Bisnis Es Krim Rasa Salak Sidimpuan Sukses di Tangan Mahasiswa

Medan – Bermodalkan Rp 10 juta, Gemadana Irza Siregar memulai mengembangkan bisnis kulinernya. Bersama rekannya Alyefi Asrar, mahasiswa Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (USU) ini menciptakan varian rasa es krim baru.

Jika selama ini es krim didominasi oleh rasa coklat dan vanilla, kali ini Ia dan rekannya tersebut menciptakan varian rasa es krim dengan bahan dasar salak dari Sidempuan. Diberinama Zalacca Ice Cream ini, keduanya memulai ide bisnis tersebut karena ingin membuat sesuatu yang unik dan berbeda serta lain daripada yang lain.

“Kebetulan saya kan berasal dari Sidempuan, selama ini salak Sidempuan hanya diolah biasa saja. Paling kalau tidak jadi manisan ya dimakan begitu saja. Padahal dengan Salak Sidempuan ini bisa juga diolah menjadi makanan lain ya salah satunya menjadi es krim,” ujar Gema.

Ia mengungkapkan, bisnis es krim Salak Sidempuan ini telah dirintis sejak tahun 2012 lalu. Usahanya dibangun dengan modal Rp 10 juta, dana tersebut mereka dapat dari dana Program Kreativitas Mahasiswa dari Dikti senilai Rp 6 juta dan kemudian sisanya dari uang pribadi keduanya.

“Saya senang dengan es krim, kesenangan itu pulak yang membuat saya dan Alyefi merintis usaha dengan menjual produk es krim. Kenapa es krim Salak Sidempuan, karena sebagai orang Sidempuan saya ingin mengembangkan produk yang juga menjadi kebanggan masyarakat Sidempuan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Poldasu Harus Cek Rekening Rahudman

Ia menjelaskan, Salak Sidempuan selama ini sudah dikenal di mana-mana, namun belum banyak yang memanfaatkan keberadaan buah salak ini selain dijual sebagai buah utuh, padahal Salak Sidempuan bila diolah menjadi berbagai produk seperti es krim akan menambah nilai jualnya.

“Salak Sidempuan memiliki kandungan air dalam Salak Sidempuan sedikit dan dagingnya agak kemerah-merahan serta rasanya yang lebih manis dan sedikit sepat membuat Salak Sidempuan ini cocok dibuat menjadi es krim,” jelasnya.

Ia menerangkan, awal merintis dulu, setelah mendapatkan dana dari Dikti, kita membeli beberapa perlengkapan secara perlahan. Peralatan pertama yang kita miliki adalah gerobak untuk tempat berjualan es krim salak ini. Kita menjualnya es krim awal-awal menggunakan gerobak ke kampus-kampus.

“Yang paling kita tonjolkan di produk ini yaitu varian Salak Sidempuan karena saya ingin mengangkat nama Salak Sidempuan beserta ide gerobak Vespa agar kelihatan khas dari kota Padang Sidempuan,” terangnya.

Saat ini, bisnis dari penjualan es krim tersebut sudah berkembang mulai dari satu outlet saat ini sudah menjadi tiga outlet. Hasil penjualan es krim salak tersebut terus meningkat, dari yang awalnya menggunakan gerobak dorong sekarang sudah berubah menjadi gerobak yang dilengkapi dengan sepeda motor.

“Outlet kita berada di Jalan Halat, dan dua outlet lainnya terletak di kawasan Kampus USU. Dari hasil usaha ini, kita sudah bisa menghasilkan uang sejak dari bangku kuliah. Kita sudah melewatiberbagai tantangan dari memulai bisnis ini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Museum Batak, Miniatur Peradaban Enam Puak - Jadi Catatan Hidup Nilai-nilai Budaya

Untuk menambah modal usahanya, mereka rutin mengikuti kompetisi erbisnis. Mereka menargetkan dalam waktu satu tahun bisnis es krim salak tersebut bisa memiliki 10 outlet. Dan 3 tahun ke depan mereka sudah memiliki food truck. “Kami berencana akan bekerjasama dengan pihak Bank untuk ekspansi ke luar kota seperti Pekanbaru, Padang, dan Aceh. Namun ini masih dalam proses yang cukup panjang karena kami masih terkendala modal. Dan lima tahun ke depan kami berencana menjualkan bisnis ini keseluruh Indonesia dengan menggunakan system kemitraan,” katanya.


(pra/tribun-medan.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*