Cuaca Ekstrim Landa Kota Padang Sidempuan

Awan hitam tampak bergelayut di langit Kota Psp, Sabtu (26/4). Seminggu terakhir, kondisi cuaca terlihat tidak menentu, sebentar panas dan tiba-tiba hujan disertai angin kencang.(Oryza Pasaribu)

SIDIMPUAN – Sudah seminggu lebih, cuaca ekstrim atau tak menentu melanda Kota Psp dan sekitarnya. Menurut data BMKG, kemungkinan cuaca ekstrim ini akan berlanjut hingga dua minggu ke depan.

Selama seminggu ini, dari pagi hingga siang, cuaca terasa panas menyengat. Namun tiba-tiba berganti sejuk disertai pemandangan awan yang berubah warna menjadi hitam, dan disertai dengan angin kencang, hujan pun turun dengan lebatnya.

“Memang sejak beberapa hari belakangan ini cuaca tak menentu, disertai cuaca panas terik. Tapi, pada sore dan malam hari, hujan deras disertai angin kencang,” ujar Kabid Data dan Informasi BMKG Wilayah 1 Medan, Hendra Suwarta, Sabtu (26/4).

BMKG pun mengimbau masyarakat berhati-hati saat terjadi hujan deras disertai angin kencang karena mampu memporak-porandakan atap rumah serta memicu terjadinya pohon tumbang.

BMKG mengatakan, cuaca ekstrem di Medan dan sekitar Sumatera Utara ini, masih akan terus berlanjut hingga dua minggu ke depan.

Hal tersebut disebabkan angin barat yang berhembus Sesuai dengan data yang terlihat di situs BMKG, Sabtu (26/4), terjadinya cuaca ekstrim disebabkan adanya daerah tekanan rendah di Laut Arafura.

Tumpunan angin memanjang dari Samudera Hindia sebelah Barat Bengkulu hingga Kalimantan Bagian Selatan dan dari Laut Timur hingga Pesisir Barat Papua. Kelembaban udara cukup tinggi serta suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia yang hangat, mempengaruhi pertumbuhan awan hujan di sebagian daerah Sumatera.

Terapkan PHBS

Perubahan cuaca dalam seminggu terakhir yang melanda wilayah Kota Psp akan dapat menyebabkan kondisi kesehatan semakin menurun. Apabila tidak diantisipasi dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam lingkungan khususnya disekitar rumah.

Baca Juga :  Barton-Carroll Paksa Liverpool Bertekuk Lutut

Sebab perubahan cuaca akan dapat menyebabkan kondisi kesehatan menurun dan tubuh rawan infeksi dari penyakit demam, fluenza, DBD, diara, saluran pencernaan, dan lainnya yang menyangkut dengan perubahan cuaca.

[iklan size=’kiri’]Akan tetapi yang perlu diperhatikan, untuk menghindari adanya penyakit yang timbul akibat perubahan cuaca ini, kebersihan di dalam lingkungan dan di dalam rumah perlu dijaga. Karena kebersihan lingkungan salah satu pengaruh yang dapat mengantisipasi timbulnya berbagai macam penyakit.

“Pagi hingga siang hari cuaca masih panas, namun tiba sore hari hingga malam cuaca berubah menjadi hujan ditambah dengan cuaca dingin.

Perubahan cuaca secara tiba-tiba akan dapat berakibat terhadap daya tahan kita, kalau kita tidak mengantisipasi atau memperhatikan kondisi kesehatan dengan baik. Sedangkan sisi kebersihan lingkungannya ialah kebersihan dari sampah-sampah yang menumpuk, sampah yang ada di got, dan lainnya yang dapat mengundang berbagai macam penyakit termasuk demam berdarah,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Psp Letnan MKes, Sabtu (26/4).

Dia menambahkan, selain makanan yang seimbang, masyarakat juga harus selalu mengantisipasi kebersihan lingkungan dari sampah-sampah kotor yang dapat membuat sarang dari nyamuk-nyamuk.

Sebab nyamuk tersebut akan rentan menyebabkan penyakit Demam Berdarah (DBD), khususnya terhadap anak-anak dibawah umur. Untuk itu perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pola perilaku hidup bersih dan sehat.

“Salah satunya, jangan lupa menukar air yang ada di dalam bak kamar mandi dan minimal 2 kali dalam sehari. Apabila bak mandi tersebut bisa ditutup, sebaiknya ditutup guna untuk tetap mengantisipasi kesehatan didalam keluarga tersebut.

Kemudian hindari mengkonsumsi air yang tidak dimasak dengan suhu rata-rata 100 derajat celcius, karena air yang dikonsumsi tersebut akan rawan terhadap saluran pencernaan dan dapat menyebabkan diare apabila perubahan cuaca masih terjadi,” tuturnya.

Baca Juga :  Manager PT AR Dituntut 5 Bulan Penjara, Denda Rp 500 Juta Akibat Mengusir Wartawan

Kemudian, PHBS adalah wujud pemberdayaan masyarakat yang sadar dan bersedia mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam hal ini, ada lima kategori yang termasuk PHBS, yaitu KIA, Gizi, Kesehatan Lingkungan, Gaya Hidup, Dana Sehat atau Asuransi Kesehatan. “Perubahan cuaca disini ialah kategori kesehatan lingkungan, namun walaupun kondisi cuaca tetap normal diharapkan masyarakat agar tetap menjaga kondisi kesehatan tubuh.

Kemudian menerapkan program yang diberikan pemerintah, seperi penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian masyarakat akan dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri terutama dalam menerapkancara hidup sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya,” tuturnya.

Sementara itu Juni Nasution salah seorang warga mengatakan, selama perubahan cuaca berlangsung, Ia sengaja mengantisipasi kesehatan dengan tidak banyak melakukan aktivitas di luar rumah. Kemudian menjaga kebersihan lingkungan khususnya di dalam rumah.

“Untuk menjaga kondisi kesehatan, kita harus membagi-bagi waktu untuk keluar rumah. Kemudian di dalam rumah terus dibersihkan sehingga terhindar dari ancaman penyakit DBD, dan fluenza ataupun gangguan saluran pencernaan. Karena sebelumnya saya pernah mengalaminya, makanya saya bisa mengantisipasinya,” jelasnya. (bsl/yza) (Metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*