BMKG: El Nino menguat dalam dua bulan

ilustrasi--Sejumlah warga mengantre mendapatkan jatah air saat penyaluran air bersih di desa Benda, Kecamatan Karangampel, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (5/8/15). Pembagian bantuan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Indramayu itu untuk membantu warga yang mengalami kesulitan air bersih. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara) ()
ilustrasi–Sejumlah warga mengantre mendapatkan jatah air saat penyaluran air bersih di desa Benda, Kecamatan Karangampel, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (5/8/15). Pembagian bantuan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Indramayu itu untuk membantu warga yang mengalami kesulitan air bersih. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara) ()

Jakarta, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya menyatakan hasil pantauan bahwa El Nino akan terjadi Indonesia pada 2015 dan akan terus menguat mencapai puncaknya pada dua bulan ke depan.

“Musim kemarau tahun 2015 akan lebih panjang dibandingkan tahun 2014 sebagai dampak dari munculnya El Nino dan menyebabkan awal musim hujan 2015/2016 akan mengalami kemunduran,” katanya di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan kondisi ini dikarenakan pada tahun ini terjadi El Nino yang telah mencapai level moderat dan diprediksi akan menguat mulai Agustus sampai dengan Desember 2015.

El Nino merupakan fenomena alam terkait dengan kenaikan suhu permukaan laut melebihi nilai rata-rata di Samudera Pasifik sekitar Ekuator yaitu daerah sekitar Chili, Peru dan Amerika Latin.

Peristiwa ini membawa dampak kekeringan panjang di beberapa daerah di Indonesia terutama Indonesia bagian Timur dan daerah-daerah yang terletak di lintangselatan seperti Sumsel, Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulsel dan Papua bagian selatan.

Andi dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa El Nino berbeda dengan gelombang panas. El Nino berdampak kekeringan yang memperpanjang waktu musim kemarau. Prakiraan lama waktu dampak bagi Indonesia berkisar 4- 5 bulan.

Baca Juga :  Banyak Bayi TKI Telantar di Malaysia

Hal ini dikarenakan dampak tersebut dinetralisir oleh musim hujan. Sedangkan, gelombang panas terkait dengan fenomena cuaca yang diindikasikan oleh kenaikan suhu lokal secara signifikan dalam waktu singkat (3-7 hari).

Gelombang panas tidak melewati dan masuk ke wilayah indonesia yang beriklim tropis, gelombang panas biasanya terjadi di wilayah yg beriklim sub tropis diatas lintang 10 derajat baik di utara dan selatan. Oleh karenanya, perlu dipahami bahwa El Nino bukan gelombang panas.

Berbareng dengan munculnya El Nino ini, biasanya diikuti dengan mendinginnya suhu mula laut di beberapa wilayah Indonesia, seperti Sumatera bagian barat, Jawa bagian selatan, Sulawesi dan Maluku bagian utara.

Selain berdampak pada proses pembentukan awan yang cukup sulit karena proses penguapan rendah, juga sering dirasakan hembusan anginnya pun terasa lebih dingin. Namun dibalik itu semua, kloropil di wilayah tersebut akan kondusif dan menjadikan potensi panen ikan juga lebih tinggi di wilayah-wilayah tersebut.

Tidak semua negatif, sebaliknya El Nino membawa dampak positif bagi sektor kelautan karena suhu muka laut di wilayah Indonesia dingin sehingga dapat menambah populasi ikan yang nantinya dapat meningkatkan tangkapan ikan.

“Kondisi kering yang lebih panjang, meningkatkan potensi hasil garam yang lebih banyak pula,” katanya.


(ANTARA News) –

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Bali International Flight; Pesawat Bukan Jatuh Tapi Force Landing

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*