Chevrolet Volt, Bukan Mobil Listrik Biasa – Bagian 1

Kontroversi status Chevrolet Volt apakah sebagai mobil listrik atau hibrida terjawab sudah saat duduk langsung di balik kemudinya. Tak hanya diterangkan langsung oleh ahlinya, Steve L Clarke selaku Wakil Presiden Rekayasa Kendaraan GM International Operations (GMIO), saya juga berkesempatan menjajal langsung mobil yang mulai dijual pada November 2010 di Amerika Serikat ini.

1920113620X310 Chevrolet Volt, Bukan Mobil Listrik Biasa Bagian 1
Foto : Chevrolet Volt diuji langsung kompas.com di Nine Dragon Resort, Provinsi Provinsi Zhe Jiang, China.

Kesempatan mencobanya merupakan rangkaian dari acara Driving Sustainable Mobility di Nine Dragon Resort, Provinsi Zhe Jiang, China.

Seperti diungkapkan Steve, Volt bukanlah kendaraan listrik biasa. “Volt menghadirkan segmen baru di pasar otomotif global sebagai mobil listrik extended range. Bukan sekadar mobil listrik murni, juga bukan mobil hibrida,” ungkapnya. “Mobil ini punya berbagai keunggulan dibandingkan mobil listrik murni,” tambahnya.

Sistem penggerak
Volt menggunakan sistem penggerak Voltec milik GM, terdiri dari motor listrik, generator, dan baterai lithium-ion 16 kWh. Motor listriknya bertenaga 149 PS dan torsi 368 Nm. Saat baterai terisi penuh, Volt bisa digunakan untuk menempuh jarak 40 hingga 80 km atau tergantung kondisi medan, teknik mengemudi, dan suhu udara.

Agar mobil ini bisa menjelajah lebih jauh (extended range), sampai 500 km, tanpa harus mengisi ulang baterai, digunakan mesin bensin 1,4 liter. Mesin bensin ini tugasnya cuma memutar generator yang akan memasok listrik untuk baterai atau langsung ke motor listrik.

“Mobil ini tidak bisa melaju tanpa motor listrik. Motor inilah yang menggerakkan roda dengan pasokan energi dari baterai lithium-ion atau langsung dari generator. Mesin bensin mulai bekerja jika baterai sudah kehabisan energi atau tak sanggup lagi memutar motor listrik. Motor listriklah yang memutar roda,” beber Steve.

Baca Juga :  Cara Install Windows 10 dengan Dual Boot

Di balik kemudi
Tak hanya tampilan eksteriornya yang menarik. Saat memasuki kabin, kesan futuristik langsung hadir. Pada dasbornya terdapat dua layar LCD tujuh inci, satu pada konsol tengah dan satu lagi di panel instrumen.

Warna kontras hitam-putih di interior memberikan kesan menarik pada interior. Meski begitu, plastik-plastik pada mobil yang diuji masih belum  pada kualitas terbaik. “Saat diproduksi nanti akan menggunakan plastik lain dengan tekstur yang berbeda,” ujar Michael Albano, Direktur Komunikasi dan Teknologi GMIO.

Tekan tombol biru start-stop pada konsol tengah, Volt tanpa suara telah siap menjelajah tanpa deru knalpot. Kesan ini sama persis saat saya mencoba mobil hibrida buatan Jepang beberapa bulan lalu. Hanya panel instrumen—menyala—menandakan mobil ini siap dikebut.

Tuas transmisi otomatis konvensional dengan indikator P, R, N, D dan L mudah dijangkau di konsol tengah. Cukup memindahkan tuas ke posisi D, injak pedal gas, dan mobil spontan bergerak. Akselerasi terasa responsif sejak awal karena motor listrik langsung menggerakkan roda depan. Putaran roda kemudi tak terasa ringan, tetapi mantap dan nyaman digenggam.

Pandangan mengemudi luas berkat kaca depan besar dan landai. Pandangan  ke belakang juga lebih luas dibanding hibrida hatchback yang pernah saya coba. Suara yang masuk ke dalam kabin didominasi suara angin dan suara gesekan ban dengan jalan.

Baca Juga :  Tips untuk melindungi USB Flash Drive

Mode pengendaraan
Volt menggunakan tiga mode pengendaraan yang disesuaikan dengan gaya mengemudi dan kondisi jalan: “Normal“, “Sport“, dan “Mountain“.

Mode “Normal” adalah kondisi kerja paling efisien dan sesuai untuk kebutuhan bermobil sehari-hari. Jika ingin performa lebih bertenaga, maka pilih mode “Sport”. Komputer mobil otomatis mengatur respons pedal. Untuk akselerasi, agar lebih responsif, motor listrik menghasilkan tenaga ekstra.

Mode “Mountain” untuk menghadapi medan atau jalanan yang menanjak di pegunungan. Mode ini bekerja dengan mempertahankan pasokan listrik ke baterai dan selalu dalam kondisi optimal. Untuk melaju di tanjakan, baterai akan memasok lebih banyak energi ke motor listrik agar tenaga ekstra bisa dihasilkan. (kompas.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*