Belajar dari Pilkada Sumut dan Jabar

Oleh: Hidayat Banjar *)

Sudah dapat dipastikan Pilkada Sumut untuk wilayah Kota Medan dimenangkan oleh golput (golongan putih) alias tidak memilih. Memilih untuk tidak memilih, sejatinya juga adalah pilihan. Pilihan untuk tidak memilih – walaupun jumlahnya besar atau pemenang – hasilnya adalah kosong atau hampa.

Bayangkan untuk wilayah Kota Medan dari DPT (Daftar Pemilih Tetap) 2.121.551 pemilih, yang tidak memilih sejumlah 63,38%. Kemenangan mutlak untuk golput. Kemenangan yang hampa. Sementara jumlah pemilih hanya 36.62%. Jumlah itu pun dibagi untuk lima kandidat yang bertarung menduduki kursi nomor satu Sumut periode 2013-2018. Meski sangat tidak sebanding, tapi itu ril, yang mendapat suara terbanyak dari 36,62 persen akan menduduki kursi Gubsu dan Wagubsu periode 2013-2018 bila di daerah lain juga menang.

Tujuan Sesat

Secara keseluruhan, berdasarkan hitungan cepat, pemenangnya juga adalah golput. Hasil hitungan cepat, golput melampaui 50%. Ya, kemenangan yang hampa. Namun kehampaan itu setidaknya menjadi cemeti bagi partai dan para kandidat. Banyaknya golput, bagi partai seyogianya dijadikan pelajaran, sudah sejauh manakah pendidikan politik dilaksanakan? Apakah partai sekadar gerombolan (kumpulan orang) atau mengusung ideologi? Apakah tujuan berpartai untuk mengusung ideologi atau sekadar mencapai tujuan sesaat yang sesat: kemenangan?

Bagi kandidat, perolehan suara dengan kemenangan golput ini pun dapat dijadikan pelajaran berharga, baik secara pribadi maupun komunitas. Secara pribadi, kemenangan golput ini merupakan cemeti, betapa sosok yang tampil kurang (tidak) memiliki magnitut bagi masyarakat. Secara komunitas – baik partai maupun ormas dan lainnya – perlu mempertanyakan militansi mereka dalam mengusung sosok yang dijagokan.

Dalam Pilkada Sumut dan Jabar militansi akar rumput (grass root) terlihat kuat pada PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan). Pada Pilkada Pilkada Sumut yang diselenggarakan Kamis (7 Maret 2013) dan Pilkada Jabar, Minggu 24 Februari 2013 terlihat kesolidan partai.

Warga Sumut dan Jawa Barat telah menunaikan hajatan politiknya, memilih pasangan gubernur dan wakil gubernur untuk periode 2013-2018. Pemilu Sumut dimenangkan oleh pasangan GanTeng (Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi). Sementara Jabar dimenangkan pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar.

Mengejutkan

Meski kemenangan kedua calon incumbent ini sudah diprediksi, keunggulan pasangan Aher-Deddy dan GanTeng mengejutkan. Sebab, parpol pengusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sedang didera masalah: mantan presiden Luthfi Hasan Ishaq dijerat kasus korupsi, dan putra Ketua Dewan Syura PKS Hilmi Aminuddin dicari KPK.

Baca Juga :  Hati-Hati, Kerusuhan Mesir Bisa Mengimbas Kita

Figur Aher yang mungkin dinilai berhasil membangun Jabar. Rakyat biasanya senang dengan incumbent. Begitu juga di Sumut, figur Gatot dan Tengku Erry yang lembut, disukai kaum ibu.

Kejutan lain adalah, keberhasilan pasangan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki menyalip Dede Yusuf-Lex Laksamana. Di Sumut, pasangan ESJA (Effendi Simbolon dan Jumiran Abdi) mengalahkan GusMan (Gus Irawan dan Soekirman).

Di Sumut, justru diprediksi pilkada berlangsung dua putaran. Putaran pertama diprediksi dengan GusMan di urutan pertama dan GanTeng di urutan kedua. Nah, pada putaran kedua, diyakini GanTeng akan mengalahkan GusMan. Nyatanya, GusMan hanya berada di peringkat ketiga perolehan suara.

Kenapa ini bisa terjadi? Padahal pasangan GusMan sudah membangun komunitas lebih dari tiga tahun sebelum pilkada berlangsung. Sementara pasangan ESJA mulai bekerja berkisar empat bulan sebelum hari H pilkada.

Jawabnya, mesin partai yang mengusung pasangan GusMan tidak bekerja maksimal, tidak memiliki militansi. Sementara kader-kader partai yang mengusung ESJA – khususnya PDIP – demikian solid.

Pada Pilkada Jabar keberhasilan Rieke-Teten juga tak disangka. Justru pasangan Dede-Lex yang diprediksi bakal bersaing ketat dengan Aher-Deddy. Rieke nomor 2. Ya ini termasuk yang tidak diprediksi sejak awal. Prediksi awal Rieka-Teten ada di nomor 3.

Efek Jokowi ini salah satu faktor yang memengaruhi keunggulan Rieke-Teten dan ESJA. Jokowi, Gubernur DKI Jakarta sebelumnya pernah menjadi juru kampanye bagi Rieke-Teten dan ESJA.

Militansi Kader

Di samping itu, melesatnya suara Rieke-Teten dan ESJA dikarenakan militansi kader PDI Perjuangan di tingkat akar rumput yang tinggi. Hal itu jauh berbeda dengan Partai Demokrat, sebagai pengusung Dede Yusuf (Jawa Barat) dan Amri-RE (Sumut), yang militansi kadernya masih dipertanyakan.

Sekali lagi, militansi kader PDIP cukup tinggi di Jawa Barat dan Sumut. Itu yang menyebabkan Rieke-Teten (Jabar) dan ESJA (Sumut) mampu berada di posisi ke dua. Militansi kader serupa terjadi di kubu Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar (Jabar) dan GanTeng (Sumut) yang diusung PKS. Kader PKS di tingkat akar rumput banyak berperan dalam memenangkan kedua pasangan cagub incumbent tersebut.

Baca Juga :  DPR Akan Mengkerdilkan KPK Untuk Selamatkan Anggota DPR Yang Korup?

Sementara itu, di media sosial, ditemukan adanya ‘efek Jokowi’ yang menerpa pasangan Rieke-Teten. Dari hasil pemantauan terlihat upaya pasangan Rieke-Teten untuk membawa Joko Widodo sebagai juru kampanye. Demikian pula terhadap pasangan ESJA di Sumut. Di samping soliditas kader PDIP, pun pengaruh Jokowi. Mendongkrak ESJA hingga berada di posisi kedua.

Rieke pun mengakui andil Jokowi. “Apa pun menurut saya, tentu saja sama ketika kami juga berjuang untuk Mas Jokowi. Dan kami saling memberikan effort, saling memberikan dampak-dampak positif. Saya tidak memungkiri pastilah ya,” kata Rieke sebelum berangkat ke Bandung, di kediamannya, Kukusan, Depok, Jawa Barat, Minggu petang (24/2/2013) lampau.

Satu pesan Jokowi kepada Rieke, meski tak berhasil jadi juara satu versi hitung cepat: jangan terburu-buru menyerah. “Berjuang terus berjuang! Seluruh relawan kita pertahankan,” kata Rieke.

Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari Pilkada Sumut dan Jabar, pribadi-pribadi punya magnitut kuat akan tetap dipilih oleh konstituen. Bila pribadi-pribadi yang kuat tersebut didukung kesolidan partai, kemenangan merupakan sebuah keniscayaan.

Sekaitan dengan itu, kemenangan golput merupakan tamparan dahsyat ke wajah partai. Karenanya, partai seyogianya membenahi diri dengan pengkaderan dan penanaman ideologi, bukan sekadar kemenangan. Ideologi kemenangan sejatinya merupakan tujuan sesaat yang membawa perahu partai ke tujuan sesat. ***

*) Penulis Peminat Masalah Sosial Budaya. Menetap di Medan

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*