakat bisa terus memelihara lingkungan. Karena bencana alam ini mau tidak mau terjadi akibat kelalaian kita dalam memantapkan alam yang ada itu tidak dilakukan dengan benar. Contohnya penebangan pohon yang berlebihan dan juga karena pergantian pohon tidak sesuai dengan peruntukan dan kemiringan lahan yang ada,” beber jenderal bintang dua itu, malam ini.

Muis mengaku, pengamanan kawasan hutan dari aktivitas pembalakan, tidak hanya bisa dilakukan sendiri oleh aparat pemerintah, tetapi juga harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk aparat TNI dan Polri. Makanya, sosialisasi mengikutsertaan seluruh elemen mengawal kawasan hutan harus terus dilakukan. “Sebab, di kawasan hutan yang tegakkannya masih terawat, kan tidak pernah terjadi bencana banjir bandang seperti di Tapsel sekitarnya,” urai Muis.

Terkait apa saja yang sudah dilakukan aparat TNI khususnya dari Kodim di Tapsel, Muis mengaku sudah cukup signifikan dalam memberikan bantuan pertama kepada warga yang tertimpa musibah. “Begitu saya dapat laporan banjir, masyarakat bersama personil Kodim di Tapsel langsung turun bersama memberikan bantuan. Jadi secara otomatis, aparat Kodim di Tapsel sudah ikut memberikan bantuan terhadap korban yang terkena bencana,” jelasnya.

Baca Juga :  Okto Kesulitan Cari Klub

Muis juga mengaku, bantuan aparat Kodim seperti di Tapsel juga kerap dilakukan di wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah sekitarnya. Sebab, di dua daerah ini bencana banjir kerap menghantam. “Karenanya untuk antisipasi bencana lebih berdampak buruk kepada warga di Sibolga dan Tapteng sekitarnya, kita sudah menyiapkan LCR (Landing Craff Rubber) atau perahu karet untuk bisa digunakan bersama Tim SAR (Search and Rescue) daerah.

Soal laporan dari Kodim Tapsel tentang jumlah kerusakan dan korban jiwa, sampai kini Muis mengaku belum menerima. “Memang ada beberapa kerusakan yang kita terima laporannya. Dan saya juga lihat di media banyak pohon-pohonan yang ikut tersapu dalam banjir bandang tersebut,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Utara, Salamuddin Daulay, menjelaskan, dugaan pembalakan hutan yang menjadi pemicu banjir bandang Tapsel itu, bukan kewenangan pihaknya untuk mengusut. Sebab hal tersebut menjadi kewenangan Pemkab Tapsel bersama aparat kepolisian untuk mengusutnya.

“Walaupun sudah empat kali banjir bandang seperti ini menghantam bumi Tapsel sekitarnya dalam rentang waktu 10 bulan terakhir, tapi tak bisa kita menyimpulkannya karena pembalakan hutan. Sebab, kewenangan untuk itu bukan pada kita,” bebernya.

Banjir bandang Tapsel itu, menurut Salamuddin berdasarkan laporan dari Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Banjir Tapsel terjadi di tiga desa, Kecamatan Sayurmatinggi. Dari tiga desa, yakni Desa Tano Tambangan, Desa Aek Parupuk dan Desa Ucin telah menyebabkan tiga korban tewas. “Ketiga korban meninggal karena tertimbun longsor dari air bah yang datang tiba-tiba. Bencana ini juga menyebabkan 50 rumah rusak berat dan soal kerugian, hingga kini belum bisa dihitung,” tegasnya.

Daulay juga memastikan penanganan bencana masih bersifat lokal. Karena itu pula, langkah tanggap darurat belum ditetapkan hingga kini. “Walau belum ditetapkan langkah tanggap darurat, kita tetap mengirim Tim Taruna Siaga Bencana 10 orang ke lokasi bencana. Mereka bertugas mendata kerusakan yang ada dan mendirikan tenda untuk Posko Penanggulangan Bencana. Namun masalahnya, sampai kini belum ada warga yang dikabarkan banyak mengungsi mendatangi Posko. Sehingga penanggulangan krisis dari Dinas Sosial Sumut belum diturunkannya,” bebernya.

Baca Juga :  Jembatan Aek Panjamaan Dibangun - Warga Aek Latong dan Aek Urat Tak Lagi Terisolir

Salamuddin juga merinci, bahwa Tim SAR hingga kini belum menemukan warga hilang dari lokasi bencana. Begitupun, sejumlah bantuan sudah mulai didorong dari Dinas Sosial Provinsi, termasuk bantuan sebesar 6 ton beras dan mie instan dari Satlak Tapsel sudah didistribusikan kepada warga yang terkena musibah.

“Ini bencana alam murni. Apalagi jauh sebelum terjadi bencana kita sudah memperingatkan daerah untuk meningkatkan kewaspadaan. Karena mulai akhir 2009 sampai pertengahan 2010, curah hujan akan tinggi di sejumlah daerah di Pantai Barat yang bisa menyebabkan longsor dan banjir bandang, serta sejumlah daerah di Pantai Timur yang bisa menyebabkan banjir,” katanya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*