Buat Apa Berlapar-lapar Puasa

Buat Apa Berlapar-lapar Puasa
Puasa

Oleh : H. Sutan Zaili Asril *)

Ada anak bertanya pada bapaknya/buat apa berlapar-lapar puasa. Ada anak bertanya pada bapaknya/tadarus tarawih apalah gunanya. Lapar mengajarmu rendah hati selalu/tadarus artinya memahami kitab suci/tarawih mendekatkan diri pada Ilahi.

SELAMA bulan Ramadhan, para kebanyakan ulama/dai/mubaligh — dan mereka memiliki keberanian mengambil posisi/menempatkan diri — menyampaikan hikmah puasa. Baik yang mengambil dari nash (sumber al-Quran dan al-Hadits), maupun yang mengambil dari sejarah/pengalamanan orang-orang besar dan atau orang-orang yang sudah teruji bertafaqquh fi al-Dhien — seperti para sufi dan wali. Ada yang mampu menghidupkan nilai dan hikmah berpuasa bulan Ramadhan sehingga bergetar dalam jiwa/menggetarkan hati dan pikiran, ada yang begitu normatif yang berhenti pada perintah/kewajiban dan ancaman bagi yang tidak melaksanakan kewajiban/menjauhi larangan — sebatas pengulangan rutin tanpa perspektif baru buat jamaah, dan sampai yang dogmatis (keyakinan yang dipaksakan, tanpa makna yang mampu melembaga dalam diri).

Bahwa kelemahan kebanyakan para ulama/dai/mubaligh dalam berkomunikasi dan atau mengkomunikasikan adalah didaktik/methodik — selain ada kelemahan dan kekurangan ilmu pengetahuan (cabang ilmu lainnya) dalam arti interdependen dan multidependen (mencerdaskan/mencerahkan). Didaktik/methodik, satu mata pelajaran yang ditimba Cucu Magek Dirih saat bersekolah di PGAN dan Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah (Keguruan) IAIN Imam Bonjol dahulu. Dalam menunaikan tugas pokoknya, sebagian dari ulama/dai/mubaligh di hari ini adalah masalah how to atau didaktik (bagaimana cara berhadapan/menghadapi jamaah yang berbeda-beda sehingga apa materi disampaikan akan jadi efektif) — bahkan dengan menggunakan alat bantu/properti/mendayagunakan multimedia (seperti Ary Ginajar yang sukses dengan ESQ).

Setidaknya dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, kelemahan peranan/konstribusi cabang ilmu lain kepada ilmu-ilmu dasar Islam (ilmu tauhid/teologi, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqh/usul fiqh — termasuk qawaid dan atau Bahasa Arab) dan kelemahan didaktik/methodik dalam pendidikan/pengajaran al-Islam kepada generasi Islam/kaum muslim, tidak saja terlihat begitu kuat kecenderungan memposisikan/mengkondisikan agama Islam sempit/disempitkan, tapi, juga jadi dogma (kering analisis/konstribusi cabang-cabang ilmu pengetahuan lain yang seharusnya akan semakin mencerdaskan dan mencerahkan secara interdependen/multidependen). What ever, itulah salah satu dari masalah pokok kita: kelemahan pada ulama/dai/mubaligh sendiri yang cenderung tidak diketahui/disadari (jumud).

DALAM pengalaman dan pemahaman Cucu Magek Dirih, selain nilai dan hikmah berpuasa secara normatif atau dogmatif, ada istilah “penyehatan total” (Syumu, tashihu). Ibadah berpuasa Ramadhan membuat manusia sehat — tentu di antaranya harus dengan bimbingan dokter? Ini adalah pengaturan ulang untuk hal/pekerjaan yang dibolehkan di siang hari di luar Ramadhan menjadi dilarang/diatur ulang untuk selama bulan Ramadhan.

Rupanya, knowledge memberikan sumbangan luar biasa — dalam hal ini pengetahuan kedokteran dan ahli menu/gizi. Yang pasti, terapi kesehatan sangat dahsyat dilalui setiap muslim/muslimah berpuasa, yaitu perubahan siklus makan dan minum (perubahan pasokan dan permintaan). Dari semula sarapan pagi, makan siang, makan malam, dan tambahan makan ringan di antara atau setelahnya, menjadi berbuka dan makan sahur, dapat makan dan minum di antara berbuka dan sahur. Perubahan suplai atas kebiasaan tubuh menerima/dipenuhi permintaan atas pasok makanan/minuman, dalam pengetahuan kedokteran, maka membuat tubuh secara reflek mengambil sisa kelebihan makanan di bagian-bagian tubuh. Untuk terapi selama satu bulan, sangat efektif membersihkan tubuh dari sisa kelebihan sisa makanan dan minuman berlebih di bulan-bulan di luar Ramadhan

Tidak kalah menarik — sebagaimana makan dan minum yang dihalalkan, bagi suami-istri yang halal bersetubuh di semua waktu di luar bulan Ramadhan — kecuali saat berpakaian ihram, maka di siang hari di bulan Ramadhan juga dilarang. Suami-istri dapat bersetubuh malam hari di antara berbuka dan sahur. Kalau sampai dilanggar, dendanya sungguh berat. Memberi makan 40 fakir miskin. Bilamana suami-isteri yang melanggar yang dipandang mampu membayar makan 40 fakir miskin dengan relatif mudah maka hukuman setimpal baginya berpuasa dua bulan berturut-turut di luar Ramadhan. Perbuatan halal di luar Ramadhan yang dilarang di siang hari pada bulan Ramadhan adalah berlatih menahan, berlatih bersabar, berlatih mengendalikan diri, berlatih solider pada fakir/miskin berkekurangan, dan berlatih bertetangga secara indah (kebersamaan). Kiranya, dengan berlatih sebulan penuh, maka kepribadian Ramadhan akan melembaga (menjadi al-akhlaq al-karimah) pada diri kita.

Baca Juga :  Dongeng Tokek & Komodo

Nilai kebersamaan, yang tidak hanya dikesankan ektrem melalui kewajiban membayar zakat fitrah, pun juga bagaimana hidup bertetangga/berkaum untuk saling merasakan dan saling membantu. Betapa indah bilamana Fatimah memasak yang enak, Rasulullah minta anaknya itu berbagi dengan tetangga. Betapa indah hidup berdampingan secara damai dan saling bertolongan. Seperti di kampung Cucu Magek Dirih, tiap keluaraga atau rumah tangga tak hanya memasak penganan enak buat mereka berbuka, sekaligus dimaksudkan untuk dibawa ke surau buat mereka yang bertadarus. Ada bentuk budaya mengantarkan pabukoan untuk tiap keluarga berbesanan, tapi, pun juga bagi anak dan kemenakan yang menemui (mengunjungi) ayah atau para pamannya. Saling berkunjung dan membawa buah tangan/pabukoan.

PUASA, yang sudah sangat jelas (normatif), salah satu dari lima Rukun Islam. Puasa diwajibkan bagi setiap muslim yang dewasa kecuali mereka yang sakit/berjalan jauh — dapat membayar di hari lain, dan mereka yang tidak wajib membayar di hari yang lain karena bagi mereka yang lemah secara fisik (sudah relatif tua/lanjut usia) dan atau lemah karena pekerjaan yang bersangkutan tidak memungkinkan baginya untuk berpuasa sehingga cukup membayar fidyah. Yang tidak punya alasan (tidak berpuasa Ramadhan), tapi, tidak berpuasa, maka harus membayar denda yang berat — selain dosa karena tidak berpuasa Ramadhan: memberi makan 40 orang fakir/miskin dan atau berpuasa dua bulan berturut-turut di lain bulan Ramadhan. Puasa dijanjikan Allah nilai dan hikmah berlipat ganda sampai dikatakan “Kalau amal yang lain memperoleh balasan dari amaliahnya, tapi, puasa itu bagi-Ku”.

Puasa adalah menahan (tidak makan dan minum, tidak bersetubuh bagi suami-isteri, yang membatalkan puasa lainnya, dan yang sudah pasti untuk melakukan pekerjaan yang diharamkan) sejak sebelum terbit fajar sampai ke terbenam matahari. Makan dan minum serta bersetubuh bagi suami-isteri, sesungguhnya, adalah hal/perbuatan yang halal, tapi, dilarang atau diharamkan pada siang hari untuk selama bulan Ramadhan. Sebaliknya, di bulan Ramadhan, dianjurkan kepada setiap muslim/muslimah, selain mengerjakan amaliah bulan Ramadhan lainnya (tarawih dan tadarus), melipatgandakan amaliah sunnah dan amaliah kauniyah (antarsesama manusia/makhluk lainnya) karena janji Allah akan melipatgandakan kebajikan bagi yang melakukannya.

Puasa adalah bulan pengampunan (man qama Ramadhana, wa ihtisaban, ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi — yang bukan kategori dosa besar). Sebab, dosa besar itu, seperti syirik, melawan pada salah satu dan atau kedua orang tua — bersalah pada sesama manusia (apalagi korupsi atau manipulasi jabatan bagi pejabat publik, dan berzina, misalnya, harus melalui prosedur pengampunan yang berbeda). Seakan, tiap individu muslim/muslimat dipastikan (karena salah satu sifat dasarnya) melakukan kesalahan, kelalaian, dan dosa, diberikan pengampunan di bulan Ramadhan (Allahu ma ighfirli, allahu ma irhamni, Allahu ma tiqni). Bahkan, begitu maha pengasihnya, Allah dikatakan “merantai” setan dan iblis agar tidak mempengaruhi setiap muslim agar melalukan kelalaian, kesalahan, dan berbuat dosa. Dalam pengertian yang lain (sufistik), karena setiap muslim melipatgandakan ibadahnya, maka tiada celah bagi setan dan iblis untuk mempengaruhi — setan iblis terpental.

Baca Juga :  Mencari Pemerintah: Kisah Seorang Petani Miskin

PADA setiap datang bulan Ramadhan, ada dua peristiwa berhubungan langsung dengan Cucu Magek Dirih yang akan selalu diingatnya. Satu, sejak mula ia mendengar lirik lagu Bimbo “Ada Anak Bertanya pada Bapaknya” ketika masih pelajar PGAN 4/6 Tahun Gunungangilun Padang. Dua, saat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pagi Kompas Jakob Oetama yang menantang kami (enam orang peserta pendidikan/latihan wartawan Kompas) untuk meliput/membuat laporan yang dahsyat dan menggetarkan tentang ibadah puasa dan taraweh Ramadhan. Rupanya dalam pandangan seorang Jakob Oetama (waktu itu) yang seorang Nasrani, ibadah puasa Ramadhan sangat dahsyat dan shalat taraweh begitu menggetarkan.

Bagi Cucu Magek Dirih ketika masih menjadi wartawan Harian Pagi Kompas Jakarta, pernyataan atau perintah Jakob Oetama itu mengejutkan: bagaimana kalian (wartawan Kompas— CMD) membuat berita/laporan yang “menghadirkan ibadah puasa yang dahsyat dan tarawih yang menggetarkan”. Cucu Magek Dirih yang ikut dalam latihan tahunan wartawan Kompas bersama enam peserta lainnya itu terkejut karena justru Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pagi Kompas yang seorang Nasrani memerintahkan kepada kami/wartawan Kompas untuk meliput tidak saja secara profesional, tapi, pun dengan hati bersih dan pikiran jernih, dengan bersimpati/berempati, dengan kesungguhan cukup, hatta berita/laporan kami mampu menghadirkan ibadah puasa yang dahsyat dan ibadah tarawih yang menggetarkan hati siapa yang membaca berita/laporan itu — hal yang menjadi salah satu misi holistik suratkabar seperti Kompas.

Pada setiap datang bulan Ramadhan, Cucu Magek Dirih akan selalu ingat yang pernah dikatakan seorang Jakob Oetama — juga lirik lagu Bimbo, Ada Anak Bertanya pada Bapaknya. Bahwa, ibadah puasa dan taraweh dirasakan amat menggetarkan bagi orang nonmuslim — sebagian kaum Nasrani. Setidaknya dalam pandangan/perasaan/pikiran seorang Jakob Oetama. Lalu, entah kenapa bilamana hal itu seperti tak berlaku pada kebanyakan kita — relatif juga bagi Cucu Magek Dirih sendiri yang memandang puasa dan taraweh Ramadhan begitu ilmiah — terasa tak lebih dari sebuah kewajiban yang kita lakukan dengan agak berat hati — Allahu ma ighfirli. Entah saat Cucu Magek Dirih masih kanak-kanak mengaji di Surau Kiambang, kami memasang colok (obor) pada senja 27 hari puasa dengan riang dan menanti datang malam Lailatu al-Qadar dengan hati berdebar.***

*) H. Sutan Zaili Asril – – Wartawan Senior

Sumber: www.padangekspress.co.id

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Jakob Oetama boleh bergetar hatinya, tapi sebatas sbg media Kompas utk memotret kedahsyatan ramadhan…..tak lebih dan tak kurang….. terima kasih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*