Bupati: Kerusuhan di Madina Ada Yang Mendesain

Bupati Madina, Amru Daulay

TEMPO Interaktif, Medan – Kerusuhan antar warga di Kecamatan Lingga Bayu dan Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, yang terjadi sejak Selasa malam lalu  didesain oleh pihak ketiga dari luar Madina. Bupati Madina, Amru Daulay menengarai kerusuhan itu bermuatan politis, terkait pemilihan kepala daerah.

“Dengan membawa isu tapal batas antar kecamatan, dan pembagian lahan kebun sawit dilakukan oleh kelompok ketiga di luar Madina,” kata  Amru melalui sambungan telepon kepada Tempo, Kamis (29/4) malam ini.

Soal pembagian 20 persen lahan sawit dari total pengembangan lahan kebun sawit oleh PTP Sumut. PTP Sumut telah diberikan izin mengembangkan kebun sawit seluas 3.000 hektar. ”Kini memasuki masa tanam,” kata Amru.

Lahan tersebut, lanjut dia, berada di Kecamatan Lingga Bayu, yang telah dihuni 900 KK suku Nias. ”Proses ganti rugi sudah dilakukan dengan harga yang tinggi,”  katanya.

Sesuai  kebijakan pemerintah soal revitalisasi, kata Amru, warga dari kedua kecamatan mendapatkan 20 persen dari total luas pengembangan kebun. Dan, pembagian sudah dilakukan. ”Warga dari Kecamatan Lingga diwakili tokoh masyarakat, warga Kecamatan Natal diwakili camat,” ujarnya. “Jadi, lanjut dia, sudah tidak ada masalah.”

Namun, persoalan itu dijadikan komiditi politik oleh kelompok tertentu. ”Saya tidak bisa sebutkan siapa orangnya, tapi Kepolisian sudah tahu itu,”  ujarnya.

Tindakan anarkis tersebut, lanjut Amru, hingga kini masih berlangsung. Warga Kecamatan Natal hingga kini masih melakukan aksi sweeping. ”Tindakan itu dibalas warga Kecamatan Lingga,” ujarnya.

Baca Juga :  Terkait Ada 6 Desa Yang Belum Pernah Mendapat CSR ANJ - Humas ANJ Binanga : Untuk Menjalankan CSR, Saat Ini Kita Fokus Dengan Kebutuhan Masyarakat

Akibat kerusuhan itu,  dua bangunan dirusak massa. Kantor PTP Sumatera Utara di Kecamatan Lingga Bayu, dirusak. Massa juga menyasar Markas Polsek Natal.

Juru bicara Pemerintah Kabupaten Madina, Taufik Lubis menyatakan  mendapatkan informasi adanya perusakan Kantor Polsek Natal. ”Detailnya saya tidak tahu, kejadiannya Kamis siang,” kata Taufik.

Kepala Polres Madina, Ajun Komisaris Besar Hirbak Wahyu hingga  tadi malam belum bisa dihubungi.

Kerusuhan di Madina diduga disusupi kelompok garis keras

www.waspada.co.id

MEDAN – Kapoldasu, Irjen Pol  Oegroseno, menduga peristiwa bentrokan antar warga di Lingga Bayu kabupaten Madina disusupi orang beraliran keras.

“Kecurigaan adanya keterlibatan kelompok aliran keras berdasarkan penyelidikan kepolisian di lapangan,” katanya, pagi ini.

Menurut Oegroseno, orang yang menjadi provokator dalam kerusuhan itu telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

“Polisi mengidentifikasi pelaku ada kemiripan dengan buronan terorisme di Aceh, berinisial Zul,” katanya.

Ditambahkan, sampai menjelang pagi kemarin, Brimob masih melakukan pengamanan ekstra di dua kecamatan tersebut.

Sebelumnya, kawasan di perbatasan kecamatan  Lingga Bayu dengan kecamatan Natal dikabarkan sempat kondusif. Namun, Kamis (29/4) dini hari pukul 02.30 WIB, situasi disana  kembali memanas, menyusul penyanderaan seorang wanita bernama, Dewi (18), oleh satu kelompok yang diduga disusupi kelompok aliran keras tersebut.

Akhirnya, warga dibantu petugas dipimpin langsung Kapoldasu, Irjen Pol Oegroseno, bersama Kasat Brimob, Kombes Pol Verdianto I Bitticca, dan Kabid Humas Poldasu, Kombes Pol Baharudin Djafar, berhasil membebaskan sandera.

Polisi mengamankan tiga orang warga yang diduga sebagai provokator. Ketiga orang itu, ujar Oegroseno, masih ditahan di Polres Madina.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Unjuk Rasa Format di Kantor WalKot Padangsidimpuan Ricuh, Satpol PP & Mahasiswa Saling Dorong

6 Komentar

  1. Kayaknya Pak IWAN LUBIS ini orang PINTAR dan TELADAN yaaa…

    dan saya ingin sekali berkenalan lebih lanjut dengan Pak IWAN LUBIS.

    Pak Iwan ini iabrat AYAM “Siapa yg berkotek itulah yg BERTELOR”

  2. Memang orang-orang Natal bodoh-bodoh dan pemalas, maunya yang sudah jadi baru recok, waktu masih dikuasai suku nias tak ada reaksi diam saja, sudah dibuka ptpsu baru sibuk. Laut itu kalian kelola, jangan mau enak aja.

  3. Kalo memang sudah ada pembagian lahan untuk masyarakat natal yang diwakili oleh Camat, kenapa masyarakat Natal masih tidak terima. setahu saya masyarakat Natal merupakan orang-orang yang berkepala dingin dalam menyelesaikan masalah. jadi kalo mereka marah, berarti ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pembagian lahan tersebut. mungkin ada apa-apa nya dengan camat natal yang mewakili masyarakat natal.

  4. Jarak ibu kota propinsi (Medan) dengan Madina (+-600 km) sudah tidak ideal, sehingga permasalahan yg timbul di tengah masyarakat agak lambat penanganannya, SUDAH SEPANTASNYA TABAGSEL SEGERA MENJADI PROIIPINSI

  5. Alangkah bagusnya kasus ini dilihat secara jernih akar permasalahannya, jangan membuat suatu komentar yang tidak berdasar bahkan untuk bisa saja untuki mengalihkan suatu perhatian akibat kepentingan.

    Pak Bupati, sebaiknya jangan cepat-cepat membuat statment kalau tidak ada buktinya. Kalau itu memang ada bukti yang kuat, barulah disampaikan apa adanya. Sehingga tidak terkesan saling menyalahkan atau mencari kebenaran masing-masing pihak.

    Mauliate….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*