Banjir & Longsor Terjang Madina

Hujan deras yang mengguyur Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara mengakibatkan banjir serta tanah longsor, Selasa (30/11). Banjir dan tanah longsor terjadi di dua daerah berbeda di Madina.

Banjir menerjang daerah Rantau Baek yang letaknya sekitar 5 jam dari kota Madina. Sedangkan, bencana tanah longsor menerjang daerah Batang Natal. “Kalau hujan begini ini selalu ada banjir,” ujar Penjabat (Pj) Bupati Mandailing Natal (Madina) Ir Aspan Sofian Batabara saat dikonfirmasi WartaNews.com.

Aspan beralasan kebanyakan masyarakat di sekitar Rantau Baek hidup di pinggir sungai yang letaknya tak jauh dari lokasi banjir. “Masyarakat kita ada yang hidup di kampung, sebagian ada yang hidup di pinggir sungai nggak jauh dari pinggir sungainya itu,” katanya.

Kendati begitu, pihak pemkab Madina belum bisa menjelaskan secara pasti bencana banjir dan longsor yang terjadi di dua daerah berbeda tersebut. “Belum tahu, baru besok kita bisa memberitahu. Sekarang kita sedang dalam perjalanan menuju lokasi, jaraknya sekita lima jam dari ibu kota kabupaten,” ujar Asisten (Pj) Bupati Madina Asraf. (wartanews.com)

Banjir Terjang 5 Desa, Puluhan Rumah Hanyut

Hanya puing bangunan berserakan yang saat ini menghiasi desa Simpang Talap, Kecamatan Ranto Baek, Mandailing Natal, Sumatera Utara, salah satu desa terparah yang dilanda banjir bandang, Senin (30/11/10) sore. Tidak hanya itu, puluhan rumah warga juga hanyut tidak bersisa. Selain menyapu desa Simpang Talap, banjir juga menyapu empat desa lain, yakni, Desa Muarabongko, Manisak, Hutaraja, dan Desa Hutabaringin.

Baca Juga :  Masalah Pemindahan Ibu kota Kab. TAPSEL - IKAPSI, FOR WASH dan LP2TS Akan Unjuk Rasa Di Gedung DPRRI Jakarta Kamis 15 Maret 2012

Banjir bandang terjadi akibat meluapnya Sungai Simpang Talap, di Kecamatan Ranto Baek. Beruntung musibah ini tidak merenggut korban jiwa maupun luka luka, karena warga segera menyelamatkan diri. Namun kini yang tersisa hanyalah penderitaan. Warga membutuhkan bantuan. Amran, salah satu warga yang rumahnya ikut hanyut diterjang banjir, hanya bisa pasrah, ia dan keluarganya terpaksa mengungsi.

Data Satkorlak bencana Mandailing natal menyebutkan, hanya 3 ton beras, 200 dus mie instan serta 500 dus air mineral yang masih dapat tersalurkan. Alasan karena lokasi bencana yang jauh, berjarak hampir 90 kilometer dari ibukota kabupaten.

Sejauh ini, sejumlah staf (Pj) Bupati telah bekerjasama dengan Polres dan Kodam setempat untuk membantu para korban bencana. “Kita sudah kirimkan pakaian, tenda pengungsian, alat masak dan makanan,” tuturnya. (indosiar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*