Bismar Siregar Cermin Kebeningan Nurani Hakim

JAKARTA-MICOM: Setelah sebelumnya sempat dirawat di ICU RS Fatmawati, Jakarta Selatan, mantan Hakim Agung Bismar Siregar menghembuskan napas terakhirnya pada Kamis (19/4) pada pukul 12.20 WIB.

Pada pagi harinya, kondisi tokoh hukum itu memang sudah kritis, tapi pihak keluarga mengaku sudah ikhlas akan adanya kemungkinan terburuk yang terjadi.

Bismar memang bukan sosok biasa dalam dunia hukum Tanah Air. Bila diibaratkan kaca. Bismar Siregar SH merupakan cermin kebeningan hati para hakim.

Hal itu karena dalam setiap keputusannya, Bismar selalu mengandalkan hati nurani. Bismar berpendapat hati nurani tak bisa diajak untuk berbohong.

Bismar Siregar lahir di Sipirok, Sumatra Utara, 15 September 1928. Selama hidupnya, Bismar mengabdikan diri sebagai jaksa dan hakim. Setelah pensiun, Bismar dikenal sebagai tokoh yang memberikan petuah-petuah yang bijak.

Mantan Hakim Ketua Pengadilan Tinggi Sumatra Utara (1984) ini merasa bersyukur karena tidak masuk dalam lingkaran hakim yang bisa disuap atau dibeli. Baginya, undang-undang hukum dan kepastian hukum hanyalah sarana untuk mencapai keadilan.

Setelah pensiun dari jabatan Hakim Agung, Bismar masih terlihat aktif. Hari-harinya banyak diisi dengan ceramah, menulis, berkebun, ataupun menuangkan goresan kuasnya ke kanvas.

Menurut Prof Satjipto Rahardjo, Guru Besar Fakultas Hukum Undip, Bismar bukanlah pribadi kontroversial, melainkan lurus-lurus saja.

Setiap kali memutus perkara, ia selalu bertanya kepada hati nuraninya. Sesudah hati nuraninya memutuskan, ia pun mencari pasal-pasal hukum sebagai dasarnya.

Baca Juga :  Indonesia Masuk 10 Besar Orang Gemuk Terbanyak

Bismar lulus dari Fakultas Hukum UI pada 1956 dan melanjutkan pendidikan di bidang hukum di National College of the State Judiciary, Reno, AS (1973), American Academy of Judicial Education, Tescaloosa, AS (1973), dan Academy of American and International Law, Dallas, AS (1980).

Bismar mengawali kariernya di bidang hukum sebagai jaksa di Kejari Palembang kemudian menjadi hakim di berbagai pengadilan negeri di Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah hakim agung di Mahkamah Agung (MA) pada 1984-1995. (Pri/OL-9)

mediaindonesia.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Selamat jalan sang pejuang keadilan, semoga Allah menerima amal ibadahmu, terutama keadilan yang engkau perjuangkan karena sesungguhnya Allah maha adil. Kebeningan hatinuranimu, kelembutan tutur katamu, kepasrahan kepada sang Haliq telah memberikan inspirasi bagi kami untuk melanjutkan cita-ditamu, amin

  2. Inilah pesan yang tersingkap diraut wajah Alm Prof.Bismar Siregar, SH ketika melawat di rumah duka kemarin sore bersama kawan-kawan dari Sipirok :
    1. Dalam hidup pantang apatis/putus asa.
    2. Jangan takut menghadapi hidup.
    3. Berjuang demi kebenaran adalah bagian dari ibadah.
    4. Katakan saja apapun jika itu benar adanya dan jangan takut.
    5.Belajar tidak boleh berhenti hingga akhir hayat.
    6. Jangan mengeluh dan pantang menyerah pada rasa lapar.
    7. Hidup dimasa sulit adalah baik untuk dijalani agar kita siap menghadapi hidup yang lebih baik dari hari ini.

    SELAMAT JALAN SENIOR…..kami akan menapaki jejak perjuanganmu untuk mewujudkan rasa adil bagi setiap orang..!!!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*