Bersahabat dengan Lebah

(Analisa/sarifuddin siregar) TERNAK LEBAH: Rusben Berutu (51) penduduk Dusun Maneas Desa Ulumerah Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu Kabupaten Pakpak Bharat beternak lebah secara alami guna menghasilkan madu.

Oleh: Sarifuddin Siregar.

CUACA siang itu  terasa terik. Langit tampak biru cerah sementara angin berhembus sepoi. Menyengarkan!  Hutan belantara tertengok memanjang membiru menggambarkan  betapa  Tuhan menyediakan ragam potensi untuk dikelola manusia. Sesekali, kicauan  burung terdengar beraneka bersahutan membuat  hati berkesan suka.

Pun begitu, suasanya terasa sepi dan sunyi. Jalan berhotmix  masih amat jarang dilintasi kendaraan. Rumah kebanyakan terbuat dari kayu berkonstruksi seadanya berdiri  agak jarang.  Tidak jamak penduduk terlihat berdiri atau duduk di pekarangan mereka. Kata beberapa penduduk umumnya mereka banting tulang ke ladang. Bertani merupakan sandaran ekonomi keluarga.

Demikian sekilas masyarakat dan originalitas  panorama  di Dusun Maneas, Desa Ulumerah Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat.

Entah datang dari mana, kerumunan lebah terbang mirip saling mengkawal mendekat ke sebuah kotak tergantung di sebuah pohon tak jauh dari posisi kami. Jumlahnya mencapai puluhan ribu, bergerak bagai sebuah bulatan.  Suara getaran sayap menyemburkan nada kekompakan saling bersahutan. Populasi itu berkeliling lumayan lama hingga akhirnya membentuk gumpalan kloni di sebuah cabang pohon di dekat  kotak tadi. Kendati  sudah berkumpul hingga akhirnya membentuk tumpukan warna coklat pekat, beberapa di antara organisme tersebut tetap saja terbang.  Kata orang, memang ada pasukan kelas prajurit. Serangga itu juga punya kasta. Ada bos, panglima dan tingkatan lainnya. Prajurit biasanya lebih lelah dan berada di lapis terluar lantaran mesti  patroli guna memastikan suasana sekitar dalam kondisi aman.

Kalau belum terbiasa, boleh jadi, komunitas serangga itu menimbulkan  ketakutan. Mengapa? Sengatan seekor saja membikin  kulit benjol. Makin digaruk makin bengkak dan gatal. Bayangkan kalau serangan dilakukan puluhan ekor.

Baca Juga :  Kaligis: Nazaruddin Akan Dibungkam

Atas dasar ketakutan tadi, di sebagian  daerah, petani memilih membakar bila di areal pertaniannya mendadak jadi titik persinggahan lebah.  Empunya lahan terkadang membayar warga untuk mengabukan di malam hari.

Keteladanan telah diwujudkan rakyat di Desa Ulumerah. Di sini,  warga membangun persahabatan dengan alam. Mereka membuat formula bahwa serangga itu bukanlah musuh. Malah, budidaya lebah  terbukti membantu mereka buat menambah penghasilan rumah tangga.

Tak heran, sepanjang jalan di perkampungan itu,  kotak kayu  berwarna agak usang dan bulatan dipajang di bawah pohon di areal terbuka.

Sebagian lagi, digantungkan di pekarangan rumah, yakni di sekitaran batang kopi atau atau dapur.  Perangkap itu terbilang banyak dibuat.

Pelestarian Hutan

Rusben Berutu (45) memilih membudidayakan lebah di  samping kediaman. Hanya saja, pengelolaan dilakukan secara tradisional. Kotak sarang dibikin dari kayu rongsokan bahan  bangunan. Pintu dipasang di sisi depan.

Bahan sarang juga bisa diracang dari  pohon pakis berusia tua dan berlobang. Untuk perangkap ini, lobang ditaruh di posisi atas.  Kunci usaha hanya satu, jangan sekali-kali bahan itu berbau cat atau produk pabrikan lainnya. Makanya, papan baru olahan  tak boleh dipakai.

Kotak-kotak  berukuran 25 x 35 sentimeter dan bekas batang pakis sepanjang 40 sentimeter    tadi diletakkan sejajar berjarak satu meter di atas meja darurat berbahan bambu. Tidak ada perlakuan khusus. Tetapi, tempat mesti terhindar dari semut.

Menurutnya, lebah membutuhkan  tempat tinggal nyaman  sebagaimana manusia. Kalau di hutan, kawanan serangga ini bisa diserang elang dan beruang  serta binatang lainnya untuk menghisap madu. Itu sebabnya, pelintas kerap menjadi sasaran  lebah bila rumahnya disapu predator. Sebaliknya, penyediaan rumah rekayasa itu berdampak pada ketenangan.

Baca Juga :  Golkar Akan Habis-habisan Bela Nurdin

Rusben menuturkan, memiliki 30 kotak. Panen biasanya jatuh pada  Mei dan Oktober. Rejeki itu tergantung musim bunga. Kalau tanaman dan pepohonan di hutan berbunga lebat, madu pasti banyak dituai. Usaha di lahan seluas 4 x 5 meter itu berpotensi menyumbangkan  25 botol madu sekali panen. Dia pun menjual seharga Rp 100.000 per botol kepada pembeli. Penduduk tidak repot mencari pemasaran sebab pedagang pengumpul datang ke lokasi mereka. Pasokan malah kurang.  Kalau mau asli tanpa campuran, madu ulumerah layak patut dikonsumsi.

Juhari Berutu (51)  menjelaskan hal serupa. Diakui, keberadaan ternak itu lumayan membantu ekonomi keluarga. Warga mengapresiasi komitmen Bupati Remigo Yolando Berutu dalam  mempertahankan kelestarian alam. Prinsip itu diharap dilanjutkan di hari mendatang.  Masyarakat  berpendapat, kalau eksosistem rusak, kalau hutan dibabat, lebah bakal  pindah atau sirna sebab habitatnya terusik.  Rakyat mendamba, Bupati tidak mengeluarkan rekomendasi eksploitasi hutan.

Sepengetahuan  penduduk, kepala daerah selalu memperhatikan unsur  keseimbangan lingkungan  dalam kebijakan pembangunan.  Selama ini, mereka bisa hidup berdampingan serta mengambil rupiah dengan menyediakan ruang bagi ‘ranggiting’./analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. : cari bee je ea jgn buat..haha@ Green Apple : hahaha..sekali sealka nakal..hehe@ syufaa : kekeke..mmg cari psl..@ nowriz : eya..kasi bengkak mn2 la yg d mau..hahahaha@ nGiau : hahahaha..well do try if u want..hahaha@ Aniz : hahaha..xnk xnk..@ PK : hahaha..ko memang@ syrupmasin : haha..tak pernah ! hahaha..idea je..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*