Cegah Korupsi Dana Desa Kepdes dan Bendahara Dilatih

(Analisa/tohong p harahap) PAPARKAN: Kasi Pidsus Kejari Gunung Tua Fauzan SH saat bertindak sebagai nara sumber memberikan pemaparan pada acara Sosialisasi UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa di Aula Kantor Bupati Paluta, Senin (11/5).

Paluta, Ratusan Kepala Desa (Kepdes) dan Bendahara Desa di wilayah Padang Lawas Utara (Paluta), mengikuti sosialisasi tentang pencegahan terjadinya korupsi dalam pemanfaatan dana desa yang digelar Bagian Hukum pada Setdakab Paluta, bekerjasama dengan Kejaksaan Negeri Gunung Tua, di Aula Kantor Bupati Paluta, Senin (11/5).

Acara dibuka oleh Asisten I Setdakab Paluta Burhan Harahap SH, menghadirkan pemateri di antaranya staf ahli hukum Setdakab Paluta Anwar Benni, Kepala Inspektorat Paluta Husni Afgani Hutasuhut serta Kasi Pidsus Kejari Gunung Tua Fauzan SH.

Kabag Hukum pada Setdakab Paluta Mandongar Siregar SH bertindak sebagai ketua panitia mengatakan, sosialisasi ini bertujuan untuk peningkatan kapasitas sumber daya aparatur pemerintahan desa (pemdes) dalam rangka pelaksanaan kewenangan pemdes dalam mengelola keuangan desa.

Selain itu, sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran masyarakat umum khususnya perangkat desa mengenai hukum, serta menghindari pelanggaran hukum dalam mengelola keuangan desa agar peruntukan dana tersebut dapat tersalurkan sesuai aturan yang berlaku.

“Memberikan pemahaman hukum dalam mengelola keuangan desa kepada aparat desa, dan memberikan pengertian bahwa inti dari pengucuran dana ini titik beratnya pada pembangunan desa, bukan pemerintahan desa. Jangan sampai karena salah dalam pengelolaan pemerintah desa berurusan dengan aparat penegak hukum,” jelasnya.

Baca Juga :  Hasil Panen Petani Padi Madina Meningkat

Dijelaskan, sosialisasi ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari di tiga tempat berbeda dan untuk hari ini, Senin (11/5) sosialisasi diikuti oleh Kades dan bendahara desa untuk wilayah Kecamatan Padang Bolak dan Kecamatan Dolok Sigompulon.

Kasi Pidsus Fauzan SH dalam pemaparannya menyampaikan, dalam pelaksanaan UU Desa yang paling krusial untuk diperhatikan adalah pemanfaatan dana desa, karena otonomi keuangan yang besar yang dimiliki desa harus di imbangi dengan kemampuan manajemen keuangan dan akuntabilitas pengelolaan dana.

Lanjutnya, hal inilah yang menjadi pembeda dari UU No 6 tahun 2014, karena jangan sampai dana yang telah dimiliki desa diselewengkan oleh oknum tertentu sehingga tersangkut masalah hukum (tindak pidana korupsi).

“Dalam UU Desa itu rawan untuk penyelewengan dana desa, bisa jadi karena disengaja ataupun karena tidak mengetahui, makanya perlu pemahaman yang matang dalam pemanfaatan dana, sebab dana desa itu juga bersumber dari keuangan Negara untuk dipergunakan membangun desa,” paparnya.

Fauzan menjelaskan, dalam menghindari terjadinya penyimpangan penggunaan dana desa perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan antara lain, melakukan perencanaan yang matang dalam pengajuan rencana kerja desa, mencatat setiap kegiatan pembangunan desa dalam pembukuan yang rapi dan tertib, melaporkan secara berkala setiap penggunaan dana desa sebagaimana yang diamanatkan undang-undang serta melakukan koordinasi dengan instansi yang berhubungan dengan desa seperti Badan Pemdes, kantor camat dan yang lainnya manakala ada hal-hal yang secara prinsip untuk diketahui.

Baca Juga :  Rampung, Pembangunan Jembatan Sigiring-giring

Diakhir pemaparannya, dia mengatakan kegiatan sosialisasi UU nomor 6 tahun 2014 tentang desa, diharapkan memberikan persepsi yang utuh tentang desa terutama pemanfaatan dana desa dalam rangka pembangunan desa.

“Dengan adanya dana desa diharapkan pembangunan desa semakin nyata, dan bukan malah sebaliknya, manakala terjadi penyelewengan dana desa, maka harus siap berhadapan dengan penegak hukum, tapi mudah-mudahan tidak terjadi,” pungkasnya. (ong)


Analisa

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*