Buku Pelajaran Akan Digratiskan

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan menyediakan buku pelajaran gratis kepada siswa SD hingga SMA di 2013, bersamaan dengan diterapkannya kurikulum baru yang saat ini drafnya segera memasuki masa uji publik.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Kebudayaan, Musliar Kasim, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan buku serta bahan ajar kurikulum baru yang rencananya diterapkan di 2013. Buku tersebut nantinya akan disediakan di sekolah dan digunakan secara cuma-cuma oleh siswa. “Rencananya, buku-buku tersebut akan diberikan secara gratis kepada para siswa,” kata Musliar, di Jakarta, Minggu (18/11).

Musliar mengatakan langkah menggratiskan buku pelajaran tersebut merupakan salah satu wujud respons Kemdikbud terhadap keluhan dari orang tua murid terkait dengan tingginya biaya pembelian buku di beberapa sekolah. “Nantinya, buku tidak akan dibebankan kepada orang tua murid, semua akan ditanggung oleh pemerintah,” tegas Musliar.

Hal tersebut merupakan bagian dari semangat pemerintah untuk melaksanakan wajib belajar 12 tahun. Terkait dengan materinya, saat ini bahan ajar serta buku-buku tersebut sedang dikaji dan disiapkan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemdikbud.

“Materi-materinya sudah mulai disiapkan, diharapkan dapat selesai paling lambat bulan Februari tahun depan,” ungkap mantan Rektor Universitas Andalas itu.

Menurut Musliar, perubahan mendasar materi bahan ajar akan terjadi pada jenjang sekolah dasar (SD). Pasalnya, pada kurikulum baru metode pembelajarannya berdasar tematik. Di samping buku paket, pihaknya juga akan membuat buku pegangan yang akan diberikan kepada semua guru. “Perubahan signifikan akan terjadi di SD karena bukunya dibuat secara tematik, bukan lagi per mata pelajaran,” papar mantan Irjen Kemdikbud ini.

Dengan demikian, satu buku nantinya dapat memuat beberapa mata pelajaran. “Jadi siswa tidak lagi membawa banyak buku setiap harinya, mungkin cukup dua buku dalam satu hari. Sesuai dengan tema yang sedang diajarkan oleh para guru,” jelas Musliar.

Baca Juga :  Rupiah Loyo, Elektronik dan Gadget Makin Mahal

Pengembangan Kurikulum
Sementara itu, Mendikbud, Mohammad Nuh, menjelaskan pengembangan kurikulum harus disesuaikan dengan orientasi dari para peserta didik. Dengan demikian, desain dari kurikulum tersebut tidak akan melampaui kemampuan dan orientasi mereka. “Kompetensi yang dihasilkan harus bisa menjawab kebutuhan mereka untuk masa depan, baik untuk kebutuhan bangsa maupun dirinya sendiri. Jangan sampai mereka dididik untuk kebutuhan sekarang,” tegasnya.

Menurut Nuh, dalam menyiapkan kurikulum harus memperhatikan sejumlah aspek, di antaranya standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian. “Setelah itu dirumuskan, baru diterjemahkan dalam buku pegangan,” pungkas Nuh.

Sementara itu, mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, berharap pengajaran budaya harus dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia agar anak-anak bangsa tak lupa akan akarnya. Menurutnya, salah satu budaya Indonesia yang pantas untuk dilestarikan dan dimasukkan ke dalam kurikulum adalah seperti budaya pencak silat. “Pencak silat merupakan budaya dan olah raga yang bisa membentuk karakter bangsa sehingga perlu terus dilestarikan,” kata Endriartono di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Dikatakan Endriartono, jika pencak silat dimasukkan dalam kurikulum atau ekstrakurikulum sekolah, maka akan diikuti oleh seluruh pelajar di Indonesia sehingga secara sadar atau tidak turut melestarikan budaya bangsa dan berlatih olah raga yang memiliki dampak membentuk karakter bangsa.

Sebagai generasi penerus, menurut dia, bangsa Indonesia sudah sepatutnya meneruskan semangat perjuangan, melestarikan, mengangkat, dan mengembangkan pencak silat yang merupakan budaya asli bangsa Indonesia. “Namun, akhir-akhir ini sedang mengalami krisis akibat dampak dan pengaruh dari berbagai budaya asing dan globalisasi,” katanya.

Menurut dia, jika bangsa Indonesia tidak mampu melestarikan dan memeliharanya, secara benar, jujur, serius, konsekuen, dan konsisten, maka di tengah kepungan budaya asing, budaya asli bangsa Indonesia akan semakin tergerus.

Endriartono juga menyatakan akan berbicara dengan pimpinan TNI perihal ilmu bela diri yang diterapkan prajurit TNI AD. “Jika benar TNI AD menerapkan ilmu bela diri tradisional dari Korea, bukan pencak silat, akan saya tanyakan apa kelebihannya,” kata Endriartono.

Baca Juga :  Terjadi Dua Aksi Penembakan di Aceh, 4 Tewas

Endriartono tidak yakin jika prajurit TNI menerapkan ilmu bela diri tradisional dari Korea Selatan, yongbo, karena pencak silat kurang baik. Menurut dia, pencak silat adalah warisan budaya asli Indonesia yang cocok dengan karakter bangsa Indonesia, termasuk prajurit TNI. “Nanti akan saya bicarakan hal ini dengan pimpinan TNI,” katanya.

Deputi Bidang Pembudayaan Olah Raga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Tunas Dwidharto, menambahkan untuk melestarikan dan mengembangkan pencak silat, sebaiknya dimasukkan dalam kurikulum sekolah di seluruh Indonesia. Tunas sudah membicarakan usulan ini kepada Sekretaris Jenderal Kemenpora dan sudah menjadi wacana di Kemenpora.

Menurut dia, pencak silat merupakan olah raga yang memiliki dampak positif yakni membentuk mental dan baik, sportif, dan jujur. “Dengan terus mengembangkan pencak silat berarti membentuk karakter yang baik sekaligus mengembangkan budaya asli bangsa Indonesia,” katanya.

Tunas juga mengingatkan dengan aktivitas di pencak silat remaja dan generasi muda bisa terhindar dari ancaman bahaya narkoba. Menurut dia, ancaman bahaya narkoba saat ini sudah menyebar di tengah bangsa Indonesia dan menjadi penyebab kematian sekitar 15 ribu jiwa per tahun. cit/nsf/N-1 – http://koran-jakarta.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*