Budaya Ngopi dan Keunikan Konsumen Medan

Medan. KAFE kecil di Jalan Wahid Hasyim No. 9 itu tampak selalu ramai bila sore menjelang malam tiba. Sejumlah anak muda ngobrol di antara aroma kopi yang menyerbak dari mesin penggiling (kopi). Nama kafe itu Omerta, milik Denny Sitohang yang sejak setahun belakangan mulai melihat budaya ngopi di Medan sebagai magnet bisnis.

Kafe itu buka mulai siang hingga malam, kadang sampai larut tergantung obrolan pengunjung yang kadang bisa panjang dan lebar. Di Omerta, Denny menyediakan biji kopi lokal, seperti Mandailing, Gayo, Lintong, Dolok Sanggul, Sidikalang, Toraja dan kadangkala dari luar, seperti Kolombia.

Walau budaya ngopi memang sedang trend, Denny tidak mau terjebak pada hanya merek dagang “kopi”. “Kopi yang kita sediakan semuanya single origin,” katanya. Denny memang tidak ingin ada stereotip bahwa kopi spesial itu selalu mahal. Untuk secangkir kopi spesial ia memasang harga mulai dari Rp 10.000, tidak melebihi harga Rp 15.000.

“Kalau dibuat mahal nanti tidak ada yang mau minum kopi. Di Omerta kita sebenarnya juga ingin memberikan edukasi kepada pengunjung,” ucapnya. Di Omerta, Denny memajang biji kopi. Setelah pengunjung memilih, ia baru menggiling dan menyeduhnya secara manual (manual brew) menggunakan Pour Over, Mokapot, Fench Press maupun tubruk.

Menurut sejumlah trader kopi lokal, kopi spesial Indonesia merupakan komoditas ekspor. Kopi spesial grade 1 atau ready export dipasarkan ke Amerika dan Eropa. Kopi itu diproses lalu dipasarkan lagi ke Indonesia. Wajar bila gerai kopi franchise dari luar negeri memasang harga yang relatif tinggi untuk secangkir kopi spesial Indonesia, khususnya Sumatera.

Baca Juga :  3 Hari Dihantam Puting Beliung 174 Rumah dan 30,5 Ha Sawah Rusak di Simalungun

“Kalau saya banyak ekspor arabika ke Amerika, sedangkan robusta lebih banyak ke Eropa,” kata Oktavianus Zebua, trader kopi dari CV Olivia Christy, Medan. Menurutnya, pasar itu sebenarnya bisa diarahkan bila lambat laun konsumen lokal semakin teredukasi dengan kopi.

Medan International Coffee Festival
Semerbak aroma kopi juga dirasakan Lutfi Hutasuhut. Pelaku industri kreatif (event organizer) yang mengusung bendera Sinergy Management ini mengatakan sudah saatnya edukasi kopi terus digalakkan di tingkat lokal. Setidaknya ke depan, pasar kopi lokal tidak lagi selalu bergantung pada luar.

Edukasi tentang kopi, katanya, dapat dilakukan lewat sejumlah workshop, seminar maupun festival, seperti Indonesia Coffee Festival yang digelar Jogyakarta, September lalu.

“Kenapa Medan yang merupakan pintu gerbang ekspor kopi Sumatera, belum pernah memiliki event seperti itu. Apalagi Sumut kan salah satu produsen kopi spesial terbesar di Indonesia, bahkan dunia,” ujarnya.

Menurut Lutfi, sejak dua tahun lalu ia sudah menggagas ide penyelenggaraan event Medan International Coffee Festival, sayangnya gagasan itu tidak mendapat respon antuasias dari pihak terkait. Ia sudah mengajukan gagasan itu kepada Wakil Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry, namun tidak mendapat dukungan. “Saya bahkan sudah ke Jakarta mendatangi pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, namun ternyata birokrasinya sangat rumit,” katanya. Lutfi yang sampai saat ini terus berupaya mewujudkan event itu, optimis event itu tidak hanya akan menaikkan pamor kopi lokal, tapi juga akan turut menghidupkan industri hilir kopi, seperti kafe dan industri kaitannya. Bila di hilir hidup, maka di hulu juga akan hidup, termasuk kesejahteraan petani kopi.

Baca Juga :  Demo Mahasiswa IMM Tuntut SBY Mundur

Penulis: (tonggo simangunsong)
Sumber: MedanBisnis –

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*