Benih Terorisme di Sekitar Kita

(politikana)

Munculnya bom bunuh diri di Cirebon menunjukkan perang terhadap terorisme belum menyentuh akar persoalan. Sudah ratusan orang yang terlibat jaringan terorisme diringkus polisi, tapi tindakan represif belum membuat aksi radikal menghilang. Kita masih menghadapi pekerjaan besar untuk menumpas benih-benih kegiatan berbahaya ini.

Teror bom kali ini amat mengejutkan karena terjadi di dalam masjid, sesaat menjelang dilakukan salat Jumat. Tempat ibadah itu pun tidak berada di sembarang lokasi, melainkan di dalam kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat. Akibatnya, 26 polisi terluka, termasuk Kapolresta Ajun Komisaris Besar Herukoco.

Polisi telah mengidentifikasi bahwa pelaku bom bunuh diri itu adalah M. Syarif, pemuda yang lahir dan besar di wilayah tersebut. Diyakini, ia tak bekerja sendirian, tapi melibatkan jaringan yang lumayan kuat. Ini jelas merisaukan karena menggambarkan masih hidupnya kegiatan terorisme. Bagaimanapun, diperlukan proses cukup panjang untuk merekrut dan membujuk seseorang agar bersedia terlibat dalam aktivitas terlarang ini, apalagi sampai merelakan nyawanya.

Membongkar jaringan yang terlibat dalam aksi bom bunuh diri tersebut mesti dilakukan. Publik perlu memberikan dukungan penuh kepada kepolisian karena sekarang mereka jadi sasaran teror. Bahkan mengungkap dalang di balik bom Cirebon pun belum menjamin bahwa kegiatan terorisme akan segera mereda. Pemerintah bersama masyarakat masih perlu menggencarkan gerakan melawan segala hal yang berhubungan dengan terorisme, dari ajaran sampai kegiatan mereka.

Baca Juga :  Gatot Pujonugroho Bukan Arogan, Tapi Mengajak Ke Sebuah Jalan Lurus

Terorisme akan terus muncul jika ideologi radikal masih dibiarkan bersemi di masyarakat. Para penganut radikalisme ini meyakini paham merekalah yang paling benar. Di Indonesia, radikalisme acap dilekatkan dengan gerakan Islam karena pelaku yang sudah tertangkap kerap mengklaim aktivitasnya sebagai sebuah jihad.

Deradikalisasi perlu dilakukan guna mencegah tumbuhnya ideologi ekstrem yang menabrak segala aturan masyarakat maupun negara itu. Gerakan antiterorisme ini juga bertujuan menebarkan keyakinan bahwa agama mana pun tak membenarkan aksi kekerasan dalam mencapai tujuan. Upaya tersebut sebenarnya sudah dilakukan kepolisian, namun hanya terbatas pada narapidana kasus terorisme dengan hasil belum optimal.

Tak sedikit narapidana kasus terorisme ini akan kembali beraksi begitu bebas. Di luar penjara, jaringan terorisme terus giat melakukan rekrutmen anggota baru, kebanyakan di antaranya dari kaum muda. Tertangkapnya enam remaja di Klaten yang berusia di bawah 20 tahun dalam kasus terorisme Januari lalu merupakan salah satu bukti. Data juga menunjukkan, di antara 500-an tersangka teroris yang ditangkap oleh Densus 88, sekitar 80 persen adalah kaum muda.

Penyemaian benih-benih radikalisme biasanya dilakukan secara sistematis, halus, dan tertutup. Aktivitas semacam ini mesti dilawan seluruh elemen masyarakat, seperti pengajar agama, guru, dan setiap keluarga. Masyarakatlah yang paling awal tahu setiap kejanggalan yang muncul di lingkungannya–termasuk yang muncul di kalangan pemuda. Tak perlu mencari jauh-jauh, benih-benih terorisme itu sangat mungkin berada di sekitar kita. (TEMPOINTERAKTIF.COM)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Pemerintahan Orde Mafia (?)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*