Boaz Minta Maaf kepada Wartawan

Pemain timnas Indonesia Boaz Salossa berusaha melewati pemain Turkmenistan Ruslan pada pertandingan putaran kedua Pra-Piala Dunia 2014 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (28/7). Pertandingan tersebut dimenangkan Oleh Indonesia dengan hasil akhir 4-3. TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO Interaktif, Jayapura – Boaz Salossa, penyerang Persipura dan ujung tombak tim nasional Indonesia, menyampaikan permintaan maafnya kepada wartawan karena dirinya belum bisa memberi pernyataan resmi atas kiprahnya.

Alasannya, dia lebih berkonsentrasi pada latihan dan disiplin mengikuti beberapa pertemuan tim. “Maaf, kita masih pertemuan, nanti saya kontak sebentar,” kata Boaz kepada Tempo, Jumat, 29 Juli 2011.

Boaz sosok yang ramah di mata media. Selain nama besarnya di dunia sepak bola, ia ternyata juga hobi memancing. Penggemar bintang Real Madrid, Ronaldo, ini adalah sosok ayah yang sangat baik di mata keluarganya. “Dia itu baik, rajin, kakaknya juga begitu,” kata ibu Boaz, Maria Sarobi Solossa.

Boaz dibesarkan oleh keluarga yang taat beribadah. Semenjak ditinggalkan ayahnya, Crist Solossa, yang meninggal 6 Februari 1996 di Lapangan Hoki Sorong, Boaz bersama tiga saudaranya praktis hanya dijaga Maria.

Ayah dari Abigael itu adalah anak bungsu. Saudara tertuanya adalah Joice Salosa, berikutnya adalah Ortizan, pesepak bola nasional yang juga menjadi punggawa Persipura, dan Nehemia Salossa, bekas pemain Persegi Gianyar. Boaz dan Ortizan selalu menggunakan nomor punggung berangka enam. Itu mengingatkan kematian ayahnya, juga sebagai angka kelahiran Boaz.

“Boaz pemain yang patut diteladani. Dia minta maaf pada media karena tahu ia dibesarkan juga oleh media. Saya yakin sikap dewasanya ini membuat ia akan makin besar,” kata Fernando Fairyo, mantan pemain timnas dan Persipura di era 80-an.

Baca Juga :  TIMNAS U-23 - Indonesia Lawan Malaysia Lagi?

Menurut dia, penampilan Boaz tidak seperti dulu. “Kadang dia egois mau bawa bola sendiri, tapi sekarang tidak lagi. Dia bermain di tim, jadinya bila ada peluang rekannya bisa mencetak gol, dia mengoper,” ujarnya.

Cristian Gonzales, Nasuha, dan M. Ridwan boleh jadi disebut pahlawan saat mengalahkan Turkmenistan di Jakarta, Kamis malam. Tapi dibalik itu, Boaz merupakan organisator serangan yang membuat lawan kalang-kabut. “Dan itulah faktanya, timnas hanya kekurangan energi di babak kedua. Kalau tidak, lawan bisa ditekuk habis,” pungkasnya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*