Bendahara Satpol PP Kab. Mandailing Natal Serahkan Diri

Bendahara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Yusnilahayati didampingi suami Alimuda dan kuasa hukumnya Ridwan Rangkuti SH MH, menyerahkan diri ke kantor Kejari Panyabungan, Jalan Willem Iskandar, Kelurahan Dalan Lidang, Kecamatan Panyabungan, Rabu (14/7) sekira pukul 14.30 WIB.

Yusnilahayati saat ditemui METRO sebelum menjalani pemeriksaan mengatakan, pihaknya tak pernah menerima surat panggilan sebelumnya.”Saya baru menerima surat itu hari ini (Rabu 14/7, red). Sebagai warga yang taat hukum, saya datang ke kejari untuk memenuhi panggilan,” aku Yusnilahayati.

Yusnilahayati menambahkan, pemanggilan dirinya terkait honorarium honor Satpol PP yang tidak disalurkan kepada 55 honor pada tahun 2009 lalu. Padahal, sesuai pengakuannya itu sudah dibayarkan.

“Kasusnya terkait gaji atau honor pegawai non PNS sebanyak 55 orang. Anggaran yang kami terima untuk gaji atau honor bagi pegawai non PNS itu sebesar 369 juta dan itu semua sudah saya salurkan,” katanya singkat.

Sementara itu, suami Yusnilahayati, Alimuda yang mendampinginya sebelum pemeriksaan menambahkan, bahwa pihaknya kesal dengan sikap Pemkab Madina yang terkesan tidak memberikan perlindungan hukum atau pembelaan kepada istrinya.

“Saya yakin istri saya tak bersalah, istri saya hanya korban. Seharusnya pemkab ikut bertanggung jawab. Namun, hingga hari ini Pemkab tak kunjung memberikan perlindungan hukum,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Ridwan Rangkuti SH MH. Menurut pria ini, kliennya yang berprofesi sebagai PNS di lingkungan Pemkab Madina seharusnya mendapatkan perhatian dan pembelaan hukum dari pemerintah.

“Perlu diingat, kedatangan Yusnilahayati hanya untuk memenuhi panggilan dari Kejari, sekaligus menyerahkan diri karena sudah ditetapkan sebagai tersangka. Hal ini membuktikan bahwa kita mematuhi prosedur hukum yang berlaku,” sebutnya.

Sementara itu, Kajari Panyabungan Danang Purwoko SH, melalui Kepala Pemeriksa Kejaksaan (Kariksa) Kejari Madina, Muttaqin Harahap SH, saat ditemui di ruangannya usai melakukan pemeriksaan, mengaku, bahwa surat penangkapan sudah mereka layangkan pada 12 Juli lalu.

Kejari, sambung Muttaqin, sudah menyampaikan surat permohonan bantuan kepada Polres untuk melakukan pencarian, sejak dikeluarkan surat perintah penangkapan. Dan Kejari Panyabungan telah melakukan pencarian di beberapa tempat di Panyabungan semisal di rumah, kantor dan beberapa tempat lainnya.

Baca Juga :  Drainase Jalinsum Tarutung-Padangsidimpuan Dibersihkan

“Tersangka yang kita cari sudah menyerahkan diri dan akan ditahan di rutan selama 20 hari terhitung hari ini (Rabu 14/7, red) sebagai tahanan penyidik,” katanya.

Disampaikannya, tidak tertutup kemungkinan akan ada lagi tersangka selain dari kedua tersangka yang sudah ditetapkan tetapi dalam hal ini Kejari masih dalam proses pengembangan kasus dan pemeriksaan terhadap 13 orang saksi hingga Kamis (15/7).

“Kita masih melakukan pengembangan dari barang bukti yang telah ada. Dari itu nanti kita bisa lihat apakah masih ada tersangka lain dan saksi yang akan diperiksa sebanyak 13 orang hingga Kamis,” pungkasnya.

Sebelumnya diwartakan, barang-barang atau dokumen di Kantor Satpol PP Madina Senin (12/7) sore lalu, digeledah sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, di mana mereka khawatir jika masih diperlama penyerahannya, bisa saja dokumentasi yang dibutuhkan direkayasa oleh pihak tertentu. Dan itu juga sebagaimana ditegaskan Kajari Danang Purwoko dengan mengeluarkan surat perintah tugas atas penggeledahan tersebut.

“Kami menilai Kantor Satpol PP dalam hal ini tidak kooperatif, karena Kejari sudah berulang kali melayangkan surat sejak bulan 4 (April 2010, red) lalu, tapi sama sekali tidak diindahkan oleh Satpol PP. Makanya kemarin (Senin, red) kita geledah semuanya,” ungkap Muttaqin.

Dijelaskannya, motif kasus tersebut adalah masalah gaji honorer yang tidak dibayarkan oleh Kepala Kantor (Kakan) Satpol PP selama tahun 2009. Di mana dalam kasus tersebut yang sudah ditetapkan sebagai tersangka sebanyak dua orang yakni Kakan Satpol PP yakni Ali Atas Nasution bersama Bendahara Yusnilawati.

“Kita sudah amankan satu orang yakni Kepala Kantornya, sedangkan tersangka lain yakni Bendahara Yusnilawati belum bisa ditemukan. Dan hari ini kami sudah melayangkan surat kepada Polres Madina untuk dibantu dalam pencarian,” terangnya.

Di samping kedua tersangka yang telah ditetapkan, lanjut Muttaqin, tidak tertutup kemungkinan jumlah tersangkanya akan bertambah, karena Kejari saat ini masih dalam pengembangan kasus. Dan kalau ternyata sesuai fakta dan bukti serta keterangan saksi membuktikan masih ada tersangka lain, Kejari akan terus melanjutkan dan mengembangkan kasus tersebut. “Kita sekarang masih mengumpulkan bukti dan melakukan pengembangan yang diperoleh dari saksi-saksi. Dan sesuai fakta dan bukti kalau ada yang terbukti maka tersangkanya bisa saja bertambah,” tambahnya.

Baca Juga :  Guru dan Santri Darul Mursyid Study Tour ke Malaysia

Adapun yang disita dan diamankan saat personel Kejari menggeledah kantor Satpol PP Senin (12/7) lalu yakni seluruh dokumen yang terkait dengan anggaran pada tahun 2009.

“Kita membawa seluruh dokumen yang berkaitan dengan anggaran tahun 2009. Komputer, laptop yang kami bawa kemarin hanya untuk bahan pemeriksaan saja tentang data dan dokumen yang ada di dalamnya,” ujarnya.

Soal dugaan kerugian negara yang diperkirakan dalam kasus tersebut, terang Muttaqin, sebesar Rp100 juta. Namun jumlah itu belum diaudit secara detail atau secara keseluruhan. “Kita kan belum melakukan audit terkait jumlah kerugian negara dan yang diperkirakan saat ini baru sebesar sekira Rp100 juta dari uang honorarium pegawai non PNS di lingkungan Kantor Satpol PP yang seharusnya dibayarkan tapi tak dibayarkan. Dan sekarang kita sudah memeriksa 13 saksi, dan jumlah ini akan terus bertambah. Dan kalau tidak salah bisa mencapai 60 orang saksi,” tuturnya.

Sumber: http://metrosiantar.com/Metro_Tabagsel/Lanjutan_Kasus_Dugaan_Korupsi_Honorarium_Honor_Satpol_PP

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*