Bom dalam Diri Kita

Oleh: Radhar Panca Dahana *)

%name Bom dalam Diri KitaSeperti sebuah bom, hidup kita memang menyimpan, bahkan mungkin berawal dari sebuah ledakan. Para ahli astronomi dan fisika luar angkasa menyebut “ledakan besar” atau big bang sebagai awal dari semesta ini, awal dari kehidupan dan manusia. Begitupun hidup manusia, dikejutkan oleh ledakan-ledakan gunung api yang memusnahkan dan melahirkan ras baru manusia, seperti ledakan Toba 150 ribu tahun yang lalu.

Dalam hidup sehari-hari, awal hidup manusia pun dikejutkan oleh sebuah ledakan yang keluar teriakan jabang bayi saat menghirup oksigen pertama kalinya. Hidup manusia dan manusia hidup mirip sebuah bom, juga tangisan yang mengiringinya. Ledakan tangis adalah bahasa manusia pertama, bahasa paling purba. Itulah kebudayaan tertua, tangis yang meledak.

Tapi, belakangan ini, bahasa itu telah ditransfer atau dipinjam oleh kebudayaan modern untuk menjadi senjata. Menjadi arsenal yang mengancam, menakutkan dan menaklukkan. Sejak mesiu dan petasan ditemukan pertama kali di China, ledakan adalah sebuah destruksi yang tidak hanya mengancam jiwa, gedung dan prasarana, tapi juga adab dan kebudayaan kita. Daya destruksi inilah yang membuat Alfred Nobel, seperti menyesali karya monumentalnya sendiri, dinamit, dengan mendirikan yayasan yang menyuarakan perdamaian.

Begitupun Albert Einstein, seperti menyesal saat formulasi teoritik paling populer sepanjang masa yang ia ciptakan, E = mc², menjadi ilham bagi munculnya bom atom yang melenyapkan bukan hanya manusia, tapi juga peradaban dua pulau di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Bersama Sigmund Freud juga Schopenhauer dia berkorespondensi menyuarakan hati pasifisnya untuk perdamaian dan penolakan terhadap bom, anak kandungnya sendiri.

Tapi zaman yang degil dan kian absurd ini ternyata kian tidak peduli pada mereka yang arif dan bijaksana. Zaman ini hanya peduli pada produk. Bom tetap diproduksi, beredar, dibeli dan digunakan, untuk segala keperluan. Dalam perang, dalam industri, dalam pertambangan, hingga untuk teror yang berkepanjangan.

Bom bukan lagi sebuah alat atau produk yang eksklusif untuk keperluan tertentu saja. Kini kita menjumpainya dalam bentuk-bentuk yang sangat sehari-hari, populer dan portable. Dalam tas belanjaan, dalam rompi, dalam untaian bunga dan terakhir dalam sebuah buku. Sebuah ironi destruksi dan kejahatan itu tersimpan dalam sebuah monumen yang menyimpan sejarah, ilmu, bahkan keyakinan: buku.

Fenomena baru ini seperti memberi pemahaman yang teroritik pada kita: bahkan sebuah medium pengetahuan dan keyakinan pun bisa menjadi sebuah ancaman, bisa jadi penyebab kerusakan fatal. Teror seperti ini lebih fatal dan mengerikan dari ledakan bom itu sendiri. Rantai bom belakangan ini sekadar susulan dari beberapa “bom” sosial lainnya yang terjadi sebelumnya, seperti kerusuhan agama di Cikeusik dan Temanggung.

Baca Juga :  Reshuffle, Struktur Gemuk dan Inefisiensi

Semua peristiwa itu memang tampaknya memberi efek yang menggiriskan, yakni merosotnya rasa aman dalam diri kita sebagai sebuah bangsa, ketika tempat-tempat yang selama ini dianggap damai, sejahtera dan sentosa seperti Cikeusik dan Temanggung, ternyata juga menyimpang bomnya sendiri.

Lunturnya rasa aman itu dilengkapi dengan runtuhnya otoritas-otoritas yang selama ini menjadi pegangan rasa aman kita, mulai dari otoritas politik, hukum,  ekonomi, agama, akademik hingga kebudayaan. Pemerintah terpilih, Anda tahu sendiri, adalan sentrum dari penggerogotan otoritas itu. Bisa Anda bayangkan sendiri, bila kita, sebagai individu atau sebagai bangsa, sudah tidak lagi merasa aman dan nyaman, sementara tak ada otoritas tempat kita mengacu dan berlindung. Chaos? Nampaknya demikian.

Nampaknya demikian. Tapi kenyataan bukanlah sesuatu yang dapat diwakili oleh “nampaknya”. Kenyataan kita sebenarnya sebagai individu atau manusia, sebagai komunitas atau bangsa, bukanlah makhluk cengeng yang mudah diancam. Kita punya pengalaman panjang, ratusan bahkan ribuan tahun untuk membuktikan itu. Apa sebab dan alasannya? Sebab dan alasannya adalah diri kita, adalah kenyataan kita sebagai sebuah negeri dengan kekayaan budaya yang luar biasa, yang tak tersaingi belahan dunia manapun. Kita adalah adikuasa dunia dalam kebudayaan.

Masyarakat yang kita susun di kepulauan ini melahirkan berbagai karakter, adat, adab, hingga sikap, pola pikir dan perilaku yang sangat beragam. Sangat beragam. Sehingga tidak ada satu kuasa, politik atau ideologis apa pun, yang dapat menguasainya begitu saja. Tidak ada satu cara yang mampu menggoyah kekuatan yang sangat beragam itu. Tidak kekuatan militer, politik, kolonial, bahkan bencana alam pun. Apalagi hanya sebuah bom picisan.

Sesungguhnya, kita memiliki semua perangkat hidup –yang tersimpan dalam tradisi—untuk menanggulangi semua itu. Dalam soal bencana misalnya, tanpa pemerintah bersuara dan bertindak, solidaritas kita sebagai bangsa sudah bergerak lebih cepat. Ada mekanisme dalam tradisi dan kesadaran instingtif kita, kesadaran primordial kita yang menggerakkan itu semua.

Jadi bila kekuatan-kekuatan kejahatan yang sembunyi di balik teror bom mengharap terciptanya chaos dalam diri kita, lalu ia bisa mendesakkan kepentingan busuknya dalam labilitas dan kebingungan itu, seharusnya ia cuma bermimpi. Seharusnya? Ya, seharusnya.

Baca Juga :  Aktualisasi Peran Mahasiswa Dalam Gerakan Sosial Pemberantasan Korupsi

Kenapa seharusnya? Karena, inilah sayangnya, kita belum menyadari kekuatan kita sendiri yang sebenarnya, sebagai manusia sebagai bangsa. Ia ditutupi oleh satu adab yang menipu, yang menutup potensi-potensi itu. Itulah adab modern yang nyata-nyata merupakan jiplakan saja dari cara hidup oksidental, dalam teori dan praktik, dalam hidup politik, sosial, keagamaan dan segalanya. Hidup dengan cara modern, dengan ukuran-ukuran baru yang menjauh dari ukuran-ukuran yang dilahirkan oleh (bangsa) kita sendiri itulah, yang menjadi bahaya terbesar bagi keberlangsungan negeri ini, bagi pemulihan kekuatan yang kita miliki.

Hidup ilusif yang dipenuhi simulacra dan realitas virtual inilah sebenarnya yang menjadi bom paling berbahaya. Karena ia ada dalam diri kita, dalam hati dan pikiran kita. Bom inilah yang nantinya akan menghancurkan apa yang sudah dibentuk, dikembangkan dan diwariskan oleh tradisi ribuan tahun negeri ini. Dia akan menghancurkan semua hal terbaik yang kita miliki, yang membuat iri semua bangsa dunia, sejak tiga hingga lima ribu tahun yang lalu. Menghancurkan nasib dan masa depan anak dan cucu kita.

Jika tidak segera kita menyadari ini, lalu mengoreksi apa yang percayai dan yakini sebagai nasib, fitrah atau kodrat hari ini, bom dalam diri itu seperti menyalakan timernya. Tidak perlu menjadi superhero bergaya Hollywood, kita dapat mematikan timer itu hanya dengan mengubah cara berpikir kita, mengubah cara hidup kita, dengan cara yang lebih berbudaya. Budaya yang tak lain berasal dari kebudayaan kita sendiri. Karena dari situlah kita bermula, kita menjadi manusia, kita berada dan meraih nasib serta masa depannya. Kebudayaan seperti apa itu? Kita renungkan dulu bersama. (metrotvnews.com)

*) Radhar Panca Dahana, Budayawan, Sastrawan dan Pekerja Teater

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*