Bisnis Batu Akik di Madina Makin Lesu

Panyabungan. Sejak tiga bulan terakhir bisnis batu akik di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) makin lesu. Dibuktikan banyak pedagang maupun pengasah batu itu sudah gulung tikar alias tutup. Kini hanya tinggal beberapa saja yang masih bertahan.

Padahal sebelumnya, demam batu cincin sangat meriah di daerah itu ditandai dengan menjamurnya unit – unit penjual dan tukang asah batu akik diberbagai sudut Madina. Tertutama di Kota Panyabungan sebagai ibu kota kabupaten.

“Demam batu akik hanya bertahan sekitar satu tahun saja, dan sekarang ini sudah lesu,” ujar Ucok Lubis penjual batu cincin kepada MedanBisnis, Kamis (8/10).
Dia mengatakan, tidak mengetahui secara persis penyebab memudarnya pecandu batu akik itu di Madina. Sekarang ini, katanya, sudah banyak pedagang yang menutup usahanya akibat sulitnya menjual batu akik.

“Pada masa jayanya, biasanya, setiap pagi pas saya baru buka sekitar pukul 09 WIB, peminat sudah pada kumpul. Ada yang ngasah, ada yang beli bahan batu, hingga ada yang beli batu jadi,” ungkapnya.

Waktu itu biasanya ujar Ucok omzet usahanya bisa mencapai Rp 1 juta per hari hanya upah mengasah batu akik. “Jika batu akik terjual satu batu akik jenis batu giok pastap bisa terjual Rp 500 ribu,” imbuhnya.

Rusdi Btr salah satu kolektor batu akik mengatakan, masa kejayaan batu akik di Madina sudah hilang. Padahal berbagai jenis batu sudah muncul di pasaran asal Mandailing Natal seperti giok pastap, pirus morsip dan jenis lainnya.

Baca Juga :  Tapsel Juara Umum Kejurda Tinju Piala Kajari Tarutung

“Namun itu hanya bertahan sekitar 1 tahun saja, kalau kita perhatikan di berbagai daerah lainpun batu akik juga sudah mulai sepi peminatnya. Saya melihat penyebab di Madina akibat menurunnya perekonomian masyarakat karena harga komoditas juga turun pada akhirnya melemhakan daya beli masyarakat. Begitupun kita melihat sewaktu – waktu demam batu akik bisa bergairah kembali,” ujarnya.


MedanBisnis – (zamharir rangkuti)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*