Boaz Solossa, Kembalinya Si Anak Hilang

TEMPO Interaktif, Jakarta:Rombongan pemain tim nasional menyeruak dari bus abu-abu berlogo Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesdia (PSSI) di Lapangan Latihan Timnas, Senayan, Jakarta, kemarin pagi. Dari 24 pemain, mata belasan juru tulis dan foto terfokus pada Boaz Solossa. Penyerang bernama lengkap Boaz Theofilius Erwin Solossa, itu memang sedang dinanti-nanti jurnalis dan pencinta sepak bola Tanah Air.

Setelah memperkuat timnas, dia sempat absen menjelang kejuaraan Piala AFF 2010. Pelatih timnas Alfred Riedl tidak menurunkan Boaz, karena dinilai tidak kunjung tiba di Jakarta pada tenggat waktu yang ditentukan. Boaz bukannya tidak mau memperkuat tim Merah Putih. Ketika itu, dia mengaku terlambat, karena ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkannya.

Meski tidak masuk skuad nasional, namun sejarah membuktikan, Boaz membawa Persipura Jayapura sebagai juara Liga Super Indonesia (LSI) 2010/2011 dan masuk perempat final Piala Asian Football Confederation (AFC) 2011.

Bahkan, lelaki kelahiran Sorong, Papua, ITU dinobatkan sebagai pemain terbaik Indonesia dan masuk dalam jajaran pencetak gol terbaik dunia. Boaz berada di peringkat 53 menurut versi The International Federation of Football History & Statistics (IFFHS), Juni 2011.

Kehadiranya di Senayan bersama Bambang Pamungkas dan kawan-kawan kemarin pagi, adalah latihan perdana bagi Boaz yang baru tiba di Jakarta, Minggu, lalu. Boleh dikata, inilah momen kembalinya si anak hilang.

Baca Juga :  Hadapi Lebaran - Polres P.Sidimpuan Dirikan Empat Pos PAM

Semua sesi latihan dia lalui dengan baik, mulai pemanasan, game setengah lapangan, hingga eksekusi bola mati. Sore harinya, sebanyak 19 pemain diputuskan memperkuat timnas untuk melawan Turkmenistan.

Boaz dipercaya pelatih Wilhemus Gerardus Rijsbergen untuk menjebol gawang Turkmenistan pada Sabtu, 23 Juli 2011. “Dia adalah pemain top di Indonesia, pencetak gol terbanyak, dan dia pemain bagus di musim ini,” kata Wim memuji Boaz.

“Meskipun baru latihan, penampilan Boaz stabil,” kata asisten pelatih, Rahmad Darmawan. Namun, kali ini Boaz cukup pelit berbicara kepada jurnalis. Dia menolak komentar, meski dikejar hingga masuk mobil timnas.

Kepada Tempo awal Juli lalu, Boaz mengakui punya mimpi menjadi pemain dunia. “Saya punya impian main di luar negeri. Jika tawaran itu datang, saya tidak akan melewatkannya,” ujar Boaz.

Untuk meraih mimpinya, Boaz harus membuang kebiasaan buruknya: emosional dan suka mabuk-mabukan. “Saya harus selalu belajar dan menghargai orang lain. Saya ingin bisa mengendalikan emosi, meskipun itu sangat sulit,” katanya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*