Catatan dari Wawancara TOK AI

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)

Ini hari terakhir 2010. Sebuah stasiun Radio Swasta di kota Medan mengajak berbincang santai tetapi bersasaran. Santai bersasaran? Ya, begitulah adanya. Didesign seperti guyonan tetapi diusahakan memberi sorotan berkeseriusan terhadap topik yang mereka rencanakan.

Ketika telefon pertama bermisi pemberitahuan wawancara, saya sedang menikmati seluruh pemaknaan yang dapat saya tangkap dari total nilai (value) baju gamis Arab made in China pemberian sahabat saya, seorang sejawat di kampus yang sudah 2 kali menunaikan umrah. Kondisi itu membawa saya berjalan ke sana dan kemari sambil berdialog live di radio. Perbincangan via telefon kali ini bertujuan mendalami interest para awak radio itu tentang catatan 2010.

Dengan memaksakan diri berloghatkan Melayu Deli, saya pun mulai dengan sebuah pertanyaan:

Saya takut akan kesasar. Tujuan saya pagi ini ke kantor Dewan Kota yang beralamat di Jalan Kapten Maulana Lubis kota Medan. Saya tak faham lagi ini, tampaknya sudah berubah arus lalu lintas.

Tok Ai pun tahu bahwa saya tidak sedang berada dalam kesulitan itu, tetapi tetap saja mengikuti tawaran sandiwara saya dan memberi tahu jalan yang harus saya tempuh menuju kantor Dewan Kota. Beberapa hal yang saya sampaikan dan yang seyogyanya (akan) saya sampaikan akan saya tuturkan di bawah ini, tidak benar-benar dalam bentuk guyonan dan tidak pula dalam bentuk tanya jawab dengan Tok Ai yang sepengetahuan saya bernama sesungguhnya Dahri Uhum Nasution itu.

Orang Dengan Latar Belakang Budaya Agraris jadi Walikota Metropolitan City.
Sepuluh pasangan berhasil lolos dari veryfikasi KPUD Kota Medan dan dinyatakan menjadi Calon Tetap Walikota dan Wakil Walikota Medan 2010-2015. Tetapi yang akhirnya terpilih menjadi pemenang adalah seorang agraris bernama Rahudman Harahap. Saya tidak menafikan bahwa sebelumnya Rahudman Harahap adalah Pjs Walikota Medan setelah ditinggal pensiun oleh pejabat sebelumnya, Afifuddin Lubis. Sebelumnya juga pernah menjabat salah satu asisten di kantor Gubernur Sumatera Utara. Sebelum menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan, konon Rahudman Harahap pernah bertugas di beberapa tempat seperti di kota Pematangsiantar.

Baca Juga :  Republik Tukang Impor

Tetapi bagi saya itu tak begitu kuat memupus kesan Rahudman Harahap sebagai orang berlatar belakang agraris yang kemungkinan sekali lebih cocok sebagai Bupati.  Tetapi itulah faktanya. Ia mengalahkan 9 pasangan.

Mengikuti fakta empiris secara nasional, saya memberi catatan tentang buruknya demokrasi prosedural yang terlaksana untuk tahun 2010 di Sumatera Utara, bukan cuma kota Medan. Tak mengapa orang tak menerima kesimpulan saya yang saya konstruksi dalam dua term (jahatokrasi dan Si Bolis Na Burju). Sebetulnya saya ingin saja mengulangi isi dialog saya dengan Ketua KPUD Sumatera Utara Irham Buana Nasution yang difasilitasi oleh radio ini secara live beberapa pekan sebelum ini.

Sebuah Kota yang Berpantang Hujan.
Tok Ai tergelak saat saya kemukakan bahwa sebetulnya kota Medan didesign seolah menjadi sebuah pemukiman yang tak pernah memperhitungkan akan pernah ada hujan. Kota dengan pantangan hujan itu kan aneh, tetapi kota Medan seolah didesign seperti itu. Lima orang balita kumpul di satu waktu dan mereka dengan perilaku khas seusia itu adu panjang air kencing. Tiba-tiba saja kota Medan banjir. Bukan tidak ada parit, tetapi berhubung fungsinya seolah kurang lebih sebagai kolam, banjir tak terelakkan. Ha ha.

Syamsul Arifin telah ditahan dan Rahudman telah menjadi Tersangka.
Fakta ini saling memperkuat untuk sebuah bangunan image bahwa Medan itu kota paling korup dan Sumatera Utara provinsi paling korup. Sudahlah, biarkan saja setiap orang berpendapat sesuai kehendaknya. Tak mungkin pula membantah bahwa sebelumnya (periode lalu) Walikota dan Wakilnya absen kurang lebih separo dari masa jabatan karena harus menjalani hukuman sesuai vonis peradilan. Argumen apa pun yang diajukan, mata Indonesia seakan tak percaya lagi bahwa kota Medan dan Sumatera Utara tidak seburuk dua bongkahan puncak piramida korupsional Indonesia ini (Syamsul Arifin dan Rahudman Harahap).

Baca Juga :  Selamat Tahun Baru 2011 Ma di Hita

Jadi, dalam posisi bukan untuk membela Syamsul Arifin dan Rahudman, saya pun menegaskan kepada Tok Ai bahwa Indonesia memang sedang memilih jalan yang amat payah untuk ditempuh dalam sebuah kegagalan sistem.

Hopless.
Meskipun saya kemukakan bahwa warga kota Medan dan Sumatera Utara hendaknya berharap dan berdo’a agar tahun 2011 lebih baik dari tahun 2010 baik dalam ukuran kuantitatif maupun kualitatif, tetapi jauh di lubuk hati saya yang paling dalam saya sendiri pun tak luput dari kecemasan. Tak lama lagi akan terasalah aroma pemilu yang sudah semakin dekat. Para partisan yang memimpin negeri ini akan “menyandra” kepentingan bangsa untuk kelompok dan jaringan mereka. Dalam kondisi seperti itu, optimisme apakah yang bisa ditegakkan?

*)Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
sohibul Catatan dari Wawancara TOK AIn’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*