Belum Difungsikan, Irigasi Sialagundi Sudah Retak-retak

Dinas Pekerjaan Umum (PU) Tapanuli Selatan diragukan kinerjanya. Pasalnya, proyek rehabilitasi saluran irigasi yang dikerjakan PU di Desa Sialagundi, Kecamatan Sipirok, sudah rusak dan retak-retak. Padahal saluran irigasi tersebut belum difungsikan.

Amatan METRO, Jumat (26/11), irigasi yang dimaksudkan untuk sarana pengairan lahan pertanian warga itu, dinding dan lantainya mulai retak. Padahal proyek yang dikerjakan Mei hingga Agustus 2010 dengan dana sekitar Rp200 juta yang bersumber dari DAU TA 2010, belum difungsikan untuk mengaliri sawah-sawah warga.

Kepala Desa Sialagundi, Syafruddin Siregar kepada METRO mengatakan, keberadaan saluran irigasi tersebut sangat vital bagi areal persawahan Desa Silagundi sekitarnya (Saba Bolak). Tentunya menjelang musim tanam masyarakat petani sangat mengharapkan saluran irigasi tersebut dapat berfungsi secara maksimal agar pola pertanian tanaman padi diwilayah mereka tidak terganggu.

“Sebagian besar pasokan air menuju Saba Bolak bersumber dari saluran itu, kalau sempat dek yang rusak mengalami kebocoran atau nantinya anjlok dapat dipastikan pasokan air akan jauh berkurang. Akibatnya, bukan saja petani dari Desa Silagundi tetapi seluruh warga yang lahannya ada persawahan Saba Bolak, terganggu panennya,” katanya.

Keresahan itu juga dirasakan warga sekitar. ‘’Proyek irigasi ini menelan ratusan juta biayanya. Tapi belum berfungsi, kok sudah retak-retak. Apalagi kalau dialiri air, bisa-bisa jebol. Seperti asal-asalan kerja Dinas PU ini,’’keluh warga. (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Liverpool: Torres Memang Minta Dijual

2 Komentar

  1. Masalalah BELUm difungsikan itu berarti perencanaan kurang Matang karena berarti proyek tersebut belum URGEN ditenpat tersebut (berarti tdk ada skala prioritas dalam pembanguanan),
    SIAPA yg salah (UCOK REgar nanya) proyek tersebut biasanya ada jaminan pemeliharan selama 6 bulan setalah pryrk serah terima I. Idealnya klo pekerjaan konstruksi sesuai dengan standar bangunan konstruksi (SNI) dapat dipastikan pekerjaan akan baik.. Nah klo tdk berartin ada beberapa faktor penyebanya pertama Mungkin krna ada fee yg terlalu besar sehingga cost rekanan besar jadi dgn terpasa kualiats dikurangi, Kemungkinan lain Rekanan memang berniat tdk baik dgn, dan bersekongkol dengan pengawas lapangan atau pengawas lapangan yg Goblok gak ngerti pekerjaan yg diawasinya

  2. Jika si A adalah pekerja, si B adalah Pengawas dan si C adalah Pemberi kerja dengan standar mutu yang ditetapkan, jika hasil kerjaan si A selesai dan pekerjaan disudah diakui oleh si Pemberi Kerja, pertanyannya jika terjadi sesuatu atas yang dikerjakan sebelum standar mutu yang ditetapkan oleh sipemberi kerja rusak, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan itu. Atau jika hasil pekerjaan si A rusak setelah standar mutu yang ditetapkan si pemberi kerja sudah memenuhi sarat, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan itu juga?

    Banyak proyek seperti ini terjadi yang pada akhirnya saling menyalahkan satu sama lainnya?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*