CERPEN: PERMOHONAN TERAKHIR

admin note: CERPEN ini dikirimkan oleh sdr. Henrikus Pangaribuan pada kami tgl. 12 Oktober 2009, menjadi tugas kami untuk mempublishkannya seperti janji kami pada profil kami di sudut kanan atas…, semoga cerpen ini dapat menorong semangat rekan-rekan pembaca www.apakabarsidimpuan.com untuk menulis, dan mengirimkannya pada kami… he… he… he…

PERMOHONAN TERAKHIR

Oleh: Hendrikus Pangaribuan,

Padangsidimpuan 1985….

Matahari sudah lama terbenam. Bulan purnama mulai naik perlahan-lahan memancarkan sinarnya melalui daun-daun di pekarangan itu. Patudu duduk diberanda depan. Pandangannya nanar ke hamparan bukit Simarsayang. Dari jauh kedengaran suara anak-anak muda bernyanyi. Lagu tentang cinta.

Mendengar lagu itu, Patudu teringat akan masa lalunya dengan Serli. Kata-kata Serli yang terakhir kali masih terngiang jelas ditelinganya.

“Percayalah padaku bang! Hubungan kita tidak sekedar pacaran. Kelak abanglah ayah dari anak-anakku. Kalau kita sudah menikah, kita tidak usah hidup di kota. Kita tinggal di desa saja. Di desa kita akan berkebun dan beternak. Sementara kita merawat tanaman, anak-anak kita riang bermain, indah bukan, bang?”

Tapi apa mau di kata. Impian dan kenyataan tak selamanya berpihak. Serli di jodohkan orang tuanya dengan Rio, paribannya yang tinggal di Belanda. Tinggallah impian abadi jadi kenangan.

Seminggu setelah pernikahan Serli dengan Rio, Patudu berangkat ke Jakarta. Di Jakarta Patudu bekerja sebagai penyanyi dari cafe ke cafe dari bar ke bar. Wajahnya yang ganteng dan bentuk tubuhnya yang atletis membuat banyak gadis-gadis cantik di Jakarta tertarik padanya, tapi tidak satupun yang ditanggapi dengan serius. Surat dari orang tuanya pun tidak pernah di balas. Dan waktu terus berlalu.

Dua puluh tahun di jakarta telah merubah hidup Patudu. Liver stadium empat, komplikasi gagal ginjal dan tipus telah bersarang di tubuh patudu. Dampak dari minuman keras dan sering begadang. Vonis dokter hidup Patudu paling lama lima bulan lagi.

Patudu memutuskan kembali ke Sidimpuan. Tinggal di rumah peninggalan orangtuanya ditemani Palasroha, salah satu putra Kakak sulungnya. Berbagai saran dan bantuan untuk berobat dari keluarga dan family tidak pernah Patudu tanggapi, hanya sesekali Patudu berobat kampung. Tapi kepasrahan terhadap nasib terlihat jelas di wajahnya.

Baca Juga :  Sidik Rahudman, Kejatisu Temukan Rp.5 M

“Belum ngantuk, Tulang?” tanya Palasroha yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.

“Tulang udah makan obat ya?” tanya Palasroha lagi.

“Tulang melamun ya?” Tanya Palasroha mengagetkan.

“Ah.. nggak… jawab Patudu.”

“Kenapa tadi Tulang nggak menjawab pertanyaanku?”

“Pertanyaan apa? Jawab Patudu.

“Nah, Tulang melamun kan?” Jawab Palasroha.

Palasroha menatap wajah Tulangnya. Di kedua bola mata tulangnya mengalir cairan bening mengaca.  Tiba-tiba dada Palasroha berdebar kencang. Ada perasaan lain dari malam-malam sebelumnya.

Melihat wajah Tulangnya, Palasroha teringat kata-kata ibunya.

“waktu kecil, Tulangmu itu sangat rajin membantu oppungmu di sawah, juga membantu bapakmu menderes karet di kebun. Tapi jangan salah, walaupun tulangmu itu sering membantu oppung dan bapakmu, tulangmu selalu membawa buku pelajaran kemanapun pergi. Disamping itu, tulangmu selalu rajin mengulang mata pelajaran di rumah. Makanya tak heran tulangmu itu selalu meraih peringkat satu di sekolah, dari SD sampai SMA.

Suara Tulangmu itu juga sangat merdu dan dia pandai memainkan kecapi, gondang dan seluring. Sering kalau lagi bulan purnama, tulangmu bersama teman-temannya bernyanyi bergembira di halaman. Kalau sudah begitu, orang-orang di kampung kita inipun merasa senang. Makanya tidak heran kalau tulangmu itu disenangin banyak orang. Cuma sayang, cita-cita tulangmu untuk sekolah musik ke Jakarta tidak tercapai. Oppungmu tidak mampu membiayainya. Nah… nanti kamu yang ibu sekolahkan ke sekolah musik. Mungkin bakat musik yang ada padamu juga turunan dari tulangmu itu.

Pada waktu kamu masih berumur 5 bulan, tulangmu itu pergi ke Jakarta. Katanya mengadu nasib. Tapi setahu ibu, tulangmu pergi ke Jakarta karena patah hati ditinggalkan pacarnya si Serli.

Sebenarnya waktu itu, ibu kuatir akan hubungan mereka. Soalnya kita orang miskin sementara Serli itu putri orang kaya. Tanah bapaknya sangat luas di Batunadua Sidimpuan. Bayangkan! Belum ada orang yang punya mobil di kampung ini, bapaknya sudah punya…”

Baca Juga :  Satlantas Polres Tapsel Sebarkan Spanduk dan Baliho Sosialisasi Tertib Lalulintas

“Hmm… Cinta kadang takluk dengan harta dan jabatan.” Desah Patudu.

“Tulang… Aku ikut bergabung bernyanyi bersama teman-teman dulu ya?” Tanya Palasroha.

“Oh.. Iya Bere, tapi jangan lama-lama ya?” Jawab Patudu.

Dipandanginya Palasroha berjalan di pekarangan. Anak yang baik, gumannya.

Malam semakin larut, tapi tubuh Patudu semakin lemah. Tiba-tiba wajah Serli tergambar jelas dihadapannya. Patudu memanggil, tapi Serli tidak menjawab. Dipandanginya wajah Serli dengan sorot mata rindu. Kerinduan yang selama belasan tahun selalu dipendamnya.

Perlahan wajah Serli hilang dari pandangannya yang berganti wajah kedua orang tuanya, tersenyum dan memanggil namanya. Dan Patudu pun beranjak menyambut kedua orang tuanya. Dari jauh kedengaran suara Palasroha bernyanyi….

Sipata di hatuaon kon

Olo do targombar bohimi

Hundul ma au martuktuk hian

Huhut manetek ilukki

Sipata di hasasadaonku

Olo do taringot au tuho

Hu ingot ma akka naung salpu

Tabo ni pargaulanta ujui

Hape laho doho sian lambungki

Naso sian panagaman

Putus ma sude harapanki

Nang hasonangan na di nipikki

Hooo..hooo..hooo

Hooo..hooo..hooo

Nuaeng di ujung ni ngolukku

Hooo..hooo..hooo

Hooo..hooo..hooo

Masihol do rohakku mida hooo

Naing ma nian

Naing ma nian

Pajumpang au dohot ho muse

Naing ma nian

Huida ho

Hutiop tanganmi

Tagam so mate au

Gg. Satahi. Kota Padangsidimpuan

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*