Belajar Terlalu Dini Bisa Bikin Anak-anak Frustrasi

“Anak-anak usia preschool sebaiknya diberi ruang lebih untuk bermain. Sebab di usia kurang dari 4 tahun, anak-anak masih membutuhkan waktu, ruang, dan ‘izin’ orangtua untuk menikmati masa-masa sebagai anak-anak, demi kesehatan mental mereka di kemudian hari,” ungkap Angela Hanscom, Pediatric Occupational Therapist, kepada Washington Post.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau lebih dulu populer dengan istilah preschool telah menjadi satu tahap pendidikan yang dianggap penting bagi sebagian orangtua. Harapannya, anak-anak bisa mulai belajar kemampuan dasar yang dianggap “penting” sebagai bekal pendidikan akademisnya.

Sehingga, untuk memenuhi ekspektasi tersebut, tak jarang pula PAUD sudah mulai fokus melakukan kegiatan akademis di kelas, seperti membaca, menulis, bahkan berhitung. Sehingga, anak diharapkan bisa mendapatkan nilai rata-rata dalam beberapa mata pelajaran.

Sayangnya, tak semua anak memiliki kemampuan dan keinginan yang sama. Malah, menurut Hanscom, hanya sebagian kecil anak-anak yang bisa menerima pelajaran tersebut di usia dini atau kurang dari 4 tahun. Selebihnya, saat anak-anak memang belum siap menerima pelajaran tersebut, maka akan sangat mungkin mengganggu perkembangan prilaku dan mental anak di kemudian hari.

“Beberapa masalah yang akan timbul ialah anak-anak menjadi lebih mudah frustrasi dengan tanda-tanda lebih sering menangis, kesulitan untuk fokus, kurang perhatian, sulit mengendalikan emosi, serta kemampuan memecahkan masalah menjadi berkurang,” jelas Hanscom.

Walau begitu, bukan berarti anak-anak usia dini tak bisa dikenalkan dengan pelajaran berhitung misalnya, hanya saja, sebaiknya dilakukan dengan cara yang menyenangkan di luar kelas. Sebab, anak-anak usia tersebut akan belajar dengan baik, melalui pengalaman bermain yang berarti.

Baca Juga :  Anak Bisa Jadi Pelaku Kekerasan Seksual

“Belajar di luar ruangan belum menjadi prioritas bagi sebagian besar penyelenggara pendidikan usia dini. Kebanyakan terlalu sering menggunakan ruang kelas dengan deretan meja, tempat duduk, kertas, dan pensil untuk mengerjakan tugas. Padahal, bermain sambil belajar di luar ruangan memberi anak-anak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sensorik, motorik, dan kognitif. Dan yang tak kalah penting, pengalaman di alam terbuka juga bisa membangun keterampilan dasar hidup anak dalam meraih kesuksesan di tahun-tahun yang akan datang,” lanjut Hanscom.

Hanscom memberi saran, ada baiknya orangtua memberi ruang pada anak-anak untuk belajar keterampilan lain di luar akademis pada usia dini. Bila tak mungkin mendapatkannya di sekolah, orangtua bisa melakukannya di rumah.


Penulis: Ayunda Pininta
Editor: Bestari Kumala Dewi
Sumber: POP SUGAR
CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*