Burangir Mengecam Walikota Padangsidimpuan Membela Diri

Burangir Mengecam Walikota Padangsidimpuan Membela Diri . Senin 6/4/2020. Kecaman ini muncul setelah Walikota Padangsidimpuan, (Irsan Efendi Nasution) Angkat bicara terkait perempuan pasien PDP COVID 19 ( Corona) yang sempat curhat di media Sosial Facebok sebelum meninggal dunia, Sabtu (04/04/2020).

Beginilah isi klarifikasi yang di ucapkan walikota kepada wartawan, Pasien yang sedang hamil itu sempat mengunggah status lewat akun pribadinya di Facebook. Dalam Statusnya dia  menyebut pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padangsidimpuan tempat dia dirawat sangat buruk.

“Bisa kami pertanggungjawabkan semua. Pelayanan sudah kami lakukan yang terbaik, kami punya foto dokumentasi. Punya video dan apa yang menjadi kewajiban rumah sakit,” bantah Irsan Effendi Nasution.

Irsan menjelaskan bahwa tenaga medis mereka ada di ruang isolasi.

Setelah membaca berita ini, Kecaman dari Pengurus Burangir Kota Padangsidimpuan, ( Timbul Simanungkalit ) pun muncul. Yang dimana Tim Burangir ikut serta mendampingi Pasien / Almarhum dan keluarga.

Pengurus Burangir kota Padangsidimpuan pun menyatakan pertanyaan kepada Walikota Padangsidimpuan lewat Akun Pribadi Facebook nya.

“Membaca berita ini membuat darah saya mendidih. Saya tidak menyangka statement seperti ini diucapkan seorang pemimpin rakyat di tengah suasana duka.

Pak Wali Kota Irsan Efendy !

1. Seharusnya yang anda lakukan adalah menyatakan turut belasungkawa kepada korban dan menenangkan masyarakat dengan berkembangnya issue hoaks yang merugikan korban dan membuat cemas warga. Bukan membela diri.

Baca Juga :  Pembangunan Perkantor Bupati Tapsel - Pembukaan Jalan Sepanjang 3 Km Dimulai

2. Siapa yang membully paramedis? Bukankah sebaliknya orang-orang “istana” yang mengejek dan menghina korban? Buktinya ada terdokumentasi.

3. Makanan tersebut adalah permintaan pasien? Apa ada orang sakit yang memesan nasi keras?

4. Kami menyiapkan 20 paramedis dan dokter. Tahu nggak anda kalau infus pasien habis jam 03.00 pagi, lalu korban terpaksa menelepon keluarganya?

5. Dispenser sudah tersedia di kamar. Itu jawaban untuk orang yang sehat yang bisa melayani diri sendiri. Kenapa tidak sekalian saja anda katakan, “Ambulance dan kuncinya ada di parkiran. Silahkan bawa sendiri!”

6. Kami punya bukti foto dan video. Silahkan tunjukkan, pak! Almarhum Enni sudah menunjukkan videonya dan ditonton oleh 300 ribu orang lebih. Sekarang giliran anda.

7. Tahukah anda bahwa ketika almarhum dalam perjalanan rujukan ke RSUD Adam Malik, OKSIGEN HABIS di Parapat dan baru bisa diisi di sebuah rumah sakit swasta di Pematangsiantar?

8. Tahukah anda bahwa selama perjalanan Parapat-Siantar almarhum tidak memakai oksigen sama sekali?

9. Tahukah anda bahwa yang membeli dan mengisi oksigen tersebut adalah seorang keluarga korban yang mengikuti dengan mobil lain di belakang ambulance?

10. Tahukah anda bahwa perawat dan sopir ambulance baru mengetahui pasien sudah meninggal ketika pintu ambulance dibuka setibanya di RS Adam Malik? DOA (Dead on Arrival). Karena mereka duduk di depan, dan pasien di belakang sendirian.

Baca Juga :  Loyalitas SKPD Terhadap Bupati Tapsel Diragukan

Baru sekarang saya mengungkapkan kejadian ini, karena saya tahu itu bisa berakibat buruk bagi seorang paramedis dan sopir yang sama-sama berstatus THL.

Tangan saya gemetar dan gigi saya gemerutuk menulis postingan ini.
Cukup sudah pencitraanmu, pak Irsan!!!
Jangan menambah jumlah orang yang membencimu.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*