Begini Cara ‘Mama’ Memangsa Korbannya

Ilustrasi

Kelompok penipu ‘mama’ terdiri beberapa orang yang tinggal di Pinrang dan Jakarta. Meski di pulau terpisah, mereka memiliki pembagian tugas antar anggota mulai dari riset calon korban, pengintaian hingga eksekusinya yang rapi. Polisi pun butuh waktu lama untuk membongkarnya.

Otak dari kelompok ini adalah Agus Setiawan, seorang warga Pinrang, Sulawesi Selatan, yang bertugas sebagai sebagai penyimpan uang tranfer dari para korban. Dia dibantu oleh Rendra yang juga bertugas sebagai penyimpan uang. Sedangkan Leni, Yoyo, Erni, Deni, dan Jon Amir melakukan tugas di lapangan yang berbeda.

“Mereka mencari calon korban potensial, misal dari 10 orang calon korban yang bisa dieksekusi paling satu atau dua di antaranya. Bisa seminggu, 10 hari, atau sebulan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, di Mapolres Jakarta Utara, Jl Yos Sudarso, Koja, Jakarta Utara, Selasa (4/12/2012).

Rikwanto menjelaskan para pelaku mencari calon korban potensial untuk mendapatkan kontak ponsel korbannya dan anaknya. Termasuk mencari tahu profil anaknya bersekolah, kegiatan, dan latar belakang ekonomi keluarga calon korbannya.

“Bisa pura-pura bertamu, ke hansip juga bisa, di yellowpages juga bisa, jadi berbagai cara,” ujar Rikwanto.

Kerapihan kerja kelompok ini sampai membuat repot korbannya yang mencoba mengkonfirmasi kabar buruk yang dikirim pelaku. Contoh kasus adalah kabar bahwa anaknya mengalami kecelakaan lalu lintas dan membutuhkan uang untuk keperluan operasi darurat. Korban yang mencoba mengkonfirmasikan kepada anaknya, sering gagal karena telepon si anak terus menerus dihubungi salah seorang anggota komplotan.

Kelompok penipu ini sudah bertahun-tahun melakukan aksinya dan terungkap berkat kerja sama dengan PT Telkom. Lokasi pengintaian mereka sendiri tidak terfokus di satu lokasi, bisa di mana saja.

“Mereka mengintai banyak tempat, mereka juga sudah bertahun-tahun. Sumber informasi kita lacak dengan PT Telkom terungkap ada yang di Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara. Jauh dari korban supaya begitu mereka terlanjur transfer korban akan patah semangat,” ujar Rikwanto.

Rikwanto mengungkap kasus yang mirip juga pernah ditangani Polda Metro Jaya, para pelakunya sampai memiliki rumah mewah, mobil mewah, dan uang ratusan juta rupiah. “Pernah kita tangkap yang seperti ini di Polda sampai ratusan juta, mereka punya rumah mewah, mobil Harrier,” ujar Rikwanto.

Menurut Rikwanto, modus kelompok penipu di penjaringan ini sangat mirip dengan modus sms yang berisi ‘Kirim ke rekening nomor sekian’ secara random. SMS menipu ini memiliki efek psikologis untuk korbannya yang sedang dalam masalah.

“Sama dengan yang SMS, silahkan kirim uang ke nomor rekening ini. Kebetulan ada korban yang lagi ada masalah langsung main kirim. Ini modus main pikiran,” ujar Rikwanto.

Sebelumnya, Polsek Penjaringan menerima laporan SH pada Senin (26/11) terkait penipuan yang menyebutkan anaknya WL mengalami kecelakaan. Walau sulit menghubungi anaknya karena rekan pelaku terus menerus menghubungi ponsel WL, akhir SH mengetahui anaknya baik-baik saja di sekolah dan sadar dirinya ditipu.

Dari para pelaku disita ratusan kartu ATM dan buku tabungan dari berbagai bank besar, 4 handphone, uang puluhan juta, dan bukti struk transaksi ATM. Para tersangka dijerat pasal penipuan yaitu 378 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

“Dari tersangka Rendra, 127 kartu ATM beserta buku tabungan, Agus Setiawan 23 buku tabungan, dari tersangka Nati 37 buku tabungan baru yang mau dikirim ke Agus Setiawan di Sulawesi Selatan, dan 10 buku tabungan dari Bahrudin,” ujar Kapolsek Penjaringan, AKBP Aries Syahbudin, di lokasi yang sama.
(vid/lh)

sumber : www.detik.com

POST ARCHIVE: This content is 5 years old. Please, read this content keeping its age in Mind
google Begini Cara Mama Memangsa Korbannyafacebook Begini Cara Mama Memangsa Korbannyatwitter Begini Cara Mama Memangsa Korbannyalinkedin Begini Cara Mama Memangsa Korbannyaemail Begini Cara Mama Memangsa Korbannyaprint Begini Cara Mama Memangsa Korbannya

1 Comment

  1. Baca tulisan ini jadi teringat orang tua terkena penipuan (ditelp orang tua bahwa anaknya tabrakan, serta perlu dana secepatnya, bahkan yang gilanya pakai bahasa batak sehingga nada suara hampir sama dengan suara saya membuat orang tua kalang kabuat dan tidak mikir panjang kirim uang pulsa saat itu) kejadian ini beberapa tahun lalu….
    Kejadian yang kedua menimpa tetangga tertipu juga dengan alasan saya lagi memerlukan pulsa segera dan akan segera dikembalikan dan harus dikirim pulsa itu secara cepat, dan teman tertipu hampir rp. 3 juta lebih saat itu… bahkan ini lebih rapi, dia tau kalau saya disuatu tempat lagi tugas diluar kantor…..
    Yang ketiga, saudara diluar Jabotabek, terima telp yang sama dengan mangatasnamakan saya juga, hanya kali ini, saudara berhasil menghubungi istri saya dan mengkonfirmasi apakah saya tabrakan atau tidak… dan beruntung terhindar saudara itu…

    Jadi sebagai orang yang sudah pernah korban dari penipuan ini, sebaiknya kalau benar tertangkap, maka perlu diberi hukuman yang berat dan jangan asal hukum-hukuman biasa… mengingat penipuan ini sudah masuk area direncanakan secara mereka…. banyak yang sudah tertipu akan sangat marah jika bertemu penipu seperti ini nantinya….
    Hukuman 3-4 tahun tidak cukup, karena saya yakin kalau sudah keluar akan lebih canggih lagi melakukan penipuan ini, maka dengan itu hukuman di atas 10 tahun sehubungan dengan era perubahan modern sangat pas untuk hukuman penipuan ini… (Sebagai kegerahan korban, hukuman diatas 10 tahun sangat pantas untuk hukuman penipuan ini)…

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*