Banjir Landa Angkola Selatan, Tapsel

Sedikitnya 69 rumah di Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan terendam banjir akibat meluapnya air Sungai Aek Batang Selai, Sabtu (2/10) malam sekira pukul 23.00 WIB. Ketinggian air bahkan mencapai satu meter. Banjir juga mengakibatkan tiga jembatan darurat yang terbuat dari kayu di beberapa desa rusak. Tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut.  sebanyak 52 rumah tergenang banjir di Desa Huta Baru, Kecamatan Angkola Selatan. Namun, banjir hanya berlangsung sekitar 30 menit. Air pung kembali surut. Berbeda halnya di Dusun Gua Asom, Angkola Selatan. Sekitar 17 rumah warga hingga kemarin masih terendam banjir.

65090302e74b1e4c9b48639ef7aba46b88f0efe Banjir Landa Angkola Selatan, Tapsel
Warga Gua Asom yang rumahnya masih terendam luapan air Sungai Aek Batang Salai tetap bertahan di rumahnya masing-masing, Minggu (3/10).

Camat Angkola Selatan, Hamdy S Pulungan kepada METRO, Minggu (3/10) siang mengatakan, Sungai Aek Batang Selai selebar 8 meter dengan kedalaman 1,5 meter (keadaan normal, red) meluap karena hujan seharian di Kecamatan Angkola Selatan. Sehingga menyebabkan beberapa desa di kecamatan tersebut terendam air.

Meluapnya air tersebut terjadi sekitar pukul 23.00 WIB dengan ketinggian sekitar 1 meter di Desa Huta Baru, namun kemudian air surut kembali sekitar setengah jam kemudian. Tidak ada kerusakan yang fatal pada rumah warga maupun fasilitas umum seperti sekolah, masjid dan lainnya.

Hanya saja, dikatakan Hamdy, lahan pertanian warga di Desa Huta Baru Pardomuan sekitar 4 hektare (Ha) mengalami kerusakan karena tanaman padi terendam air. Kemudian sekitar 1 hektare kebun kacang tanah milik warga juga rusak dan dipastikan gagal panen karena batang kacang rusak terendam air. Sementara untuk hewan ternak, menurut Hamdy, belum diketahui apakah ada ternak warga yang hilang. Sebab dirinya belum mendapatkan laporan dari warga yang kehilangan ternak.

“Kita masih melakukan pendataan berapa sebenarnya kerusakan yang terjadi. Tapi yang jelas sebanyak 52 rumah terendam banjir dan mengalami kerusakan ringan, serta 4 hektare lahan pertanian dan 1 hektara lahan perkebunan rusak. Sedangkan kerusakan yang lainnya sedang kita data. Kejadian ini sudah kita laporkan kepada Bupati Tapsel dan malam saat kejadian, Bupati juga langsung melihat kondisi banjir,” ungkap Hamdy.

Diutarakannya, usai rumah warga terendam banjir sekitar setengah jam, dan setelah air susut, warga membersihkan rumahnya masing-masing dan tidak ada yang melaporkan kehilangan harta bendanya. Warga pun tetap tinggal di rumahnya masing-masing.

Lebih lanjut Hamdy menceritakan, setiap tahunnya Sungai Aek Batang Selai memang meluap terutamanya di musim penghujan. Namun dari tiga tahun terakhir, kejadian kali ini merupakan yang terbesar dan sampai menggenangi rumah warga. Sedangkan tahun sebelumnya, air hanya menggenangi jalanan saja.

Untuk mengantisipasi timbulnya penyakit gatal-gatal, telah didirikan posko kesehatan di Desa Huta Baru yang dikoordinir oleh Puskesmas Angkola Selatan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat hingga beberapa hari ke depan. “Kita sudah buat posko kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat untuk menghindari timbulnya penyakit gatal-gatal dan lain sebagainya akibat banjir ini,” ujar Kadis Kesehatan Tapanuli Selatan (Tapsel), Drs H Sarmadhan Harahap.

Ditambahkan Hamdy, akibat meluapnya Sungai Aek Batang Selai, juga mengakibatkan tiga jembatan kayu rusak. Yaitu dua jembatan kayu di Desa Mosa Jae yang melintasi Aek Mosa dan Mosa Julu yang melewati Aek Mosa Julu, rusak karena bergeser dihantam banjir dan berpindah tempat sekitar 5 meter dari letak awal. Sehingga akses jalan menuju tiga desa lagi dari Desa Mosa Jae selama sekitar 12 jam lamanya tidak bisa dilewati.

Dua jembatan kayu di Desa Mosa Jae yang hanyut tersebut saat ini sedang dalam perbaikan oleh warga dan Dinas PU Tapsel. Namun jembatan darurat yang dipasang oleh warga sudah mulai bisa dilewati Minggu (3/10) sekitar pukul 12.00 WIB dan dilintasi oleh mobil dan sepedamotor.

Selanjutnya satu jembatan kayu rusak di Desa Gua Asom yang juga melintasi Sungai Aek Batang Selai, dan saat ini sedang diperbaiki. Akibatnya, arus lalu-lintas terputus. Kemudian, jalan retak dan longsor di Simaronop yang juga sedang ditangani oleh Dinas PU Tapsel bersama warga sekitar.

Baca Juga :  Petani Harus jadi Tuan di Tanah Sendiri

“Kerugian kita prediksikan sementara ini miliaran rupiah. Untuk data akuratnya, kita belum tahu,” jelas Hamdy.

Sementara itu, Boru Nasution (44) dan Boru Hasibuan (35), warag setempat yang ditemui METRO di posko kesehatan mengungkapkan, sejak pagi hingga malam hari hujan mengguyur Angkola Selatan. Ketika hujan dan malam hari, sebagian warga cepat tidur di rumahnya masing-masing meskipun ada satu dua kaum bapak yang masih bertahan di kedai karena khawatir akan hujan tersebut. Sekitar pukul 22.40 WIB, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak banjir dan ada warga yang mengumandangkan asma Allah.

Selanjutnya, menurut keduanya, suami masing-masing membawa anak-anaknya untuk keluar dari rumah dan menunggu di halaman, dan ada juga yang tetap bertahan di rumah.

“Waktu itu kita sudah tidur di rumah, tapi kaum bapak karena sudah khawatir terhadap hujan saja seharian turun, berjaga-jaga di kedai. Kemudian sekitar pukul 22.45 WIB, Sungai Aek Batang Selai meluap dan menggenangi rumah kami sampai sekitar satu meter atau hampir sepinggang kami. Untungnya listrik tidak padam malam itu dan sampai sekarang. Tidak ada barang-barang kami yang hilang atau hanyut melainkan basah saja. Dapur kami saja yang agak rusak ringan,” tutur mereka.

Diceritakan keduanya, setiap tahunnya memang selalu terjadi banjir di daerah mereka, terutama pada saat musim hujan. Namun dari tiga tahun terakhir, banjir kali ini yang paling besar karena sampai masuk ke rumah mereka. Padahal, biasanya air hanya menggenangi jalan saja.

Kadis Pekerjaan Umum (PU) Tapsel Arwin Siregar melalui Kabid Pengawasan dan Pelaporan, Demson Batubara yang ditemui di lokasi jembatan yang sedang diperbaiki di Desa Mosa Jae menuturkan, jembatan yang rusak tersebut sedang diperbaiki dan bisa dipergunakan sesegera mungkin.

“Hari ini juga sudah bisa dipakai, sedangkan jembatan rusak lainnya di Gua Asom dan Mosa Julu sedang kita data dan cek dulu kerusakannya, begitu juga dengan longsor dan jalan retak di Simaronop. Paling lama dua hari ini sudah bisa kita perbaiki. Sedangkan untuk dibangun menjadi jembatan permanen, nanti direncanakan dimasukkan dalam pembangunan untuk tahun 2010. Kalau jalan retak akan segera kita perbaiki sedangkan longsor akan segera kita tempatkan alat berat untuk membersihkan longsoran,” ujarnya.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Alam, Azhari Lubis yang dimintai keterangannya terkait berapa besar kerusakan yang terjadi di Kecamatan Angkola Selatan akibat meluapnya Sungai Aek Batang Selai, Minggu (3/10) menuturkan, pihaknya saat ini sedang melakukan pendataan kerusakan dan juga kerugian yang dialami masyarakat. “Kita masih mendatanya,” ucapnya melalui telepon selulernya.

Bupati Perintahkan SKPD Sigap

Bupati Tapsel, H Syahrul Martua Pasaribu yang menerima laporan bencana banjir tersebut, bersama Ketua DPRD Tapsel, H Rahmat Nasution dan sejumlah pimpinan SKPD langsung meluncur ke lokasi banjir sekaligus memimpin penanggulangan bencana, Minggu (3/10) dini hari sekira pukul 01.30 WIB.

Titik awal lokasi bencana yang dipantau Bupati dan rombongan, yaitu di banjir yang melanda 52 unit rumah warga Huta Baru Pardomuan. Sekitar 30 menit meninjau lokasi bencana, Bupati berdialog dengan warga sekaligus memerintahkan pimpinan SKPD agar maksimal melakukan upaya penanggulangan banjir dan pertolongan kepada korban.

Bupati dan rombongan kemudian melanjutkan peninjauan bencana dirusaknya jembatan kayu antara Desa Mosa Jae dengan Mosa Julu. Sekitar 15 menit di lokasi ini, Bupati Syahrul meneruskannya untuk melihat kondisi jembatan kayu yang juga rusak di Gua Asom, dan baru kembali dari lokasi bencana sekira pukul 05.00 WIB menjelang pagi.

Di sela-sela tinjauan, Bupati Syahrul langsung memerintahkan Kadis Pekerjaan Umum segera turun ke lapangan memperbaiki infrastruktur yang rusak.

“Saya imbau kepada para SKPD bersangkutan untuk segera merelokasi masyarakat yang tertimpa musibah dan membangun jembatan dan jalan darurat agar warga tidak terisolir,” perintah Bupati kepada pimpinan SKPD.

Baca Juga :  KAPOLDA DIMINTA PERIKSA SEJUMLAH PROYEK DI PADANGSIDIMPUAN

Sementara kepada Kadis Kesehatan, Bupati menginstruksikan agar membuka puskesmas dan pustu yang ada di sekitar lokasi banjir untuk beroperasi 24 jam, guna mengantisipasi mewabahnya penyakit akibat dampak bajir. Syahrul juga mengimbau masyarakat Tapsel khususnya di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan perbukitan untuk meningkatkan kehatian-hatian di musim penghujan yang melanda daerah ini sepekan terakhir. Hingga Minggu (3/10) pukul 17.00 WIB, air Sungai Batang Selai belum juga surut ke normal, namun tidak lagi menggenangi rumah warga. (phn/neo)Warga Bertahan di Loteng Rumah

Sejak Sungai Batang Aek Salai meluap Sabtu malam (2/10) hingga Minggu (3/10) sore sekira pukul 18.00 WIB, 17 rumah warga di Dusun Gua Asom, Kecamatan Angkola Selatan masih terendam dengan kedalaman variatif antara 60 centimeter sampai 1,30 meter. Sementara penduduknya yang berjumlah 52 jiwa tetap bertahan di loteng rumah masing-masing menunggu luapan air surut.

Camat Angkola Selatan, Hamdy Pulungan menuturkan, pihaknya sudah berupaya membawa warga mengungsi dari kediaman masing-masing ke tempat yang lebih aman. Sebab hingga Minggu (3/10) sore, hujan deras masih mengguyur daerah tersebut.

Namun, kata Hamdy, warga tidak mau mengungsi dengan alasan bahwa banjir sudah terjadi sejak tahun 1991, dan merupakan hal biasa yang dialami warga. Oleh karena itu, rumah di daerah tersebut berbentuk rumah panggung. Namun sepengetahuan Camat Angkola Selatan, belum ada korban jiwa karena banjir tersebut.

Lebih jauh dikatakan Camat, pemukiman warga cukup dekat dengan pinggiran Sungai Aek Batang Salai yang hanya sekitar 2-3 meter saja. Sehingga setiap hujan deras dan air sungai meluap, air langsung menggenangi rumah warga. Hanya saja kali ini menurutnya, banjir merendam pemukiman warga hingga ketinggian 1,30 meter.

Meski demikian, lanjut Hamdy, pihaknya tetap berupaya membujuk warga agar mau mengungsi ke tempat aman untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Dirinya juga sudah melaporkan kondisi tersebut ke Bupati Tapsel Syahrul M Pasaribu.

“Tadi langsung saya laporkan kepada Bapak Bupati bahwa ada 17 rumah lagi yang sampai saat ini masih terendam air. Pak Bupati memerintahkan agar satu unit perahu karet yang ada di kantor camat untuk disiagakan di Dusun Gua Asom. Kemudian Bupati juga memerintahkan saya untuk membuat posko bencana alam di kantor camat. Kita juga sudah koordinasikan dan laporkan hal ini ke Badan Penanggulangan Bencana Alam Tapsel,” ucapnya.

Saat ini, sebutnya, warga yang rumahnya masih terendam sangat membutuhkan air bersih, pakaian layak pakai dan juga makanan, karena warga tidak bisa kemana-kemana karena air masih merendam rumah mereka.Lebih lanjut diutarakan Hamdy, menurut pengakuan warga kepadanya, jika tidak hujan, maka banjir dengan ketinggian air sekitar selutut orang dewasa seperti selama ini, akan surut hanya dalam sehari saja. Namun melihat tinggi air yang sekarang, jika tidak hujan, maka akan surut antara 1-2 hari.

“Saat ini tinggi air Sungai Aek Batang Selai kembali meluap sekitar tiga meter. Kita minta warga waspada dan hati-hati serta melakukan jaga malam, dan jika terjadi sesuatu segera dilaporkkan agar bisa segera kita lakukan tindakan secepatnya,” tuturnya. (phn)

Sumber: http://metrosiantar.com/Metro_Tabagsel/Banjir_Landa_Angkola_Selatan_Tapsel

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Musim hujan tiba kami hanya bersiap menanti kedatangan banjir…..
    tu dah biasa kami hadapi hampir tiap tahun……………..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*