Biaya Pembangunan PLTA Batang Toru Di Kec. Marancar Butuh Rp. 3,9 T

Pembangunan PLTA Batang Toru di Kecamatan Marancar diperkirakan akan menelan dana sekitar Rp3,9 triliun. Ini berdasarkan laporan dan penjelasan kemajuan dari survey yang dilakukan PT North Sumatra Hydro Energy selaku investor kepada Pemkab Tapsel. Sementara Bupati Syahrul Pasaribu berharap akhir tahun ini, pembangunan PLTA sudah memasuki tahapan konstruksi.

Kepada METRO, Bupati Tapsel Syahrul Pasaribu, Kamis (24/3) mengutarakan, sumber energi pemutar turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tersebut dari air aliran Sungai Batang Toru. Diperkirakan potensi tenaga listriknya sebesar sekitar 100 Mega Watt (MW). Investor pembangunan PLTA itu adalah pihak swasta PT North Sumatra Hydro Energy dari Dharma Wangsa Group, yang saat ini sedang melakukan studi kelayakan.

Ditambahkan Syahrul, selain pembangunan PLTA Batang Toru, investor lain juga merencanankan akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) berkapasitas 20 MW di Kecamatan Aek Bilah pada tahun ini. Saat ini investor masih dalam tahap studi kelayakan. “Kita mendorong investor untuk berinvestasi di Tapsel ini dan berharap dua pembangkit listrik tersebut di akhir tahun 2011 ini sudah memasuki masa konstruksi,” harap Bupati.

Rencana pembangunan PLTA dan PLTMH tersebut, sebut Bupati, merupakan langkah kebijakan yang diambil pemerintah daerah dalam melakukan percepatan pembangunan. Apalagi, dua pembangkit listrik itu relatif lebih ramah lingkungan, karena sumber energinya adalah air sebagai penggerak turbin. Diharapkan dalam empat tahun ke depan, jika proses pembangunan pembangkit listrik tersebut berjalan baik, kebutuhan listrik daerah dengan sistem interconection untuk wilayah Tapsel sudah mencukupi. Bahkan, bisa menyuplai kebutuhan listrik untuk aktifitas tambang emas Batang Toru nantinya.

“Empat tahun ke depan kita berharap kebutuhan listrik di Tapsel tak perlu lagi subsidi dari daerah luar,” pungkas Bupati.
Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Tapsel Ir Baduaman Siregar MM kepada METRO mengatakan, berdasarkan laporan dan penjelasan kemajuan dari survey yang dilakukan pihak PT North Sumatra Hydro Energy, ada tiga titik sumber air untuk dua power house (2 turbin) PLTA nantinya yaitu di Batang Toru (BT) 3 di Aek Nabara, BT 4 di Simaninggir, dan BT 5 di Huraba.

Baca Juga :  Prabowo-Hatta Menang Telak di Padangsidimpuan dan Tapsel

Hasil pengujian yang dilakukan, debit air BT 3 dan BT 4 sebesar 82 m3 per detik dan BT 5 sebesar 101 m3 per detik. Sungai Batang Toru tempat rencana titik sumber air pendorong turbin PLTA nantinya kedalamannya sekitar 2-3 meter, dengan lebar sungai antara 30-50 meter. “Dari penjelasan pihak PT North Sumatra Hydro Energy, jika PLTA ini sudah berdiri, bisa memenuhi listrik sekitar tiga daerah tingkat dua dengan kondisi daerah seperti Tapsel,” terang Baduaman, kemarin. Kemudian, direncanakan juga, proses pembangunan PLTA ini dimulai tahun mendatang, sehingga dalam tiga atau empat tahun ke depan nantinya sudah selesai. Diharapkan pada tahun 2016 mendatang sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

“Energi listriknya nantinya interkoneksi ke PLN wilayah Sumatera,” tutur Baduaman. Perkiraan dana pembangunan PLTA tersebut disesuaikan dengan kurs dollar saat ini, untuk BT 3 dan BT 4 bernilai sekitar Rp3,08 triliun, dan BT 5 sekitar Rp879 miliar. Sehingga totalnya sekitar Rp3,9 triliun. (neo) (metrosiantar.com)

POST ARCHIVE: This content is 7 years old. Please, read this content keeping its age in Mind

23 Comments

  1. Harapan saya sebagai warga dari kecamatan Maràncar agar mengutamakan SDM dari daerah ketiga kecamatan tsb, karena sudah banyak sarjana2 propesional berasal dari dErah tsb

  2. Asalammualaikum waroh matulloh wabarokatuh,
    semogga apa yg kita inginkan bersama cepat ter laksana dengan se Maksimal nya ; tanpa kendala, dan yg terpenting nya Lowongan pekerjaan di utamakan, agar kedepan nya perekonomian masyarakat menjadi stabill
    wassalam, #admiin

  3. @buat semua akka abang,tulang,lae..memang kita sangat setuju adanya pembangunan PLTA itu..tetapi jangan sampai kita lupa bahwa masih ada saudara2 kita yang merasa sangat dirugikan dalam pembebasan tanah untuk lahan tersebut..seperti di desa Luat Lombang,kec : Sipirok,,,,dimana ada sebagian orang yang seharusnya mendapatkan ganti rugi tetapi tidak mendapat ganti rugi sama sekali,,,dan justru yang tidak memiliki tanah malah mendapat ganti rugi…apakah itu adil…jadi saya memohon untuk seluruh pembaca,,klo memang kita umat yang beragama,mari kita tegakkan keadilan..jangan karena sudah lihat HEPENG semua lupa..lupa agama,lupa adat,dan lupa persaudaraan…..mauliate

  4. Kalau menurut pendapat saya pembangunan PLTA di Batangtoru ini membawa angin segar bagi penduduk sekitar yang akan berdampak positif kepada penyerapan tenaga kerja lokal untuk itu kepada Alim Ulama, Tokoh Adat dan Naposo Nauli Bulung harus dilibatkan demi tercapainya pembangunan PLTA yang di idam-idamkan selama ini. tapi apa yang telah terjadi setiap akan mendirikan proyek selalu masyarakat di iming-imingi dan ternyata setelah proyek selesai hanya satu dua orang penduduk lokal yang bekerja, untuk itu saya berharap kepada Pengusaha agar dapat mempekerjakan masyarakat sekitar sesuai dengan bidangnya masing-masing. yang pada intinya dengan berdirinya PLTA ini menambah penghasilan kepada masyarakat. Mudah2an pembangunan PLTA ini lebih cepat lebih bagus. Wassalam

    • Na paling utama keterbukaan dohot keberpihakan pemerintah setempatdo harana ijin operasi dll pemerintah do nakuasa. Ulang naron tenaga kerja non skil pe diboan sian luar negeri jadi hita jadi panonton

  5. Sebelum kepelaksanaan konstruksi ada baik nya di tinjau ulang, mengenai..pembebasan lahan,karna..banyak sengketa di letak tanah trsebut,salah..satu sy ahli waris yang merasa terjolimi..mohon diperhatikan

  6. bah rupanya mau ada pembangunan PLTA di Tapsel.. uwak bupati harus respect sama halak hita apalagi putra daerah yang utama harus diperhatikan kualitasnya. manatau ada yang berbakat jadi tenaga ahli yang bisa mengembangkan struktur halak hita.

  7. untuk perekrutan karyawan pengerjaan kontruksi di PLTA oleh PT. North Sumatra Hdro Energy di umumin di public local seperti marancar dan batangtoru agar masyarakat local bisa berkarya. jangan seperti perusahaan asing yang ada di batangtoru menggadang gadangkan kesejahteraan bagi masyarakat tetapi justru membuat ketidakseimbangan ekonomi yang signifikan karena dengan adanya pertambangan membuat bahan bahan pokok di daerah batangtoru lebih mahal daripada daerah lainnya. sementara masyarakat local sangat sulit untuk bisa bergabung di perusahaan tersebut.

  8. semua itu hanya bualan belaka,,,,,nanti mulai dari konstruksi sampai pnishing project,korbanya adalah masyarakat juga,,dengan kata lain mau pekerja jadi buruh kasar ya pun sulit diterima.

  9. Wahaiii sdra/i qu… se kamPoen6 and seTanaH aIr… j6n lah kita terlalu cepat berburuk san6aka… marilah Kita satukan tekat bersatu padu… membuta suatu ‘INOVASI’ a6ar anak & cucu kita bs lebih sejahtera Hidupnya dr Kita… marilah Kita saling bahu membahu utk sama” menja6a, men6awasi, dan membatu a6ar pemban6unan di Kampoen6 kita bs berkemban6… tdk disalah 6unakan… krn itu adlh harta Nenek Moyan6 Kita y6 diwariskan kpd Anak Cucu kita…

  10. Apakah harus menghabiskan dana sebesar itu? Tapi gak apa-apa,,asal jangan banyak dana ?ª?? masuk ke kantong orang2 yang tidak bertanggungjawab,,,

  11. UNTUK KARYAWAN DARI PEMBANGUNAN INI SEUGIANYA ADALAH DARI PUTRA DAERAH,,,,,,,,,,,,
    AGAR DAPAT MENUNJANG PEREKONOMIAN KHUSUSNYA MASARAKAT MARANCAR,,,,,,,,,

  12. Rencana Pembangunan PLTA ini nampaknya mulai tersendat-sendat…. Kurang dilibatkannya masyarakat dalam perencanaan PLTA ini bisa berdampak dalam perencanaan pelaksanaan PLTA ini, apalagi wilayah aliran sungai Batangtoru yang bakal Lokasi PLTA menjadi bahagian yang dikuasai oleh masyarakat adat setempat.
    Mudah-mudahan PLTA ini tidak mengorbankan Kelestarian Lingkungan Hutan di sekitarnya dan PLTA ini tidak membawa dampak negatif terhadap kehidupan bermasyarakat di sekitarnya seperti di wilayah Kec. Marancar. Masyarakat mendukung pembangungan PLTA ini namun harus ada jaminan jangan sampai setelah PLTA berjalan, justru di tanah wilayah Kec. Marancar tetap kekurangan Arus Listrik.
    Istilah pepatah “MATI TIKUS DILUMBUNG PADI atau NGAKU KOTA POWER LISTRIK TAPI LISTRIK MATI-MATI TERUS TIAP HARI” atau pepatah lain “KAYAK AKAN MINYAK, TAPI HARGA TIDAK TERJANGKAU MASYARAKAT SEKITARNYA”… jadi dalam perencanaan PLTA ini perlu direncanakan dan tuangkan dalam rencana jaminan TIDAK ADA KEKURANGAN LISTRIK DI wilayah Sekitarnya sepanjang PLTA ini beroperasi nantinya…

    Disamping itu, RP. 3,9 T??? BENARKAH?
    Dalam hitungan Bisnis, jika sampai mengeluarkan biaya sebesar itu, maka PLTA ini yang didengung-dengungkan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat oleh PEMDA setempat dan pebisnis setempat saat ini, maka secara itung-itungan suar sair, Biaya sebesar itu dapat mengandung makna PLTA dibangun atas Dasar Kepentingan untuk Bisnis bukan untuk kepentingan Masyarakat Semata…. kecuali kalau murni dibiayai PEMDA Setempat tanpa adanya penyalahgunaan Dana yang dianggarkan untuk proyek ini, tapi apa sanggup??

    Pembuatan PLTA ini didukung masyarakat, namun libatkanlah masyarakat secara gotong royong mulai dari awal perencanaan sehingga biaya-biaya yang direncanakan tersebut bisa efiisen dan efektif.

  13. saya sangat setuju,jika PLTA ada di daera batang toru,kec marancar..gimana menurut tman tman yg ada di kec.marancar…..

  14. Mudah-mudahan bukan hanya sekedar retorika yang enak dibaca, tapi menjadi suatu bukti yang nyata. Masyarakat menunggu adanya Listrik yang cukup dan memadai untuk berbagai kebutuhan yang saat ini sangat kurang sekali di Tapanuli Selatan dan Sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*