Chikungunya resahkan masyarakat Paluta

Warta – Sumut
WASPADA ONLINE
GUNUNG TUA – Penyakit chikungunya atau disebut sebagai flu tulang sangat meresahkan masyarakat kabupaten Padang lawas Utara (Paluta) karena para penderita merasakan nyeri sehingga tidak bisa beraktivitas normal.

Beberapa warga, yang terjangkit chikungunya, tadi malam, kepada Waspada mengaku, sangat tersiksa akibat gejala klinisnya, terutama panas mendadak dan nyeri sendi menusuk tulang belulang.

Seorang warga desa Saba Sitahul-tahul kecamatan Padang Bolak, Firdaus (30) mengatakan, terkejut ketika turun dari tempat tidur, mendadak merasakan ngilu seluruh persendian disertai demam dan pusing serta kaki tidak bisa digerakkan.

Senada dengan itu, Isna Siregar (42) mengaku, persendian kakinya linu dan sakit jika digerakkan. Sehingga, hanya bisa berbaring di tempat tidur. Namun, setelah diberi obat oleh dokter, lambat laun rasa linu itu menghilang.

“Sekarang kaki saya sudah bisa saya digerakkan, namun berjalan dan bekerja belum bisa,” jelasnya.

Ketua Forum Kajian Peduli Padang Lawas Utara, Ramadan Siregar, mengatakan, Dinas Kesehatan dan Sosial Paluta harus mengatasi chikungunya yang melanda warga.

Sementara, kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkessos Paluta, Irwan, mengatakan, dinas kesehatan telah melakukan berbagai langkah mengatasi merebaknya penyakit chikungunya. Untuk memotong siklus peredaran penyakit tersebut, telah dilakukan pengasapan.

Kasus ini, katanya, meningkat seiring peningkatan populasi nyamuk, sementara kesadaran masyarakat memberantas sarang nyamuk (PSN) masih kurang, terutama dengan gerakan 3M (menutup, menimbun, dan menguras).

Baca Juga :  Pemkab Palas akan Rekrut 90 Bides

“Chikungunya disebabkan dan ditularkan oleh gigitan nyamuk, dimana saat musim hujan tiba nyamuk dengan mudahnya berkembang biak di tempat air tergenang seperti parit, gorong-gorong, serta rawa-rawa maupun kaleng-kaleng bekas di sekitar tempat tinggal kita,” ujarnya.
(dat02/waspada)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 13 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*