‘Buried’: Saat Dunia Selebar Peti Mati & Ponsel Jadi Satu-satunya Penolong

Sebuah film yang sepanjang 95 menit hanya dibintangi satu pria, dalam sebuah ruangan sempit, dengan sudut kamera dan pencahayaan yang terbatas? Tentu akan membosankan, jika sang sutradara tidak tahu cara meraciknya. Tapi, ‘Buried’ karya Rodrigo Cortez berbeda. Penonton digiring secara intens, perlahan tapi pasti, ke sebuah perasaan mencekam, merasakan ketegangan karakternya: “Bagaimana rasanya jika kita siuman dan menyadari bahwa kita dikubur hidup-hidup dan tak yakin ada orang yang bisa menyelamatkan kita?”

Paul Conroy (Ryan Reynolds) adalah  sosok sial itu. Awalnya semua hanya gelap dan gelap. Dan, ada seseorang disekap dengan tangan dan mulut terikat, di peti mati yang sempit . Sedikit demi sedikit, informasi berdatangan, setelah Paul berupaya mencari pertolongan lewat ponsel yang ditaruh dengan sengaja oleh penculiknya. Paul bekerja sebagai supir sipil di Irak. Rombongannya diserang warga, dan mereka meminta uang tebusan.

Hanya dibekali cahaya dari zippo, senter, dan sebuah tongkat cahaya darurat, Paul berupaya menyelamatkan diri. Dan di sinilah muncul karakter-karakter lain lewat suara, seperti Dan Brenner (komandan penyelamat), Alan Davenport (direktur SDM CRT, kantornya), Jabir (sang penculik),  dan Linda (istrinya), juga operator 911 dan 411, dan operator pemerintah. Intinya, Paul benar-benar bekerja keras untuk mengontak siapa pun yang bisa dimintai bantuan.

Film ini melakukan adaptasi terbalik dengan teknologi. Kita dibuat tersadar, betapa hidup kita sekarang ini begitu tergantung pada sinyal dan baterai ponsel. Kita tidak hafal banyak nomor ponsel orang, karena tidak terbiasa mengingat nomor. Dan, karena kita lebih hapal telepon rumah, kita pun menghubunginya, dan sialnya itu adalah hari kerja sehingga mesin penjawablah yang bicara. Dan, media sosial semacam YouTube menjadi media untuk membuat video meminta tebusan, yang diakses 47 ribu kali dalam waktu setengah jam.

Baca Juga :  Ben Prioritaskan Marshanda Lulus Kuliah

Hal lain yang menarik adalah status “teroris” yang didekonstruksi. “Saya menculikmu dan meminta tebusan, lantas dicap teroris?” ujar Jabir. “Bagaimana dengan pemerintahmu yang membantai warga Irak yang tak bersalah?” lanjutnya. Paul berupaya meyakinkan bahwa ia tidak terlibat kebijakan itu dan hanya karyawan kontrak di Irak, tapi tentu saja generalisasi dan stereotip menguasai otak banyak orang. “Tolong jangan bunuh saya, saya punya dua anak,” iba Paul. Dijawab, “Oh ya? Saya punya 5 anak, dan mereka perlu diberi makan!”.

Semakin lama, film ini semakin membuat jantung berdetak, dan kita seolah makin merasakan langsung apa yang dirasakan Paul. Apalagi film ini memakai metode “penonton hanya melihat dan mendengar apa yang dilihat dan didengar karakternya”, bukan “penonton adalah Tuhan yang tahu segalanya yang tidak diketahui karakternya”.

Film ini disyut 17 hari di studio Barcelona menggunakan 7 peti mati. Tentu dananya tidak terlalu besar. Tapi, lebih dari cukup untuk membuat efek yang mendalam bagi penonton. Klaustrofobia dan kecemasan karakternya sukses menular ke penonton. Sebuah trauma yang depresif. Dan, akhir cerita bukanlah inti dari semua ini. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  "Standing Ovation" untuk Balawan dan Kawan-kawan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*