Cacingan Masih Jadi Ancaman Di Sumut

MEDAN – Infeksi cacing pada anak tingkat sekolah dasar masih menjadi ancaman di Sumatera Utara, diperkirakan 30 persen dari dua juta jumlah pelajar di daerah tersebut menderita cacingan.

Kepala Seksi Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit, Dinas Kesehatan Sumatera Utara,  Sukarni, di Medan, mengatakan, berdasarkan hasil survey Dinkes Sumut tahun 2008 di sembilan kabupaten/kota di daerah itu, angka prevalensi cacingan mencapai 50 sampai 90 persen.

“Hasil survey itu dilakukan di sembilan kabupaten/kota yakni Kabupaten Batubara, Phakpak Barat, Madina, Deli Serdang, Nias, Nias Selatan, Tapanuli Utara dan Serdang Bedagai.Sedangkan tahun 2009, berdasarkan hasil survey di 14 kabupaten/kota angka prevalensinya hanya 6 sampai 40 persen,” katanya.

Dia mengatakan, infeksi cacing pada anak akan mengganggu pertumbuhan, menurunkan kemampuan fisik, produktifitas belajar dan intelektualitas dan pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Anak cacingan otomatis akan kekurangan protein, ini bisa menyebabkan anak cacingan menderita gizi buruk. Biasanya anak yang cacingan mengalami lesu, lemas, malas, bahkan akan berdampak pada SDM,” katanya.

Menurut dia, ada beberapa cara mengatasi cacingan, diantaranya, memeriksakan tinja secara periodik enam bulan sekali. Jika hasilnya terdapat telur maka minumlah obat cacing, jaga kebersihan diri dan lingkungan.

“Serta menjaga kebersihan diri, mandi dua kali sehari pakai sabun, memotong dan membersihkan kuku, cuci tangan dengan air sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar, memakai alas kaki dan terpenting menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” katanya.

Baca Juga :  Setelah RE. Siahaan Jadi Tersangka, KPK Periksa 10 Pejabat

“Cacingan itu penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing perut yang penularannya melalui tanah, yang melekat dikuku atau tangan, sehingga cuci tangan harus dengan sabun dan dilakukan sebelum makan dan sesudah dari toilet,” katanya. (waspada.co.id)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*