Buruh Dalam Perekonomian Dunia

Oleh: Muslim Pohan *)

Tekanan yang berat dari proses globalisasi kapitalis dilesakkan oleh buruh, yakni penataan kembali terhadap apa yang kemudian menjadi mekanisme penyesuaian struktural pokok. Perkembangan kapitalis telah memisahkan banyak sekali produsen langsung dari alat-alat produksinya, merubah mereka menjadi kaum proletariat dan menciptakan angkatan kerja pada tingkat global diperkirakan mencapai 1,9 juta pekerja dan karyawan pada tahun 1980, 2,3 juta pada tahun 1990 serta 3 juta menjelang tahun 1995. Disisi lain, permintaan terhadap buruh melambat dibandingkan dengan penawarannya.

Penulis : Muslim Pohan

Akibat perkembangan kapitalisme yang dilakukan secara besar-besaran telah menimbulkan surplus buruh yang melimpah dan semakin bertambah. Dari kaum proletariat diperkirakan 50% jumlahnya banyak sekali akibat proses perkembangan kapitalisme. Sekarang ini banyak kaum proletariat yang menganggur dan setengah menganggur, dengan demikian menambah beban di sektor-sektor informal yang sedang tumbuh di pusat-pusat kota Dunia Ketiga atau beban pada batas-batas ekonomi kapitalis.

Barangkali sepakat dengan James Petras dan Henry Veltmeyer yang menyatakan, bahwa selama dekade abad ke-21 adalah krisis yang makin meruyak di Asia dan krisis yang berkelanjutan di Amerika Serikat akan mengarah pada membengkaknya jumlah pekerja informal dengan pendapatan yang sekedar untuk menyambung hidup atau bahkan lebih rendah lagi, pergerakan bolak-balik buruh dan petani miskin dalam sekala besar antara ekonomi kota dan ekonomi desa, semakin murahnya produksi industri dan semakin sedikitnya pekerjaan dengan gaji memadahi di negara-negara kapitalis maju, tumbuhnya pekerja di bidang jasa dengan upah rendah dan krisis yang melanda standar kehidupan buruh di seluruh dunia ini.

Perkembangan teknologi akan mengarah pada tumbuhnya sebuah elite kecil dari kalangan insinyur dan eksekutif dengan gaji memadahi serta banyak prosesor informasi yang dibayar murah oleh para proletariat baru. Terkait dengan gerakan modal masif spekulatif, sistem-sistem informasi baru ini dapat dianggap sebagai alat untuk menyerang modal yang produktif dan standart kehidupan para buruh upahan.

Baca Juga :  Bupati Syahrul Pasaribu Belum Benahi Gunungan Tumpukan Kasus Warisan Mantan Bupati Ongku Hasibuan

Keterlibatan sosial dan politik dari perubahan ini penting, perubahan ini akan menciptakan sebuah struktural sosial dan sistem hubungan kelas yang sangat berbeda. Dalam hal lain, perubahan ini akan meneguhkan kedudukan strategis buruh.

Organisasi Buruh Internasional menyebutkan bahwa penurunan nilai upah yang meluas dan dramatis sebagian dikarenakan oleh perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur produksi, pengenalan teknologi-teknologi dan perubahan-perubahan baru dalam perekonomian global. Namun demikian, mengacu pada Amerika Serikat, bahwa setidaknya 20% dari penurunan ini dapat diatribusikan secara langsung pada melemahnya kemampuan buruh untuk menegosiasikan kesepakatan-kesepakatan kolektif.

Buruh (Google)

Dalam konteks global, UNCTAD (Third World Guide) memperkirakan 120 juta pekerja kini secara resmi menganggur (di antaranya 35 juta di Eropa ) dan 700 juta lainnya setengah menganggur, terpisah dari alat-alat produksi mereka dan menambah kesusahan sektor tak terstruktur atau informal, yang berjumlah lebih dari 50% dari angkatan kerja di negara-negara berkembang.

Perubahan tersebut di atas mungkin tidak dengan negara Indonesia, sebagian besar buruh Indonesia memiliki upah gaji yang relatif rendah dibandingkan dengan pengeluaran dalam kehidupan sehari-hari. Akibat pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), maka harga bahan pokokpun akan berimbas ke masyarakat. Mengapa demikian, karena para pedagangpun menggunakan BBM dalam beraktivitas. Sementara gaji yang diperoleh tidak seimbang dengan pembelian harga bahan pokok. Oleh karena itu, pemerintahan Jokowi-Kalla harus lebih berhati-hati lagi dan memikirkan nasib rakyat.

Dunia saat ini berada dalam desain terbentuknya pasar global yang terkuasa. Tentu yang berkuasa sekarang bukan lagi para politisi atau negarawan, tapi pemilik modal yang besarlah yang menguasai. Aparat pemerintah, militer, politisi, kaum cendekiawan, dan kelas menegah, hanyalah agen-agen lokal dari kapitalisme trans-nasional. Segala usaha dikerahkan untuk merealisasikan agenda global. Strategi disusun untuk memuluskan jalan ini. Di sisi lain, dengan alasan penguatan masyarakat sipil, desain yang dibuat juga dimanfaatkan dan mencaplok semua hak masyarakat ini demi kepentingan dirinya. Dengan sendirinya, kekuasaan negara dan pemegang klaim hak masyarakat sipil sama-sama berada dalam genggaman para kapitalis. Jika kekuasaan negara dan hak masyarakat sipil sekaligus ada di tangan satu golongan. Semua desain dan strategi itu berada di bawah panji-panji bernama globalisasi. Ironisnya, masih banyak yang menganggap bahwa persoalan globalisasi adalah hal yang wajar.

Baca Juga :  Pembongkaran Pemakaman Warga - Pemkab Tapsel Dinilai Langgar HAM Berat

*) Muslim Pohan –
Mahasiswa asal Hadungdung Pintu Padang, Kab.Padanglawas, Prov.Sumatera Utara dan saat Kuliah di Mahasiswa Islam (LAPMI) Ushuluddin UIN Yogyakarta dan aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Ushuluddin UIN Yogyakarta.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*