Belasan siswa di Tulungagung pingsan saat upacara Hardiknas

Merdeka.com – Belasan siswa jatuh pingsan, saat mengikuti upacara bendera memperingati Hari Pendidikan nasional (Hardiknas) di halaman kantor Pemkab Tulungagung Jawa Timur. Siswa itu pingsan, karena diduga jadwal kegiatan molor sekitar satu jam.

Rata-rata peserta upacara yang jatuh tak sadarkan diri adalah siswa SMP dan SMA, karena tak kuat berdiri terlalu lama di bawah terik matahari. “Mereka sudah bersiap membentuk barisan dalam formatur upacara sejak pukul 07.00 WIB, namun kegiatan baru dimulai sekitar pukul 08.00 WIB,” tutur Bambang, salah seorang wali murid yang menyaksikan jalannya upacara bendera seperti dilaporkan Antara, Jumat (2/5).

Mencuat informasi, molornya jadwal upacara bendera dari pukul 07.00 WIB menjadi 08.00 WIB disebabkan Bupati Tulungagung, Sahri Mulyo terlambat datang ke lokasi kegiatan. Bupati Sahri yang berlatar belakang politisi itu, diketahui baru tiba ke lokasi upacara peringatan Hardiknas, sekitar pukul 08.00 WIB berikut rombongan forum pimpinan daerah.

Beberapa siswa, polisi maupun pegawai yang hadir menjadi peserta upacara bendera terdengar menggerutu dengan keterlambatan tersebut. Mereka kesal lantaran merasa “tersiksa” harus menunggu hampir sejam lebih, sehingga belasan bahkan puluhan peserta mengalami dehidrasi dan kelelahan.

“Kebanyakan siswa pingsan karena dehidrasi dan kelelahan, sebagian lagi mungkin karena sebelum berangkat upacara tidak sempat sarapan,” terang Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, dr Bahrudin, dan dia menyebutkan seluruh siswa yang jatuh pingsan ataupun dalam kondisi lemas dehidrasi telah tertangani tim medis yang siaga di tepi lokasi upacara.

Baca Juga :  4 Hari Terakhir Gunung Anak Krakatau Meletus di Atas 100 Kali

Dikonfirmasi mengenai insiden tersebut, Kabag Humas Pemkab Tulungagung, Mardjaji membantah Bupati Sahri Mulyo terlambat datang ke lokasi upacara. Ia membenarkan adanya insiden belasan siswa yang pingsan serta dalam kondisi lemas dehidrasi, namun Mardjaji memastikan hal itu karena para peserta upacara tidak mempersiapkan diri dari rumah.

“Tidak ada yang molor, upacara bendera dalam rangka peringatan hari besar ataupun hari bersejarah tertentu biasanya juga dilakukan mulai pukul 08.00 WIB. Pelaksanaan memang dilakukan sejak pukul 07.00 WIB karena persiapan membutuhkan waktu lama,” kilahnya.

Terlepas dari bantahan Mardjaji, sejumlah pihak mengaku sudah familiar dengan kebiasaan molor bupati dalam menghadiri kegiatan di pagi hari. Mereka menyebut kebiasaan buruk tersebut kerap dilakukan bupati lantaran gemar begadang hingga larut malam atau bahkan dini hari.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*