Belasan Warga Tapanuli Selatan Adukan Perbuatan Aparat Keamanan ke Komnas HAM

JAKARTA, – Belasan orang perwakilan warga Sungai Batang Toru Tapanuli Selatan datang ke Jakarta berusaha mencari langkah penyelesaian perselisihan antara warga dengan aparat dan perusahaan tambang bijih emas PT. Agincourt Resource (AR).

Pendamping warga Sungai Batang Toru, Bangun Siregar mengatakan, sejak 30 Oktober 2012, sekitar seribuan warga Sungai Batang Toru yang berada di 3 kecamatan, yakni kecamatan Batang Toru, kecamatan Muara Batang Toru, dan kecamatan Angkola Sakunur dan desa Batumundam kecamatan Singkuang kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara,  melarikan diri ke hutan bersembunyi menghindari kejaran aparat karena khawatir akan ditangkap atau dituduh provokator lantaran menolak rencana pembuangan limbah beracun tambang mas PT. AR.

Ketakutan warga terjadi karena dalam beberapa hari sebelumnya aparat (POLRI dan TNI) berusaha melakukan sweeping dan menahan belasan orang warga berjenis kelamin laki-laki. Dengan tidak adanya kaum pria dikawasan pemukiman warga disekitar tambang bijih mas, otomatis banyak lahan terbengkalai dan para istri serta anak-anak mereka kebingungan dan ketakutan di rumah.

Selama berada di Jakarta warga Sungai Batang Toru berusaha mencari perlindungan dan bantuan ke Komnasham, LPSK, Kontras, walhi dan Kompolnas kemarin.

“Kami ingin agar aparat keamanan, baik polisi maupun tentara tidak lagi bertindak dengan melakukan cara-cara yang represif dan menlakukan sweeping ke rumah-rumah warga, sehingga menimbulkan ketakutan tersendiri yang mengakibatkan para warga, khususnya pria berlari kehutan-hutan untuk menyelamatkan diri,” ujar Bangun Siregar usai mengikuti konferensi pers di posko BENDERA, Jakarta, Rabu (7/11).

Baca Juga :  Sejuknya Pemandian Pintu Air Panyambungan

Dari puluhan pria yang ditangkap polisi pada awalnya, saat ini berkurang menjadi tinggal 16 orang yang resmi dijadikan tersangka. Untuk mendapatkan perlindungan perwakilan warga Batang Toru sudah mendatangi Komnasham, LPSK, Kontras, dan Walhi, bahkan mereka juga berencana hendak melapor ke Kompolnas.

Harapan mereka tak lain adalah agar pemerintah mau mendengarkan masalah yang terjadi di Batang Toru sekarang ini. “Kami tidak akan pulang sebelum ada hasil dari langkah-langkah yang kami lakukan di Jakarta,  kalau perlu kami akan membawa masalah ini ke tingkat internasional,” ujar Bangun Siregar.

Perselisihan antara warga sungai Batang Toru dengan aparat dan pihak perusahaan diawali dengan peristiwa penolakan rencana pembuangan timbal beracun sisa explorasi tambang mas PT.AR yang dilakukan dengan meletakan pipa-pipa di desa Telo kecamatan Batang Toru pada Maret 2012.

Belakangan warga baru mengetahui kalau pipa-pipa itu nantinya akan ditanam didalam tanah untuk dijadikan saluran pembuangan limbah tambang yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya (racun) seperti arsenik, yang diarahkan ke aliran sungai Batang Toru. (Andini)

Sumber: www.beritanda.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*