Bocah Bersisik Ini Menangis Kesakitan

Rohim Wahyuni, balita berumur 3,5 tahun, yang kulitnya bersisik sejak umur lima hari.

KOMPAS.com — Malang nian nasib Rohim Wahyuni (3,5), putra pasangan Wariono (35) dan Sulistiyorini (26), warga Dusun Bocok, Desa Pondok Agung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Ia menderita penyakit kulit sejak lahir. Kulitnya bersisik layaknya ikan. Rohim begitu ia dipanggil, lahir di Rumah Sakit Natuna, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 9 Desember 2007. “Anak saya bersisik begini sejak lima hari setelah dilahirkan,” cerita Sulistiyorini saat ditemui Kompas.com di rumah gubuknya, Kamis (4/8/2011).

Untuk menuju rumah Sulistiyorini, dari Kota Malang, harus menempuh perjalanan 90 kilometer. Sementara dari Kecamatan Kasembon menuju Desa Pondok Agung, sekira 9 kilometer. Saat Kompas.com menemui Rohim, ia sedang bersama ibunya di ruang tamu.

“Saat saya hamil lima bulan, saya diboncengi oleh almarhum suami saya (Wariono) naik sepada motor. Saat itu terjatuh. Punggung saya terbentur ke sepeda motor,” katanya.

Sejak menikah dengan Wariono, Sulistiyorini memang dibawa merantau ke Natuna. “Saat itu saya masih merantau di NTT. Setelah kecelakaan itu, mulai terasa ada yang tak beres dalam kandungan saya,” katanya.

Rohim dilahirkan saat berusia delapan bulan dalam kandungan. “Saat lahir, kondisi Rohim normal. Tak ada gejala berbeda pada kondisi anak saya. Bahkan kulitnya sangat halus,” katanya.

Baru setelah umur 5 hari, kulit Rohim mulai ada perubahan. Kulit yang awalnya halus mulai berubah menjadi kasar dan mengelupas. “Saat itu, kulit anak saya terus bersisik, mengelupas, kulitnya kasar,” cerita Sulistiyorini yang memangku Rohim.

Baca Juga :  Nazaruddin Diduga Pegang Rahasia Demokrat

Sulistiyorini sempat memeriksakan anaknya ke Rumah Sakit Natuna. “Kata dokter, ini penyakit kulit biasa. Nanti juga akan sembuh. Oleh dokter hanya diberi salep,” katanya.

Karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak menentu dan suaminya tidak memiliki pekerjaan yang menjanjikan di Natuna, mereka sepakat pulang kampung ke Kasembong, Kabupaten Malang, pada  2007.

Kembali ke kampung halaman, Wariono dan Sulistiyorini tidak berhasil menata ekonomi keluarganya. Begitu juga kondisi Rohim. “Setelah pulang ke sini, suami saya sakit, akhirnya meninggal dunia disini. Saat itu Rohim baru berumur 3 tahun,” katanya.

Selama di kampung halaman, Rohim hanya dibawa ke puskesmas pembantu yang tak jauh dari rumah Sulistiyorini. “Di puskesmas pembantu itu ditangani oleh dr Yuyun. Katanya hanya penyakit kulit biasa,” katanya.

Selain itu, karena Sulistiyorini merasa khawatir anaknya tak kunjung sembuh, dibawanya ke Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang. “Dibawa ke RSSA pada tahun 2008 lalu. Hanya satu kali dibawa ke rumah sakit. Karena tak ada biaya. Buat makan saja susah,” aku Sulistiyorini.

Setiap kali mau tidur, Rohim selalu menangis kesakitan. “Kulitnya gatal, merasa panas kalau mau tidur. Ya, dengan sendirinya sambil dikelupas. Tetapi setelah dikelupas, masih tumbuh sisik lagi. begitu seterusnya sampai sekarang,” aku Sulistiyorini.

Lebih lanjut Sulistiyorini berharap anaknya bisa disembuhkan dari penyakit kulit yang dideritanya. “Semoga bisa disembuhkan segera, anak saya bisa sekolah, kami butuh bantuan baik dari pemerintah dan swasta. Kami hanya punya Jamkesmas. Tapi hanya bisa ke puskesmas,” keluhnya.

Baca Juga :  Kasus Bibit-Chandra - Jangan Sampai Kasus Berulang, Bambang Dukung KPK Usut Rekayasa

Menurut Sulistiyorini, dia tidak pernah didatangi Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. “Hanya dari puskesmas yang datang kesini. Tapi tak memberi obat atau apa-apa. Hanya melihat saja,” katanya sembari memegang anaknya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*