Buntut Insiden Dengan Pihak PT Toba Pulb Lestari (TPL)Seribuan Warga Pollung Datangi Polres Humbahas

(Analisa/parasian hasibuan). Seribuan warga Desa Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Humbang Hasundutan (Humbahas) melakukan aksi di depan gerbang kantor Polres Humbahas di Kecamatan Lintong Ni Huta, Humbahas, Selasa (26/2).

Dolok Sanggul, (Analisa). Ribuan warga Desa Pandumaan dan Sipituhuta Kecamatan Pollung, Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara (Sumut) datangi Polres Humbahas, Selasa (26/2) di Lintong Ni Huta. Kedatangan ribuan warga meminta 31 warga dari dua desa yang ditahan akibat insiden dengan pihak PT Toba Pulb Lestari (TPL) dibebaskan.

Masyarakat petani kemenyan tersebut melakukan aksi kebaktian massal di depan kantor Polres Humbahas. Aksi ibadah massal yang digelar di badan jalan Lintas Sumatera Humbahas tersebut dipimpin para pendeta dari Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), serta perwakilan dari Gereja Katolik di Humbahas.

Selain meminta 31 warga yang ditahan untuk dilepas, warga dan PGI juga menyesalkan aksi penyerangan ke perkampungan warga yang dilakukan Polres Humbahas pada Selasa dini hari.

Warga mengatakan, personil kepolisian masuk dengan mendobrak rumah serta ada juga warga yang mengalami tindakan kekerasan. “Laporan itu kami dapat dari jemaat gereja di Pollung, dan kami menyesalkan sikap kepolisian yang demikian,” terang Ketua PGI Humbahas, Jendyaman Gultom kepada Analisa usai melaksanakan ibadah di halaman polres.

PGI dan perwakilan Katolik menilai, tindakan pihak kepolisian yang menyerang warga adalah bentuk tekanan atas sejumlah kepentingan para pemodal. Serta ke depan kepolisian harus memahami letak dasar persoalan. Pasalnya warga juga tidak menginginkan terjadinya insiden kekerasan antara masyarakat adat dengan pekerja TPL.

“Masyarakat tidak memiliki kekuatan hukum karena adanya alasan ijin menteri dan sejumlah peraturan pendukung lainnya. Kami juga menyesalkan Pemkab yang tidak memberikan dukungan hukum untuk perjuangan masyarakat adat seperti pembuatan Perda tanah adat,” terang perwakilan Katolik, Erikson Simbolon.

Baca Juga :  Panwas Madina Main 'Petak Umpet'

Picu

Aksi warga dipicu ketika para petani kemenyaan mengetahui adanya pengerjaan lahan di kawasan hutan kemenyan yang sudah dikelola warga secara turun temurun. Warga masuk ke kawasan hutan dan meminta para pekerja perusahaan pulp tersebut untuk menghentikan aktifitas.

Adu mulut yang berujung pada kontak fisik antara warga dengan pihak pekerja tidak terelakkan. Akibat aksi tersebut satu unit truk PT TPL dibakar massa. Akibatanya pada saat peristiwa tersebut 16 orang ditahan pihak kepolisian. Kemudian warga marah dan memblokade Jalan Lintas Sumatera di Marade, Pollung. Selanjutnya pihak kepolisian membubarkan blokade secara paksa dan menahan 15 warga. Hingga total yang ditahan 31 warga yang keseluruhannya laki-laki.

Pertahankan Hak

PGI menilai apapun yang terjadi dalam konflik tersebut adalah bagian dari upaya masyarakat mempertahankan hak atas warisan mereka. Serta keseluruhan dari inseden tersebut adalah ekses dari minimnya perlindungan atas hak masyarakat. Sehingga masyarakat Pandumaan dan Sipituhuta bukan penyebab utama insiden tersebut, melainkan sebagi korban atas kebijakan pemerintah.

“Masyarakat sudah menempuh jalur hukum. Namun masyarakat tidak mendapatkan kepastian hukum sehingga wajar insiden ini terjadi, dan pihak kepolisian harus memahami hal tersebut,” ujar ketua I PGI Humbahas, Pdt Irvan Hutasoit.

Sementara itu kepala Desa Pandumaan, Budiman Lumban Batu sangat menyesalkan sikap pelosian yang menangkap paksa ke 31 warganya. Sebagai pamong dilingkungan masyarakat Pollung, Budiman mengatakan warganya juga bukan komunitas masyarakat yang arogan, sadis serta tidak memiliki kesadaran hukum. Namun sejuah ini warga sudah terus berjuang dan menuntut hak-hak warga atas pembebasan lahan mereka yang berada di tengah hutan.

Menurut budiman tindakan yang dilakukan kepolisian sudah menimbulkan trauma yang besar bagi masyarakat Pandumaan dan Sipituhuta. Pasalnya penyerangan dilakukan malam hari. “Kita tidak sepakat dengan aksi blokade warga, namun harus dipahami juga warga memblokade jalan karena hak mereka dirampas. Mereka tidak memiliki alternatif aksi, sebab segala cara sudah dilakukan,” paparnya.

Baca Juga :  Kadishutbun Mandailing Natal Dicopot

Sementara Direktur TPL Leonard Hutabarat ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya menyerahkan masalah sengketa ini kepada pihak kepolisian. Serta keseluruhan aktifitas perusahaan yang dulunya bernama PT Inti Indorayon Utama (IIU) tersebut di kawasan Sektor Tele sudah berjalan sebagaimana mestinya. “Kami belum mengetahui total kerugian, yang pasti salah satu truk kontraktor terbakar, sejumlah bibit dan pupuk ikut dibakar,” katanya. (ph)

Analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

8 Komentar

  1. He. hee.. hheee… , nggak tahu diri. Situ kan cuma wayang yg diatur, sini dalang yg mengatur. Percuma situ marsamburetan berkoar-koar, tokh aksi demo massa Sekber Gerakan Tolak Toba Pulp Lestari (TPL) Selasa tadi siang lanjut terus. Kecian deh, ngeliatin “anjing (akal tak waras) mengkaing, kafilah aktifis cuek menggebu terus”.

  2. Kenapa enggak kau yang datang ke POLDA Mornif kunyuk. Apakah kau sudah merasa banyak untung saat ini ? Atau kau takut ke Medan ? dan apakah kau juga takut akibat ulah perbuatan kau selama ini karena sudah banyak kau makan uang dari hasil maling kayu ! Dasar kau manusia enggak bertuhan. Bodat-bodat. Kau lah yang lihat ke POLDA san seperti Monyet minta mainan…
    HAHAHAHAHA…….

  3. Wah, salam bodat? Si AKAL tak WARAS punya ekor rupanya ya? Aq dan rakyat untung, Toba Pulp Lestari (TPL) buntung, kok situ mutung? Siapa situ, antek TPL? Sore tadi BAKUMSU plus perwakilan rakyat korban TPL dr 10 Kabupaten konferensi pers di Medan dukung konflik Desa Pollung. Besok mereka rame-rame aksi demo ke Poldasu, gih tonton sonoh biar sadar situ cuma kunyuk lawan arus.

  4. Morniff Bangsat jangan kau bawa2 Rakyat !!!

    Kau membuat ocehan murahan di forum yang kau buat ini !!! Siapapun bisa membuat Ocehan murahan seperti kau !!! Kau sadar akibat dari ocehan Kau ” Kau Untung Orang Rugi” !!! Kau mengambil keuntungan dari masyarakat yang tidak berpendidikan yang bisa kau perdaya dengan ocehan murahan kau yang tidak berpendidikan !!! Tobatlah kau jangan kau sebagai pecundang yang mengorbankan orang lain sebagai tameng busuk kau !!! Siapun kau dan antek-antek kau pasti bertanggung jawab atas perbuatan yang telah kau perbuat !!! Ingat pepatah “Guru kencing berdiri murid kencing berlar”i.

    Salam BODAT !!!

  5. He, nama samaran gadungan “AKAL WARAS” tapi ocehannya mabuk kayak orang sinting, Toba Pulp Lestari (TPL) maling kayu rampok tanah yang kau bela, justru buat banyak rakyat petani di Sipirok dan Angkola Timur sengsara. Sayangnya pembelaan alias penjilatanmu tidak elegan malah tampil vulgar ciri biadab ! Kuulangi komentar pada TPL: “bad news is a good news, bad commentsd is a good supports”. Bye, selamat beredam sampai tenggelam dalam bahasa primitifmu.

  6. Mornif jangan kau racuni lagi warga yang tidak berdosa!!! Kau nanti kena azab sama yang kuasa. Sudah cukup kau buat orang sengsara. Dasar Kau maling tengik !!! Kau yang untung orang yang sengsara kau buat !!! Biadab Kau!!!.

    Salam bangsat sama kau !!!

  7. Sekber Gerakan Tolak Toba Pulp Lestari (TPL) koordinator BAKUMSU (WALHISU ang. Sekber) antisipatif, Senin lusa 4 Maret konferensi pers bersama Perwakilan korban TPL dr 10 kabupaten. Selasa 5 Maret aksi solidaritas bersama ke Poldasu. Perwakilan korban TPL dr Tapsel akan hadir, bukti masih ada rakyat kecil di Tapsel punya kepedulian pada sesama. Prihatinnya justru banyak yg ngaku aktifis/pegiat sosial di Tapsel cuek dgn gunungan kasus korban-korban TPL di Sipirok & Angkola Timur.

  8. Masyarakat Pollung sebaiknya minta dukungan kepada WALHI sumut.sebab apa yang diperjuangkan petani Pollung sama. Dengan yang diperjuangkan petani di palembang.Jangan mau tanah ulayat kita dirampas pengusaha atau bentuk penjajahan model baru.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*