Bappenas Belum Sikapi Pemindahan Ibukota Indonesia

Kepadatan penduduk maupun jumlah kendaraan di Ibukota memunculkan wacana pemindahan pusat pemerintahan Indonesia dari Jakarta ke kota lainnya. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memang belum mengambil sikap mengenai hal itu. Mereka baru mendorong adanya kajian serius.

Saat ini Jakarta memiliki banyak masalah. Mulai dari kemacetan akibat jumlah kendaraan bermotor tanpa diimbangi dengan perluasan jalan serta moda transportasi masal. Hingga jumlah penduduk di kota tersebut yang hampir menyentuh sepuluh juta sehingga menjadi salah satu pemicu masalah sosial. Bahkan, akibat terpusatnya pemerintahan dan bisnis di Jakarta, pertumbuhan di wilayah lainnya di tanah air tidak sebesar seperti seharusnya.

Hal tersebut terungkap dalam kunjungan tim Bappenas ke redaksi Jawa Pos, Rabu (28/7). Tim Bappenas diwakili oleh Sesmen Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Sestama Bappenas Syahrial Loetan; Max Pohan, Deputi Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah; Aryawan Soetiarso, kasubsdit transportasi jalan, serta jajaran humas. Dalam diskusi yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut, Jawa Pos menanyakan sikap Bappenas akan rencana pemindahan Ibukota. Atau lebih tepatnya cetak biru kota-kota di Indonesia seiring dengan meledaknya jumlah penduduk. Terutama di kota besar.

“Sebenarnya dalam beberapa pekan lalu, Bappenas melakukan insiatif mengadakan seminar nasional mengenai wacana pemindahan Ibukota,” kata Syahrial. ” Kami belum mengambil sikap (menerima atau menola rencana pemindahan, red). Ibu Armida (Menteri PPN/ Kepala Bappenas, Armida S Alisjahbana, Red) mengatakan hal ini bisa dikaji untuk jangka panjang.”

Baca Juga :  Pimpinan DPR: Polisi yang Joget India Tak Perlu Diberi Sanksi

Ada pihak yang menolak pemindahan Ibukota dari Jakarta dengan alasan banyak situs bersejarah pemerintah Indonesia yang berada yang dulunya bernama Sunda Kelapa itu. Tapi di sisi lain, pemusatan ekonomi dan pemerintah di satu titik menjadikan pemerintah Jakarta tidak bisa maksimal memberikan layanan pada publik.

“Karena itu, Jakarta memiliki pull factor (faktor penarik, Red) yang menjadikan masyarakat berbondong-bondong ke sana. Jakarta dijadikan pusat tidak saja pemerintah dan eknonomi, namun sampai menyentuh ke arah gaya hidup. Segala-galanya berbau Jakarta,” papar Max Pohan lebih lanjut.

Jika wacana pemindahan ibukota tidak terlaksana dalam waktu dekat, Bappenas berharap setidaknya ada upaya-upaya untuk mendistribusikan pertumbuhan ekonomi ke daerah. Dengan kata lain perlu diatur peningkatan ekonomi dan aktivitas bisnis di tempat lain.

“Dengan demikian kami berharap Jakarta bisa menjadi kota yang nyaman untuk bisa ditinggali. Lebih vibrant (hidup, red).”

Problematika lainnya di Jakarta adalah masalah kemacetan. Aryawan Soetiarso mengatakan bahwa sudah agak terlambat memikirkan bagaimana menyediakan moda transportasi masal.

Sumber: http://metrosiantar.com/METRO_TANJUNG_BALAI/Bappenas_Belum_Sikapi_Pemindahan_Ibukota_Indonesia

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*