Bentrok Perbatasan Riau-Sumut – 5 Korban Tembak Dioperasi di Pasir, 5 Warga Rohul Masih Hilang

Bentrok di perbatasan Riau-Sumut di Rohul juga menyebabkan 5 warga hilang. Sementara 5 korban tembak dioperasi di RSUD Pasirpangaraian.

Riauterkini-TAMBUSAI- Bentrok fisik antara puluhan security PT Mazuma Agro Indonesia (MAI) dibantu puluhan BKO Brimob Polda Sumatera Utara (Sumut) di areal konflik perbatasan Riau-Sumut menyebabkan enam warga Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, mengalami luka tembak di bagian betis, paha, pangkal paha dan bahu tangan, Kamis (2/2/12).

Dari enam korban yang mengalami luka tembak, lima diantaranya Osmar Sihombing (30), Franky Dolok Saribu (30), Nomos Sihombing (34), Johanes Sitorus (35), dan Ranto Sirait (27), diperkirakan tidak dirujuk ke rumah sakit di Pekanbaru, karena peluru yang bersarang masih bisa dikeluarkan dengan operasi kecil.

Kelimanya, menurut Helma Ginting, salah seorang dokter jaga di UGD akan dioperasi di RSUD Pasirpangaraian, mereka telah mendapat perawatan di rumah sakit dan rata-rata mengalami luka tembak di bagian pangkal paha dan betis kaku, yakni seorang korban tertembak di bagian betis dan empat lainnya di bagian pangkal paha.

“Para korban hanya tertembak peluru karet, bukan peluru tajam. Kelima korban tidak ada rencana untuk dirujuk ke rumah sakit di Pekanbaru, mereka akan menjalani dioperasi di sini,” ungkapnya.

Sementara seorang korban lainnya, Joni Sihotang (58), hanya dirawat di Puskesmas Dalu-dalu Tambusai. Ia dikabarkan hanya terserempet peluru di bagian bahu kirinya. Joni merupakan korban terakhir yang ditemukan warga di semak-semak tak jauh dari lokasi bentrok. Ia ditemukan sudah lemas tak bisa bicara karena mengalami trauma dan rasa sakit akibat luka tembak.

Sementara lima warga lainnya belum ditemukan. Warga setempat H Sinaga, menduga kelimanya ditahan pihak PT.MAI. Katanya, ratusan warga masih dalam pencarian kelimanya di lokasi bentrok yang merupakan areal konflik lahan seluas 5.800 hektar, di perbatasan Desa Batang Kumu Tambusai, dengan Dusun Huta Parit, Desa Sei Korang, Kecamatan Huta Raja, Kabupaten Padang Lawas, Sumut.

Namun, ungkap Sinaga, hingga Kamis malam, atau sampai berita ini turun, kelima warga yang belum diketahui identitasnya tersebut, belum juga ditemukan. Tanpa rasa takut, ratusan warga Batang Kumu masuk ke areal konflik yang diklaim Taslim Batubara, pemilik PT MAI merupakan lahan perkebunannya.

Baca Juga :  KPK Sita Jaguar Syamsul Arifin

“Bersama ratusan warga di lokasi, suasana mencekam. Tidak ada lagi aktifitas karyawan perusahaan, mungkin perusahaan menarik seluruh pasukannya dari lahan konflik,” katanya kepada riauterkini.com.

Di RSUD Pasirpangaraian, keadaan lima korban sudah mendapat perawatan intensif di UGD. Menurut salah seorang korban, Osmar Sihombing (30), sekitar pukul 08.00 WIB bentrok telah terjadi, sebelum ia tiba di lokasi.

Ketika sampai di lokasi bentrok, menyusul rekan-rekannya yang telah berkumpul di lapangan. Sesampainya di lokasi ia sangat terkejut melihat warga sudah berhamburan ke segala arah menyelamatkan diri, dan tak lama letusan senjata mulai terdengar. Tanpa sadar, ia juga turut menjadi korban penembakan.

“Ketika saya tiba di lokasi jam sembilan pagi, warga sudah terlihat kejar-kejaran dengan security dan Polisi. Saya tidak sempat memutar sepeda motor, sebab itu saya lari juga ke semak-semak, tapi malah saya yang jadi sasaran peluru,” cerita Osmar kepada riauterkini.com, masih terlihat lemas dan menahan sakit akibat luka tembak di betisnya.

Osmar menambahkan, aksi kejaran-kejaran terjadi begitu cepat. Puluhan oknum BKO Brimob Polda Sumut di bawah komando Polres Tapanuli Selatan, Sumut, tanpa ampun mengejar warga yang lari ke segala arah hingga ke perkampungan yang masih masuk dalam wilayah administrasi Desa Batang Kumu.

Masih di tempat sama, korban lainnya, Dolok Saribu (30), mengalami luka tembak di bagian pangkal pahanya, membenarkan saat peristiwa terjadi, puluhan security PT.MAI dibantu puluhan personil Brimob Polda Sumut yang bersenjata laras panjang, mengejar warga seperti memburu binatang.

“Bentrok terjadi karena security PT MAI tidak bisa menahan emosinya ketika kami ke lahan konflik. Mereka lah yang menjadi provokator dan mengajak kami berkelahi,” kesalnya.

Warga dan security yang dibantu BKO Brimob Polda Sumut sempat bersitegang, namun tanpa ba bi bu terjadi bentrok fisik dan berujung aksi kejar-kejaran. Akibatnya, bentrok tak terhindarkan dan berakhir dengan aksi penembakan yang membabi buta.

Baca Juga :  Gunungan Kasus Di Perkebunan PT. Rendi Permata Raya

“Kita akan menuntut pihak Polda Sumut dan PT MAI, sebab kami ditembak seperti binatang tanpa ada tembakan peringatan. Security juga dilengkapi senjata laras panjang oleh perusahaan,” ungkapnya.

Sampai Kamis malam, warga Batang Kumu Tambusai terus berdatangan ke RSUD Pasirpangaraian. Mereka mengaku ingin melihat langsung rekan-rekannya yang telah menjadi korban aksi kebutralan petugas yang seharusnya jadi penganyom dan pelindung masyarakat.

Selain mengutuk aksi penembakan tersebut, warga juga semakin berani. Bahkan direncakan, Jumat (3/2/12) mereka akan lakukan sweeping ke lokasi konflik yang diklaim PT.MAI lahan perkebunannya.

*Bupati Rohul Desak Pemerintah Selesaikan Perbatasan*

Di lain tempat, Bupati Rohul Achmad, dikonfirmasi riauterkini.com melalui Kabag Humas Setda Irwandi, mengaku prihatin atas kejadian yang menimpa warganya. Ia mendesak pemerintah provinsi dan pusat segera selesaikan konflik berkepanjangan di wilayah perbatasan Riau-Sumut yang merupakan masih masuk dalam wilayah kerjanya.

“Atas peristiwa penembakan di perbatasan, Pak Bupati merasa prihatin, ia minta kiranya kasus tersebut diusut sampai tuntas,” sampai Kabag Humas Irwandi.***(zal)

http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=43478

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. mau dibawa kemana negara indonesia ini,,, hanya masalah perbatasan daerah saja sudah ada pertumpahan darah,,, katanya satu bangsa satu negara,,, anggota brimob hanya berani disarangnya saja klo berani maem tembak buktikan di perbatasan indonesia – malaysia,, itu yang perlu diperjuangkan,,,,

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*