Belajar ke Indonesia, Malaysia Kini Lebih Unggul Soal Pembangunan Tol

Bandung, (Analisa). Negeri jiran Malaysia kini memiliki kapasitas jalan tol jauh lebih baik dari Indonesia. Padahal negara tersebut pada awalnya belajar pembangunan tol dari Indonesia.

“Malaysia awalnya belajar bangun tol, tahun 1978 di Jagorawi. Sekarang mereka sudah buat tol dari Johor Baru sampai perbatasan Thailand,” kata Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo dalam acara dialog Menanti Kepastian Kenaikan Tarif Jalan Tol di Bandung, Senin (26/9) malam.

Ia mengatakan pembangunan tol di Indonesia begitu lambat walaupun sudah memiliki beberapa payung hukum undang-undang dan sudah terjadi silih bergantinya pemerintahan.

Sebelum adanya Undang-Undang (UU) 38 Tahun 2004 tentang Jalan, pada periode 1999-2004 pembangunan tol rata-rata hanya 15 Km per tahun.

Sementara sejak adanya UU No 38 Tahun 2004 atau sekitar periode 2003-2010 penambahan jalan tol hanya 48 Km per tahun. Meski mengalami kenaikan, namun pertambahan jalan tol di Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara lain seperti Malaysia, China dan lainnya.

“Dulu waktu Pak JK (Jusuf Kalla) punya target mau bangun jalan tol 1000 Km, seharusnya per tahun bisa bertambah 200 Km,” imbuh Sudaryatmo.

Hal ini pun diakui oleh Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Achmad Gani Ghazali yang mengatakan Indonesia memang terlambat dalam menambah jumlah ruas tol. Terutama pasca krisis tahun 1998 lalu yang menyebabkan banyak proyek tol tertunda.

Baca Juga :  Ketua DPD Ditangkap KPK: Detik-detik Penangkapan Irman Gusman

“Kita agak terlambat membangun jalan tol,” kata Gani.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak ditempat yang sama mengatakan dari sisi daya saing infrastruktur jalan termasuk jalan tol, Indonesia mencatat peningkatan yang positif.

Berdasarkan peringkat daya saing jalan berdasarkan World Economic Forum (WWF), pada tahun 2007 dari 136 negara, Indonesia hanya menempati urutan ke-113.

“Beberapa upaya kita lakukan saat mengimplementasikan udang-undang (jalan). Intinya kita memodernisasi jalan disitu, supaya pemain lebih banyak lagi, supaya Jasa Marga lebih mantap lagi daya saingnya,” jelasnya.

Hasilnya pada tahun 2008 daya saing Indonesia untuk infrastruktur jalan naik menjadi urutan ke-105. Kemudian tahun 2009 menempati urutan ke-95 dan tahun 2010 menduduki peringkat ke-84 dunia.

“Ini signfikan sekali, yang lain memang membangun, kita lebih membangun lebih cepat. Banyak jalan yang dilebarkan, tambahan jalan kita, seperti negara Jepang badan jalannya dilebarkan bukan berarti menambah lagi,” ucapnya. (dtc)

analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*