Curah Hujan Tinggi Hingga Oktober Tapsel Berpotensi Banjir & Longsor

29082012 25 Curah Hujan Tinggi Hingga Oktober Tapsel Berpotensi Banjir & Longsor
(Foto: Marihot Simamora)
Suasana di Jalinsum Km 7 Desa Simaninggir, Kecamatan Sitahuis, Tapteng, paska longsor terjadi, Selasa (28/8).

MEDAN– Curah hujan tinggi  diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober mendatang. Curah hujan tinggi tersebut, berpotensi banjir dan longsor, khususnya dikawasan Daerah Aliran Sungai (DAS). Sehingga masyarakat diharapkan mewaspadai curah hujan tinggi yang melanda daerah Sumatera Utara.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Data dan Informasi Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Mega Sirait, saat dikonfirmasi Selasa (28/8). “Sementara daerah yang berpotensi longsor adalah kawasan pegunungan seperti Dairi, Tanah Karo, Tapanuli Utara (Taput), Tapteng dan Tapsel. Setelah kita deteksi, curah hujan di wilayah Sumut semakin meningkat dengan intensitas hujan yang sedang, hingga lebat. Ini diperkirakan akan terjadi hingga Oktober medatang dan hampir merata ke seluruh wilayah di Sumut,” terang Mega.

Potensi dan peluang hujan lebat ini, bilang Mega, terjadi akibat wilayah Sumut sudah memasuki musim penghujan yang dimulai pada akhir Agustus ini sampai bulan September. Selain itu, di wilayah Sumut masih terbentuk daerah arus udara masuk atau konvergen sehingga kandungan uap air di udara sangat tinggi.

“Tidak hanya memasuki musim penghujan. Di wilayah Sumut juga masih ditemukan pembentukan konvergen di udara sehingga udara menjadi labil dan pembentukan awan sangat kuat. Awan yang mulai terbentuk ini sangat tebal dan puncaknya sangat tinggi sehingga durasi terjadinya hujan atau volume hujan cukup lama dan lebat,”sebutnya lagi. Masih menurut Mega, hujan terjadi sore jelang malam hari bahkan hingga pagi hari.

Selain itu jelasnya, di sisi wilayah dataran tinggi hujan yang terjadi cukup merata ini sangat lebat di pegunungan (hulu). Sehingga, peluang terjadinya banjir seperti beberapa hari ini khususnya pemukiman di kawasan DAS masih sangat besar terjadi. “Peluang dan potensinya cukup besar terjadi mengingat di hulu terjadi hujan lebat. Jadi, sangat berpeluang terjadinya banjir kiriman dari hulu ke hilir khususnya jalur DAS. Oleh karena itu, masyarakat yang bermukim di bantaran sungai atau DAS harus tetap waspada akan naiknya debit air sungai yang bisa mengakibatkan banjir,” ungkapnya mengakhiri.

Lumpuh 8 Jam, Antrean 4 Km
Sementara itu, Jalinsum Sibolga-Tarutung tepatnya di Km 7, Desa Simaninggir, Kecamatan Sitahuis, Tapteng lumpuh total selama delapan jam, Selasa (28/8). Jalinsum tertimbun tanah longsor hingga tidak bisa dilalui sejak pukul 01.00 WIB hingga 09.15 WIB. Informasi dihimpun METRO, longsornya tebing dan pebukitan disertai pepohonan yang menimbun seluruh badan jalan terjadi setelah hujan mengguyur daerah tersebut sejak beberapa hari terakhir. Akibatnya, jalinsum macet sepanjang sekitar empat kilometer, sebab tidak satu pun mobil yang dapat melintas. Sementara bantuan dari Dinas PU Tapteng dan PU Provinsi terlambat datang untuk menangani bencana tersebut.

Pantauan wartawan koran ini di lapangan, jalan negara itu baru dapat kembali dilalui pada pukul 09.15 WIB, setelah puluhan personel Polres Tapteng dibantu beberapa aparat TNI dan masyarakat berupaya menyingkirkan reruntuhan tanah longsor yang disertai pepohonan dengan menggunakan peralatan seadanya.

Baca Juga :  KPU: Usulan Anggaran Pilkada Tapsel telah Sesuai

Kemacetan ini membuat para pengguna jalan sangat kecewa, khususnya para pedagang sayur mayur yang biasanya harus tiba di pasar Sibolga pada pagi harinya. Demikian juga para penumpang bus lainnya yang harus siap menahan lapar hingga siang hari. Kekecewaan ini pun diungkapkan para sopir yang antre sejak dini hari.

“Dari jam 1 kami di sini, sekarang sudah jam 9, namun belum juga bisa lewat,” ujar Dorman (25-an) pengemudi mobil pick-up L300 BK 9215 CJ saat diwawancarai di tengah kemacetan, Selasa (28/8). Hal senada disampaikan Joni (38) sopir truk colt diesel BB 9285 FA, yang juga sedang membawa sayur mayur menuju Sibolga. Truknya merupakan kendaraan kedua di urutan kemacetan. Joni mengaku sudah terjebak macet sejak pukul 02.00 WIB.  “Terpaksalah nginap di sini lae. Mudah-mudahan saja (macetnya, red) jalan ini secepatnya selesai, kami sudah sangat lama menunggu. Sampai sekarang pun belum ada alat berat yang membantu,” tutur Joni kesal.

Diketahui, longsor yang terjadi di Jalinsum Sibolga-Tarutung terjadi pada dua titik. Setelah longsor di Km 7, mendadak terjadi longsor juga di Km 12. Tepatnya sekira 100 meter dari puncak GM. Longsor kedua ini diketahui terjadi sekira pukul 06.30 WIB. Meskipun tidak terlalu parah, namun mobil seukuran colt diesel tidak dapat melintas. Sebab semua badan jalan ditimbun reruntuhan tanah, hanya mobil berukuran kecil saja yang dapat melintas dengan melalui beram jalan.

Informasi dihimpun METRO, meskipun longsor yang terjadi di Km 12 sudah dapat dilalui sekira pukul 08.30 WIB, namun beberapa pengendara kendaraan memilih bersabar menunggu. Bahkan, sebagian besar dari mereka sengaja kembali dari kemacetan yang terjadi di Km 7. Mereka mengatakan, beberapa dari mereka memilih kembali ke daerah yang lebih aman, sebab selain keadaan masih macet, mereka sangat khawatir berada di bawah tebing yang sewaktu-waktu bisa longsor.

“Awalnya saya sudah tiba di Batu Lubang sekira pukul 02.00 WIB. Namun akibat kemacetan, saya memilih untuk kembali ke puncak GM. Selain untuk mencari tempat yang aman dan makanan, kita khawatir karena saat itu masih hujan deras. Sementara di daerah Batu Lubang ini termasuk daerah rawan longsor,” terang Candra Aritonang (32) salah seorang pengemudi saat ditemui di puncak GM menunggu antrean.

Diterangkan Candra, saat dirinya berada di salah satu warung, tiba-tiba saja bukit yang berada sekitar 20 meter dari tempatnya mengantre longsor.  “Saat kami kembali, memang sudah ada longsor, tapi hanya setengah badan jalan saja. Terus, sekitar pukul 06.30 WIB, bukit itu kembali longsor dan menutup seluruh badan jalan. Hingga pukul 08.30 WIB, alat berat dari arah Tarutung tiba dan membersihkan material longsor dari badan jalan. Padahal sejak pukul 01.00 WIB sudah ada longsor. Seharusnya dinas terkait sudah harus standby di daerah ini, apalagi saat musim hujan. Semua yang antre terancam,” bebernya kesal.

Baca Juga :  Makam Kuburan Etnis Tionghoa SadabuanPanyanggar Dipasang Plang Merek Hak Milik Oleh Masyarakat dan Keturunan Oppu Napotar

Diketahui, Jalinsum Sibolga-Tapteng merupakan daerah rawan longsor. Terutama di sepanjang jalan Km 3 hingga Km 12, atau di daerah Batu Lubang. Ini merupakan longsor yang kesekian puluh kalinya terjadi. Meskipun longsor ini tidak memakan korban jiwa, namun pengguna jalan yang melintas di daerah ini sangat was-was, apalagi saat musim penghujan. Kasat Lantas Polres Tapteng AKP Edy Suddrajat saat ditemui METRO di lokasi longsor menuturkan, informasi adanya longsor tersebut baru diterimanya sejak pukul 06.30 WIB.

“Setelah adanya laporan dari masyarakat, kita langsung turun ke lokasi bersama beberapa personel. Kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi kemacetan,” tutur Edy. Pada kesempatan itu, dirinya mengimbau kepada pengendara untuk tetap hati-hati dalam melintas. “Kita harap mereka bersabar, namanya juga bencana alam,” terangnya.

Terpisah, PPK 12 Pelaksana Jalan I Wilayah II Balai Pelaksana Jalan I Medan Duhuaro Dachi saat dihubungi mengakui ada sedikit keterlambatan datangnya alat berat untuk membersihkan material longsor. Namun itu terjadi karena keberadaan alat berat tersebut cukup jauh dari titik longsor. “Ya memang tadi alat berat agak lama tiba di titik longsor. Itu karena posisi stand by-nya agak jauh dari lokasi. Tapi sekarang badan jalan sudah dapat dilewati. Material longsornya sudah dibersihkan,” ujar Dachi yang dihubungi sekira pukul 15.00 WIB.

Dia menambahkan, dalam beberapa hari ke depan, pihaknya akan men-stand by-kan dua unit alat berat di Km 5 Desa Simaninggir Kecamatan Sitahuis.  “Diprediksi potensi hujan masih tinggi. Makanya alat berat di-stand by-kan,” pungkasnya.  (uma/cr1/mora/smg)

Sumber: www.metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*